Edisi 24-04-2017
Kebanggaan sang Juara


Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo muncul sebagai harapan baru Indonesia untuk mendulang medali di sektor ganda putra.

Penerus Markis Kido/Hendra Setiawan ini dengan lugas memberi jawaban atas kepercayaan pelatih dan juga pencinta bulu tangkis di Tanah Air. B agaimana tidak, tahun ini sudah tiga gelar mereka raih. Hebatnya lagi, titel All England 2017, India Open Super Series 2017 serta Malaysia Open Super Series Premier 2017 direbut secara beruntun alias hattrick. Total, pebulu tangkis yang baru dipasangkan dua tahun ini sudah mengoleksi delapan gelar.

Sebelum berjaya di All England, India Open serta Malaysia Open, Marcus/Kevin mendominasi Chinese Taipei Grand Prix 2015, Malaysia Open Grand Prix Gold 2016, India Open Super Series 2016, Australia Open Super Series 2016, dan China Open Super Series Premier 2016. Dengan mengandalkan permainan supercepat, keduanya masih haus prestasi. Kejuaraan Dunia di Glasgow, Skotlandia, Agustus mendatang, mereka bidik sebagai target besar tahun ini.

Bagaimana Marcus/Kevin menanggapi kemenangan serta sambutan para fans bulu tangkis yang menaruh harapan besar pada mereka? Apa pula yang keduanya lakukan saat berada di luar lapangan? Simaklah obrolan singkat KORAN SINDO dengan pasangan bulu tangkis terbaik dunia ini.

Bagaimana perasaan Anda atas prestasi hattrick yang dicapai pada Maret dan April kemarin?

Kevin: Senang, tapi menurut kami itu masih biasa. Masih banyak (pebulutangkis) yang mempunyai prestasi bagus. Itu memicu kami. Maksudnya, masih banyak yang harus dibenarkan dalam cara bermain kami. Marcus: Pastinya senang dan bangga.

Bagaimana awal mula Anda berdua dipasangkan? Bagaimana pula sifat pasangan Anda?

Kevin: Awalnya partnersaya cedera. Lalu, Marcus masuk Pelatnas, dan kami pun dipasangkan. Menurut saya, Marcus itu adalah pemain yang selalu mau bekerja keras dan mempunyai kemauan yang tinggi. Marcus: Kevin itu masih muda. Cita-citanya masih banyak. Walaupun sudah banyak gelar superseries yang didapat, tapi masih mau mengejar yang lain. Tidak gampang puas.

Bagaimana kedekatan kalian di luar lapangan? Apa saja yang dilakukan saat sedang tidak latihan?

Marcus: Biasa saja, (kami) juga dekat sama seperti teman- teman lain. Kami di sini berbaur. Bukan karena kami dipasangkan jadi ke manamana berdua gitu, ya enggak. Kami terbiasa bersama-sama semua. Kalau lagi enggak latihan, saya senang mendengarkan musik. Musik apa saja yang penting enak didengar. Kevin: Kalau saya lebih suka bermain game di smartphoneataupun di laptop.

Selanjutnya ada beberapa agenda penting bulutangkis, salah satunya Kejuaraan Dunia 2017 (Total BWF Badminton World Championships) di Glasgow. Bagaimana persiapan kalian?

Kevin: Persiapan kami harus lebih dari sebelum-sebelumnya. Apalagi untuk menghadapi Kejuaraan Dunia, harus siap dalam segala hal, skill, mental, teknik, dan fisik.

Pada turnamen terakhir, Singapore Open Super Series 2017, kalian harus gugur di semifinal dari pasangan Denmark (Mathias Boe/Carsten Mogensen). Apa karena lawan pemain Eropa lebih sulit?

Marcus: Tidak juga, hanya saja kemarin waktu di Singapura sudah turnamen keberapa tahun ini. Tenaga kami sudah berkurang, jadi memang sangat berat bagi kami. Sementara mereka juga sedang dalam performa bagus.

Menurut kalian siapa pasangan terberat yang pernah dihadapi selama bermain bersama?

Marcus : Sebenarnya semua lawan sama. Sekarang ini, mungkin China boleh dibilang berat.

Bagaimana dengan Badminton Asia Championships 2017 yang akan segera digelar?

Marcus: Kami tidak ikut. Kevin: Kami tidak diberangkatkan, tapi tetap latihan. Mengembalikan kondisi dulu, kalau ikut fisik kami bakal lebih lelah. Baru pulang dari Singapura Senin (17/4), terlalu mepet kalau harus berangkat lagi. Keputusan ini dari semua pihak. Saya pribadi belum benarbenar siap, kalau ke sana enggak maksimal juga percuma. Kami di Pelatnas enggak libur, tetap latihan, cuma lebih santai. Kalau latihan hanya letih badan saja. Sementara kalau turnamen capek pikiran juga karena harus fokus. (Untuk Badminton Asia Championships 2017, selain Marcus/Kevin, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan ganda putri Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani juga absen).

Apakah atlet menjadi cita-cita kalian sejak kecil?

Marcus: Dari usia delapan tahun saya sudah mulai serius main bulutangkis. Papa saya atlet juga, pelatih bulutangkis. Kevin: Saya dikenalkan dengan bulu tangkis sejak usia 3,5 tahun. Saya masuk klub dan mempunyai pelatih sendiri pada usia lima tahun.

Pernah tidak kalian merasa jenuh latihan? Apa yang dilakukan kalau sudah merasa bosan?

Kevin: Pasti ada kebosanan karena setiap hari melakukan hal yang sama. Sewaktu-waktu, rasa malas untuk latihan muncul juga. Marcus: Iya, suka merasa bosan tapi dinikmati saja. Ini sudah menjadi pekerjaan kami. Kalau sedang jenuh, seru-seruan dengan teman-teman yang lain di sini. Kami kan di sini selalu ramai, ya saling bercanda saja.

Bagaimana menghadapi fans? Seberapa besar pengaruh suporter saat sedang bertanding?

Marcus: Menurut saya berpengaruh. Tapi, kadang kalau terlalu berharap kami untuk menang malah membuat saya bermain enggak enak. Teriakan yang terlalu berlebihan jadi membuat saya terus melakukan smash, tidak dapat mengontrolnya.

Bagaimana komunikasi dengan keluarga, terutama sebelum bertanding?

Marcus: Rumah saya kan dekat, di Jakarta juga. Terkadang setiap akhir pekan saya pulang, kembali lagi ke Pelatnas Senin pagi. Kevin: Saya pasti berkomunikasi sebelum bertanding, memberi kabar kepada keluarga. Kalau ditayangkan langsung di televisi, pasti mereka lebih tahu dan menonton bersama-sama.

Apa pesan kalian untuk generasi muda Indonesia khususnya bagi mereka yang ingin menjadi atlet?

Kevin: Jangan setengahsetengah. Jika memang ingin jadi atlet, harus selalu melakukan yang terbaik. Harus total dalam segala hal. Marcus: Selalu isi waktu dengan sesuatu yang berguna secara maksimal.

Ananda nararya