Edisi 21-04-2017
Oposisi Terus Gelar Demonstrasi Massal


CARACAS – Oposisi Venezuela kemarin berjanji menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Seruan itu setelah unjuk rasa berdarah yang menewaskan dua demonstran, yakni pemuda berusia 17 tahun dan perempuan berumur 23 tahun, serta seorang tentara pada Rabu (19/4) lalu. Dalam April ini, delapan orang tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran yang memicu krisis politik di negara kaya minyak tersebut.

”Hari ini (Rabu), jutaan demonstran telah turun ke jalanan,” ungkap pemimpin oposisi, Henrique Capriles, dalam konferensi pers Rabu malam waktu setempat. ”Besok (Kamis) akan lebih banyak rakyat yang akan ikut bergabung.” Polisi bertindak brutal terhadap para demonstran yang melempari batu dalam setiap demonstrasi. Oposisi menuding Maduro memerintahkan pasukan keamanan untuk bertindak anarkistis. Selain itu, pemerintah dituduh mempersenjatai kelompok kriminal untuk menekan para demonstran agar tidak berunjuk rasa.

Menurut Kepala Rumah SakitClinicasCaracasAmadeoLeiva, remaja berusia 17 tahun ditembak seorang pria yang mengendarai sepeda motor dan melemparkan gas air mata ke kerumunan demonstran. Adapun perempuan berusia 23 tahun bernama Paola Ramirez ditembak di kepala dan langsung tewas di lokasi demonstrasi. Menurut kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM), lebih dari 400 orang ditangkap dalam demonstrasi pada Rabu lalu.

Oposisi menyalahkan aparat keamanan dan kelompok paramiliter yang bertindak represif. Setiap aksi unjuk rasa kerap diwarnai penjarahan toko roti, supermarket, dan pusat makanan. Itu disebabkan banyak warga Venezuela yang kelaparan karena tak mampu membeli makanan dengan harga selangit. Jutaan rakyat Venezuela telah putus asa menghadapi krisis politik dan ekonomi yang mempersulit kehidupan mereka. ”Saya tidak memiliki makanan di kulkas,” ujar demonstran Jean Tovar, 32, yang membawa batuuntukdilemparkankepolisi.

”Saya memiliki dua anak yang harus diberi makan, sedangkan saya pengangguran. Itu semua salah Maduro,” tuturnya. Politikus propemerintah, Diosdado Cabello, mengatakan, aktivis anti-Maduro telah ”membunuh” tentara di San Antonio de los Altos, selatan Caracas, pada Rabu malam. Sebagai perlawanan, para pendukung Maduro juga menggelar demonstrasi tandingan di Caracas. Tapi, acara itu tidak banyak dihadiri warga Venezuela. ”Kami tetap mendukung Maduro dan tetap loyal kepada Komandan (Hugo) Chavez,” kata Nancy Guzman, 50, yang bergabung dalam aksi mendukung Maduro pada Rabu lalu.

Dalam pawai itu Maduro hadir dan menyarankan para pendukungnya, militer, dan milisi sipil untuk mempertahankan ”Revolusi Bolivarian” yang diluncurkan Chavez pada 1999. Oposisi menyerukan agar militer yang menjadi pilar kekuatan utama Maduro agar meninggalkannya dan memberikan dukungan kepada rakyat. Tetapi, Menteri Pertahanan Jenderal Vladimir Padrino Lopez mengatakan loyalitas tanpa syarat kepada Maduro.

”Oposisi ingin melaksanakan kudeta yang didukung Amerika Serikat (AS),” ungkapnya. DiWashington, MenteriLuar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan, AS memberikan perhatian penuh terhadap pemerintahan Maduro yang melanggar konstitusi dan mengizinkan oposisi menyampaikan suaranya. Menteri Luar Negeri Venezuela Delcy Rodriguez menolak tudinganTillerson.” Itu adalah bentuk intervensi sistemik,” ujarnya. Berdasarkan jajak pendapat yang digelar Venebarometro, tujuh dari 10 warga Venezuela tidak suka dengan Maduro.

Sebaliknya, Maduro ingin menghadapipara musuhpolitiknya di tempat pemungutan suara. ”Saya ingin menggelar pemilu secepatnya untuk mencari jalan damai bagi Revolusi Bolivia,” ujarnya. Maduro sangat yakin rakyat masih mendukungnya. ”Kita akan berjaya lagi. Di sini kita memerintah rakyat,” ujarnya.

Inflasi 700%

Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan tingkat inflasi di Venezuela mencapai 700%. Itu mengakibatkan harga makanan meningkat drastis. Selain itu, pasokan makanan di pasar juga sangat sedikit. Rakyat Venezuela sangat menderita karena gaji mereka tak cukup untuk belanja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Paling parah adalah pasokan obat-obatan juga sangat minim. Itu menyebabkan banyak pasien merana di rumah sakit.

Para dokter tak bisa berbuat banyak karena tak ada obat-obatan. Tingkat kematian pasien di rumah sakit juga mengalami lonjakan yang sangat drastis. Tingkat pengangguran telah mencapai lebih dari 25% tahun ini. ”Tahun depan diperkirakan mencapai 28%. Padahal, pada 2015 tingkat pengangguran hanya 7,4%,” demikian laporan CNN.

Andika hendra m