Edisi 12-01-2017
Kerabat Ban Ki-moon Terlilit Skandal Penyuapan


SEOUL - Pengadilan federal Manhattan, Amerika Serikat (AS), memeriksa kasus penyuapan yang melibatkan adik kandung mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa- Bangsa (Sekjen PBB) Ban Kimoon, Ban Ki-sang, dan putranya, Joo Hyan ”Dennis” Bahn.

Ki-sang dan Dennis dituduh terlibat dalam penyuapan seorang pejabat Timur Tengah untuk penjualan kompleks gedung senilai USD800 juta di Vietnam. Media Korsel sebelumnya melaporkan berbagai kontroversi tentang kaitan Ban dengan kerabatnya tersebut. Pada September pengadilan distrik Seoul memerintahkan keponakan Ban membayar ganti rugi sipil senilai USD590.000 pada perusahaan konstruksi Keangnam Enterprises.

Pengadilan Seoul juga menyatakan, Dennis melakukan penipuan untuk membuat Keangnam percaya bahwa Otoritas Investasi Qatar segera membeli gedung pencakar langit di Vietnam. Menurut laporan BBC, kejaksaan di pengadilan Manhattan menyatakan, pada awal 2013 Keangnam terlilit utang yang semakin banyak dan ingin menjualkompleks gedungdiVietnam yang disebut Landmark 72.

Kisang merupakan salah satu eksekutif di Keangnam. Pada dokumen dakwaan halaman 39 yang dirilis di pengadilan Manhattan, kejaksaan menuduh Ki-sang dan Dennis mendapat komisi jutaan dolar dalam penjualan kompleks gedung tersebut. ”Dua pria itu membayar jutaan dolar untuk suap dan mencoba memanfaatkan nama keluarga Korsel mereka untuk meyakinkan pejabat Timur Tengah agar membeli kompleks gedung itu dengan dana kesejahteraan negara di Timur Tengah itu,” ungkap para pejabat AS, dikutip BBC .

Dokumen federal menyebutkan, dua orang itu berupaya menyusun pertemuan untuk membahas kesepakatan itu dengan kepala negara di Timur Tengah saat kunjungannya ke New York, bertepatan dengan pertemuan Sidang Umum PBB. Dokumen itu tidak menyebutkan nama negara tersebut.

Menurut dokumen dakwaan, penyuapanawal USD500.000 dibayarkan pada pebisnis AS Malcolm Harris yang memosisikan diri sebagai agen pejabat itu. Dana suap USD2 juta lainnya dijanjikan saat kesepakatan penjualan itu selesai. Sementara, juru bicara Ban, Lee Do-woon, segera menyatakan bahwa Ban tidak terkait dengan kasus penyuapan tersebut. ”Ban sangat terkejut dengan berita yang dia ketahui dari media itu.

Dia tidak tahu apa pun tentang itu,” papar Lee. Lee juga menjelaskan, Ban akan mengatasi berbagai masalah saat tiba di Korea Selatan (Korsel) yang sedang mengalami krisis politik akibat skandal korupsi yang melibatkan Presiden Park Geun-hye dan teman dekatnya. Presiden Park saat ini didesak mundur dan popularitas Ban meningkat sebagai salah satu calon presiden Korsel. Meski demikian, Ban belum secara resmi menyatakan keinginannya menjadi calon presiden.

arvin