Edisi 24-04-2017
Taksi Udara Masa Depan


Taksi udara yang dapat Anda pesan dengan smartphone akan segera terwujud. Pesawat tenaga listrik tanpa emisi yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal berhasil menyelesaikan tes terbang.

Lilium Jet dengan kapasitas dua kursi itu telah melakukan sejumlah tes di Jerman. Pesawat itu juga berhasil mencoba manuver di udara saat pesawat itu berubah dari melayang ke atas menjadi terbang ke depan. Lilium juga telah mengembangkan versi pesawat dengan lima kursi dan berukuran lebih besar. Kehadiran pesawat model baru itu dapat segera digunakan untuk layanan taksi udara atau ride sharing .

Kelebihan yang ada di pesawat yang mirip pod itu adalah dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) seperti helikopter dan sekaligus dapat terbang seperti pesawat jet. Itu artinya, pesawat itu mampu terbang hampir 200 mil dengan kecepatan jelajah 180 mil per jam. Desain 100% tenaga listrik, berarti Lilium Jet jauh lebih efisien dibandingkan jenis pesawat sejenis.

“Kami telah menyelesaikan sejumlah tantangan engineering terberat dalam penerbangan untuk dapat sampai pada titik ini,” kata Daniel Wiegand, Co-Founder and Chief Executive Officer (CEO) Lilium. “Program tes penerbangan yang sukses itu menunjukkan bahwa desain teknis kami bekerja tepat seperti yang kami inginkan. Kami dapat mengubah fokus kami pada desain pesawat dengan lima kursi,” paparnya. Lilium Jet merupakan pesawat listrik yang mampu terbang seperti pesawat jet dan VTOL seperti helikopter.

Pesawat ini mengandalkan 36 mesin jet yang dipasang ke sayap dengan 12 flap yang dapat digerakkan. Karena pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal, taksi udara ini hanya memerlukan ruang udara yang kecil atau mampu mendarat di pad yang ada di gedung dan tidak memerlukan landasan pacu yang panjang. Berdasarkan efisiensi dan infrastruktur yang minimal, desain Lilium Jet ini dapat menjadikan tarif terbang sama dengan tarif taksi biasa. Perjalanan dengan pesawat ini lebih cepat lima kali dibandingkan dengan mobil.

Misalnya, perjalanan dari Manhattan ke Bandara John F Kennedy hanya membutuhkan waktu lima menit. Padahal, jika menggunakan mobil membutuhkan waktu sekitar 55 menit. Lisensi pilot dengan sedikitnya 20 jam pelatihan diperlukan untuk mengemudikan pesawat dua kursi tersebut. Itu artinya, pesawat ini sesuai dengan kategori pesawat olahraga ringan. Pesawat ini didesain terbang saat siang hari dan ketika kondisi cuaca bagus. Lilium belum mengungkap seberapa besar biaya yang telah dihabiskan untuk mengembangkan pesawat tersebut, tapi musim semi lalu perusahaan menjelaskan siap menjualnya pada 2018.

Saat ini Badan Antariksa Eropa (ESA) memuji desain hemat energi yang bagus untuk lingkungan dan sosial. ESA menyatakan, meski pesawat itu akan menggunakan landasan udara untuk mendarat dan lepas landas, tujuan pembuatan pesawat tersebut dapat lepas landas vertikal dari lokasi mana pun, bahkan dari pekarangan rumah. Berbagai perusahaan juga mengembangkan kendaraan terbang yang dapat berfungsi di darat dan udara. Perusahaan asal Slovakia, AeroMobil, merilis versi terbaru mobil terbang yang merupakan pesawat ringan dengan sayap yang dapat dilipat ke belakang seperti serangga.

Pesawat ini menggunakan mesin hibrida dan baling-baling belakang. AeroMobil dapat dipesan mulai tahun ini tapi tidak untuk semua orang. Selain harganya yang mahal, antara USD1,3 juta hingga USD1,6 juta, pemilik harus memiliki lisensi pilot untuk menggunakannya di udara. Adapun perusahaan pesaing juga meluncurkan mobil-pesawat yang disebut Pal-V Liberty. Model mobil ini lebih ramping dibandingkan AeroMobil dan memiliki harga lebih murah antara USD320.000 dan USD534.000. “Saya pikir ini akan menjadi produk yang sangat bagus,” kata Philip Mawby, profesor teknik elektronik dan kepala riset di Universitas Warwick.

Beberapa perusahaan pun mengembangkan mobil terbang, baik yang mirip Aeromobil yang memerlukan landasan pacu maupun yang mirip helikopter. Meski demikian, tidak banyak perusahaan yang secara serius menargetkan pasar kendaraan semacam itu dalam waktu dekat. “Teknologinya ada. Pertanyaannya adalah membawanya ke pasar dengan harga yang terjangkau dan membuatnya menjadi produk yang berguna,” kata Mawby, dikutip Daily Mail.

Jadi, meskipun kendaraan seperti AeroMobil dapat digunakan untuk tujuan rekreasi oleh orang yang memiliki lahan yang luas, mobil-mobil terbang tampaknya masih sulit memiliki pasaryangbesardalam waktu dekat. AeroMobil memiliki daya jelajah di darat sejauh 100 kilometer dan kecepatan tertinggi 160 kilometer per jam. Saat terbang, kendaraan itu dapat mencapai jarak 750 kilometer dan memerlukan waktu tiga menit untuk berubah dari mobil menjadi pesawat. “Anda dapat menggunakannya sebagai mobil sehari-hari,” kata Co-Founder dan CEO AeroMobil Juraj Vaculik saat peluncuran di Monako. Meski demikian, saat ini belum legal untuk lepas landas dari jalan raya.

Prototipe AeroMobil 3.0 menjadi sorotan publik pada 2014 saat ditampilkan di Wina tapi saat itu belum dilakukan tes terbang. Kendaraan itu mengalami kecelakaan saat tes terbang di Slovakia pada 2015 saat penemunya, Stefan Klein, mengendarainya. Dia berhasil selamat tanpa terluka dalam kecelakaan itu. Selain AeroMobil, Pal-V merilis mobil pesawat Liberty yang disebut Pal-V Liberty yang merupakan karya Robert Dingemanse dengan perusahaan berbasis dekat Breda, Belanda. Kendaraan sepa-njang empat meter itu lebih ramping dibandingkan produk perusahaan Swedia dan muncul dengan harga bersaing.

Mobil terbang ini merupakan Gyrocopter dengan tiga roda dan baling- baling yang dapat dilipat. Pal-V da-pat membawa dua orang dengan kecepatan 160 kilometer per jam sepanjang 400-500 kilometer. Setelahtesyangberhasilpada 2009dan 2012, Pal-V mulai mendesain seri produksi yang diluncurkan dalam acara di Monako.

Syarifudin