Edisi 21-01-2017
Kreatif dengan Do it Yourself


Sering mendengar istilah DIY? Pasti sempat bertanya-tanya apa sih DIY itu? Yak, DIY atau singkatan dari do it yourself merupakan kegiatan kreatif membuat, memodifikasi atau memperbaiki sesuatu yang bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama. Istilah DIY sendiri sangat familier di kalangan pencinta crafting.

Saat ini banyak sekali bisnis dengan core base crafting bermunculan. Bisnis yang berangkat dari modal minim karena hanya memakai bahan-bahan yang tersedia, namun juga membutuhkan kreativitas yang luar biasa. Sepertia Diana Tri Agustine pemilik akun @icrafts.co dalam memasarkan scrapbook kreasinya.

Ide kreatif ini berawal dari kesukaannya dengan scrapbook. Iseng-iseng Diana mengikuti tutorial di internet membuat scrapbook. “Saya mencari ide melalui video-video scrapbookdi YouTube, saya juga kadang kepoin kompetitor untuk mengetahui desain dan tema apa yang mereka buat, saya kembangkan agar kualitas dan keunikan produk saya mengungguli mereka,” kata Diana.

Ternyata dari keisengannya ini, banyak teman satu sekolahnya yang suka dan tertarik dengan hasil karyanya. “Karena banyaknya permintaan, saya mulai menjual scrapbookini,” cerita dara berusia 19 tahun ini. Bukan hanya Diana yang menjajal bisnis crafting ini. Aryo Kiswinar juga membangun bisnis dari kegiatan DIY.

Pengalaman dalam hal kesenian dan pengetahuan mengenai kertas menjadi alasan mengapa Kiswinar memilih bisnis custombuku. Hal paling mendasar dari bisnis ini adalah kreativitas. Bagi cowok berkacamata ini, ide kreatif tidak mudah. Namun, untuk mendapatkannya sangat mudah. “Biasanya saya mendapat ide kreatif dengan membaca, diskusi, dan bertanya kepada banyak orang,” ujarnya.

Ditambahkan Kiswinar, kreativitas memang membutuhkan inspirasi, namun jika tidak diiringi dengan pemahaman mendasar, tentu akan sulit merealisasikan ide tersebut. Di Indonesia baru beberapa tahun belakangan bisnis crafting menjadi terkenal terlebih dengan adanya akun-akun media sosial bertema DIY. Hal itu sesuai dengan pendapat Kiswinar.

“Di Indonesia sendiri masih jarang orang yang memproduksi buku sketsa yang dikerjakan secara manual,” tutur pemilik usaha Pepa (People and Paper) ini. Usaha craftingdipercaya akan menjadi bisnis yang potensial pada masa yang akan datang. Tingginya penggunaan teknologi memproduksi barang dengan instan, malah dipercaya akan membuka pasar baru bagi bisnis DIY ini.

“Ketika banyaknya barang yang dibuat dengan teknik digital, barang-barang yang sifatnya analog akan ditinggalkan. Tapi, ini malah akan menambah pangsa pasar bagi pembuat barang crafting. Hal-hal seperti ini pun tidak akan menjadi mainstreammarket,” celoteh alumni Universitas Trisakti ini.

Diana juga mengamini hal tersebut dan melihat bisnis crafting akan menjadi usaha yang menjanjikan. “Bentuknya yang unik dan bisa mengikuti perkembangan zaman serta tidak akan termakan oleh waktu,” kata Diana. Keduanya percaya, detail yang menjadi kekuatan dari seni craftingtidak akan bisa dikalahkan oleh mesin canggih sekalipun. Dan ini yang menjadi kekuatan dari seni kerajinan tangan ini.

ANDI MUAMMAR QKADAFI GEN SINDO
Institut Pertanian Bogor