Edisi 12-01-2017
Obama Ingatkan Tantangan AS


CHICAGO - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyampaikan pidato perpisahan dengan menyampaikan optimisme visi yang progresif dan peringatan tentang serangkaian tantangan masa depan.

Obama menyampaikan pidato penuh emosional, menarik perhatian sekitar 20.000 orang yang hadir di McCormick Place, Chicago, pada Selasa malam (10/1) waktu setempat. Di akhir pidatonya, Obama mengucapkan mantranya “Yes We Can “, dan menyarankan rakyat AS untuk mempertahankan nilainilai AS. Presiden kulit hitam pertama AS juga menyerukan agar masyarakat menolak diskriminasi.

“Kita sebagai warga harus tetap waspada terhadap agresi eksternal, kita harus menjaga melemahnya nilai-nilai yang membuat kita ini siapa,” kata Obama dilansir Reuters . Obama menyerukan rakyat AS untuk mempertahankan demokrasi mereka. “Dalam segala ukuran, AS itu tempat terbaik dan terkuat dibandingkan delapan tahun lalu saat saya menjabat,” imbuhnya. Saat berpidato, kerumunan orang kerap berteriak “saya mencintaimu Obama”.

Bahkan, banyak orang yang berteriak “empat tahun lagi”. Dalam pidatonya, Obama juga menjabarkan beberapa kebijakannya. Dia mengungkapkan, posisinya tidak berubah dalam upayanya mengakhiri penyiksaan dan penutupan penjara AS di Teluk Guantanamo, Kuba, sebagai langkah mempertahankan nilai-nilai AS.

Dia juga bercerita tentang perlunya aksi memerangi pemanasan global. “Jika semua orang bisa bersama menunjukkan rencana peningkatan yang lebih baik dibandingkan sistem kesehatan kita (Obamacare) yang mampu menanggung biaya orang tak mampu, maka saya akan mendukungnya,” ujar Obama menyindir Presiden terpilih AS Donald Trump yang berencana mengganti kebijakan tersebut.

Terpilihnya Obama sebagai presiden yang diprediksi akan mengakhiri ketegangan rasial di AS, ternyata tidak terbukti. Obama mengatakan, pascarasial Amerika ternyata tidak menjadi realita setelah dirinya terpilih sebagai presiden. “Ras masih menjadi potensi dan kerap menjadi kekuatan yang bisa memecah belah masyarakat kita,” tuturnya.

Air Mata

Obama meneteskan air mata setelah dia menyampaikan pujian kepada putri dan istrinya, Michelle Obama. “”Michelle LaVaughn Robinson, gadis dari sisi selatan, yang selama 25 tahun, kamu bukan hanya menjadi istri saya dan ibu anakanak saya, tetapi telah menjadi sahabat terbaik saya,” kata Obama memuji Ibu Negara Michelle yang mengenakan baju serba hitam.

Dia memuji Michelle yang memiliki selera humor yang tinggi dan mampu menjadi teladan. “Kamu (Michelle) telah membuat saya bangga. Kamu telah membuat negara ini bangga,” puji Obama. Di Chicago, Obama dan Michelle bertemu. Kedua putri mereka juga lahir di sana. Putri Obama, Malia, 18, menghadiri pidato perpisahan tersebut.

Tapi, adiknya Sasha, 15, tidak tampak. Gedung Putih menyatakan, Sasha tetap di Washington karena akan menghadapi ujian sekolah. “Semua yang saya lakukan dalam kehidupan saya, saya paling bangga menjadi ayah kalian,” kata Obama. Dia memuji kedua putrinya sebagai anak yang cerdas dan cantik. “Yang penting, kalian ramah, kalian bijaksana, kalian penuh semangat,” ungkapnya.

andika hendra m