Edisi 21-04-2017
Macet Masih Pelik, Banjir Tetap Mengintai


Berbagai persoalan berat menanti gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2017-2022. Duet gubernur-wakil gubernur harus mampu memecahkan permasalahan ‘menahun’ Ibu Kota seperti kemacetan, banjir dan kemiskinan.

PERSOALAN MACET

Persoalan kemacetan sepertinya tetap menjadi persoalan klasik yang harus segera dicari solusi ampuh. Pertumbuhan kendaraan pribadi dan motor, kualitas infrastruktur jalan serta tersedianya angkutan umum massal yang memadai dan nyaman menjadi persoalan turunan dari masalah macet ibu kota.

Mengutip data di http://data.jakarta.go.id, selama tujuh tahun sejak 2008-2014, rata-rata penambahan jumlah mobil di Jakarta mencapai 389 unit per hari. Selama periode itu juga jumlah kendaraan pribadi telah bertambah 58% dari 6,26 juta unit kendaraan menjadi 9,9 juta unit. Sedangkan pertambahan jumlah motor mencapai 1.216 unit per hari. Dengan pertumbuhan mobil dan juga sepeda motor yang luar biasa tersebut implikasinya membuat jalanan di Jakarta menjadi penuh sesak. Konsekuensi logisnya, kemacetan semakin parah, sebab kenaikan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta ternyata tidak diimbangi

Data angkutan umum

• Saat ini ada 33 perusahaan angkutan yang melayani transportasi di Jakarta.
• Dari jumlah itu, sebanyak 1.358 merupakan bus kota, 193 bus APTB, dan sebanyak 859 unit busway
• Jumlah angkutan umum baik angkutan kota, bus kota, APTB, hingga busway yang melayani transportasi warga Jakarta hanya bertambah 27% dari 88,4 ribu armada menjadi 112,7 ribu armada.

PERSOALAN PENGANGGURAN, KESENJANGAN DAN KEMISKINAN

Menurut data BPS, pada akhir 2016, tingkat pengangguran terbuka di DKI Jakarta meningkat menjadi 6,12%, setelah sebelumnya pada Februari 2016 bisa ditekan menjadi 5,76%. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan ini harus dicarikan solusi pemimpin Jakarta 5 tahun kedepan.

Jumlah penduduk miskin

1. Jumlah warga miskin per September 2014 mencapai 412.700 orang atau 4,09%.
2. Berdasarkan data per 3 Januari 2017, jumlah penduduk miskin pada September 2016 sebesar 385.84 ribu orang atau 3,75%.
3. Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 384.300 orang atau 3,75%.
4. Jumlah penduduk miskin pada September 2015 mencapai 368.670 orang atau 3,61%.

PERSOALAN BANJIR Pembebasan lahan di bantaran Ciliwung

Pemerintah DKI juga merencanakan relokasi pemukiman warga di sepanjang Kali Ciliwung. Rumah warga ini disebut menjadi faktor utama pendangkalan sungai secara drastis. Maka, upaya relokasi warga dilakukan agar proyek normalisasi Kali Ciliwung segera terlaksana. Ada dua wilayah di DKI yang akan dibebaskan lahannya: Kampung Melayu dan Bidara Cina.

Warga tak tertib buang sampah

Sampah masih menjadi penyebab nomor satu banjir di ibu kota. Sebabnya, warga DKI masih minim kesadaran akibat buang sampah sembarangan. Pada 2013, warga DKI memproduksi limbah sampah mencapai 6.500 ton sehari, dan meningkat menjadi 7 ribu ton per hari pada 2014. Bila sampah itu disebar rata, maka akan menutupi empat kali lapangan sepak bola.

Penyebab banjir di Jakarta Sodetan Ciliwung

Proyek bernilai Rp 492,6 miliar ini digadang menjadi solusi jitu mengatasi banjir yang melanda Jakarta. Dimulai pada Desember 2013 dan direncanakan rampung pada Maret 2015, proyek ini ternyata tersendat. Realisasi proyek baru 11% dari target 64% per Januari 2015. Padahal, bila proyek ini rampung, sodetan bisa membantu mengurangi debit Kali Ciliwung hingga 60 meter kubik per detik.

Penurunan muka tanah

DKI Jakarta merupakan suatu kota yang dilalui oleh 13 sungai dan 40% wilayahnya merupakan dataran rendah yang pada akhirnya memunculkan persoalan soal penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah (land subsidence) terjadi karena pemanfaatan air tanah yang tidak terkontrol dan bertambahnya pemukiman. Penurunan muka tanah di DKI Jakarta berkisar 0.011 m (1.1 cm) hingga 0.27 m (27 cm) per tahun. Penurunan muka tanah ini akan menyebabkan daerah rawan banjir di DKI Jakarta meluas

Drainase yang masih buruk

Kapasitas saluran pembuangan air atau drainase di Ibu Kota dinilai kurang memadai. Buktinya drainase yang ada saat ini hanya dirancang untuk menampung curah hujan 50-60 milimeter per jam. Idealnya drainase di Jakarta berkapasitas 80 milimeter per jam. Sumber: BPS, BPBD

Koran Sindo/Bobby Firmansyah