Edisi 20-02-2017
Kepala Sekolah Motor Pendidikan Karakter


JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menekankan peran penting kepala sekolah dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolah dasar dan menengah.

Saat ini bukan waktunya lagi kepala sekolah sekadar bisa berceramah dan memberi motivasi. Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, saat ini program PPK sedang diuji coba di ratusan sekolah di Indonesia. Dia mengajak para kepala sekolah mendukung program ini untuk mempersiapkan generasi penerus yang memiliki karakter baik dan kuat. “Bapak-ibu (kepala sekolah) harus mendorong agar guru tidak sekadar ceramah di kelas tapi menjadi inspirator dan pendidik,” katanya di Jakarta kemarin. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menjelaskan, berbagai aktivitas di luar kelas akan membuat pendidikan karakter di sekolah terasa menyenangkan.

Aktivitas berbasis lingkungan semisal bermain peran, berkolaborasi menyelesaikan suatu proyek dapat dilakukan dan anak-anak akan menyenanginya. Jika karakter baik tertanam sejak dini di diri anak-anak Indonesia, sampai dewasa karakter ini akan melekat dan menentukan keberhasilan generasi muda di masa depan. “Karakter ini memiliki daya tahan yang tinggi dan akanmenentukan keberhasilan mencapai apa yang mereka cita-citakan,” urainya.

Muhadjir menambahkan, penguatan pendidikan karakter di jenjang pendidikan dasar merupakan salah satu prioritas pemerintah saat ini. Porsi pendidikan karakter lebih besar bila dibandingkan dengan aspek pengetahuan, di tingkat SD sebesar 70% dan di SMP 60%. Direktur Global Sevilla School Robertus Budi Setiono menjelaskan, meski sekolahnya berstatus satuan pendidikan kerja sama (SPK/- dulu sekolah internasional), pendidikan karakter berbasis lokal selalu diajarkan kepada siswanya.

“Kami selalu ajarkan beri pandangan mereka (siswa) seluas dunia tapi beri hati mereka seluas Indonesia,” sebutnya. Robert menerangkan, tahun ini sekolahnya menampilkan teater Malin Kundang. Teori PPK mengajak siswa aktif dalam lingkungan, menurutnya, dapat diwujudkan melalui teater ini. Menurut dia, siswa melakukan survei langsung ke Padang untuk belajar tentang legenda tersebut. Proses penulisan lagu, aransemen hingga penulisan naskah pun melibatkan siswa.

Hal ini bertujuan agar siswa bisa mengekspresikan talenta mereka sehingga kepercayaan diri mereka pun meningkat. Robert menjelaskan, dari penelusuran legenda yang dilakukan siswa ke Padang siswa mengetahui bahwa di Padang dikenal budaya matrilineal dan lelaki pergi merantau. “Menurut anak Minang ibu tidak pernah mengutuk anaknya. Tuhan dan alamlah yang mengutuk Malin menjadi batu di saat ibunya berdoa agar anaknya mau kembali ke ibunya,” papar dia.

Robert menjelaskan, teater kebudayaan Indonesia setiap tahun selalu diadakan. Sebelumnya teater mengetengahkan legenda Rama Shinta, lalu Bawang Merah dan Bawang Putih. Tahun depan kemungkinan kebudayaan Aceh yang akan ditampilkan. Dia menjelaskan, dengan adanya teater ini siswa tidak hanya belajar cerita kearifan budaya luar negeri, melainkan juga kebudayaan asli Indonesia.

Neneng zubaidah