Edisi 20-03-2017
Malaysia Buru Tersangka Baru


KUALA LUMPUR – Daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam bertambah. Polisi Malaysia mengatakan satu dari beberapa tersangka baru tersebut merupakan orang penting.

Kepala Polisi Malaysia Khalid Abu Bakar menerangkan, penangkapan itu akan dilakukan di saat yang tepat. Namun, dia menolak membeberkan lebih jauh mengenai rincian operasi penyelidikan itu. ”Meski saya tidak dapat mengungkapkan siapa mereka, kami yakin di antara mereka ada orang penting,” ujar Khalid, kemarin, dikutip Reuters. Dia menambahkan, di dalam daftar DPO baru itu terdapat warga negara Korea Utara (Korut). Polisi Malaysia akan menggunakan semua langkah hukum yang ada untuk memuluskan penangkapan itu.

Sejauh ini mereka menahan empat orang. Dua orang sudah dibebaskan, sedangkan dua lagi akan menjalani sidang bulan depan. Tujuh tersangka lainnya yang masih buron sampai saat ini gagal ditangkap. Empat di antaranya diduga melarikan diri ke Pyongyang, Korut, sesaat setelah Jong-nam tewas pada 13 Februari lalu. Adapun tiga lainnya diyakini masih berada di Malaysia dan bersembunyi di Kedutaan Besar (Kedubes) Korut untuk Malaysia di Kuala Lumpur. Polisi Malaysia menyatakan Jong-nam tewas akibat terkena racun agen syaraf VX saat hendak pulang ke Makau di Bandara Internasional Kuala Lumpur.

Racun mematikan itu dioleskan seorang perempuan asal Indonesia, Siti Aisyah dan asal Vietnam, Doan Thi Huong. Keduanya terancam dihukum mati setelah didakwa pasal pembunuhan. Namun, pemerintah Korut berulang kali meragukan VX sebagai penyebab tewasnya Jong-nam, sebab Aisyah dan Huong juga dipastikan terkena dampaknya. Mereka berpeluang besar tewas karena VX langsung bereaksi saat mengontak kulit.

Sebelumnya, Khalid pernah mengatakan satu dari dua wanita itu sempat muntah-muntah. Lebih dari sebulan, perdebatan tersebut tidak menemukan titik temu. Para ilmuwan juga berpikir keras bagaimana senjata pemusnah massal itu dapat digunakan tanpa membunuh yang lain. ”Kita akhirnya membangun spekulasi di atas spekulasi untuk menjelaskan apa yang terjadi,” ujar ahli senjata kimia dan biologi, Jean-Pascal Zanders.

Senada dengan Zanders, ahli spesialis molekuler kimia dari Universitas Birmingham, Simon Cotton, juga tidak bisa menjelaskan secara pasti apa yang terjadi. Pasalnya, polisi Malaysia tidak mengungkapkan aspek penting lainnya seperti jejak VX di pakaian atau di tempat kejadian perkara (TKP). Padahal, hal tersebut tidak dapat diabaikan. ”Saya juga akhirnya tidak mengerti bagaimana dua tersangka perempuan itu tidak terkena langsung efek mematikan VX dengan dosis tinggi,” kata Cotton.

Pemerintah Korut juga sebelumnya meminta seluruh tersangka yang ditangkap, termasuk Aisyah dan Huong dibebaskan, sebab Jong-nam diduga kuat tewas akibat serangan jantung. Namun, beberapa ahli tetap memberikan hipotesisnya masing-masing. Seorang profesor dari Universitas Harvard, Matthew Meselson, menduga VX yang digunakan merupakan gabungan dari dua jenis zat kimia sehingga reaksinya lambat. Dengan demikian, dua tersangka perempuan dapat bergegas melarikan diri dan membasuh tangan.

Satu tetes VX dapat membunuh dalam sekejap saat dihirup. Adapun penetrasi melalui kulit memakan waktu lebih lama. Jong-nam berpeluang hidup dan hanya merasakan sakit jika seseorang segera menyuntikkan penawar atropin. Dia juga bisa membersihkan mukanya dengan air atau tisu, tapi tidak ada yang tahu korban diracun. ”Jika dia membasuh mukanya dengan air atau membersihkannya dengan tisu, eksposur zatnya akan berkurang. Dia mungkin akan mengalami sakit dan mampu bertahan hidup,” ujar Meselson.

Bagaimanapun, teori itu tidak dapat menjelaskan bagaimana tim medis yang merawat korban dapat terhindar dari kontaminasi.

Muh shamil