Edisi 20-02-2017
Pesantren Harus Mampu Sumbangkan Energi Positif


JAKARTA - Pondok-pondok pesantren (ponpes) di Indonesia diminta lebih banyak lagi menyumbangkanenergi positifbagi bangsa ini.

Itu perlu dilakukan demi mencegah dampak-dampak negatif dari era globalisasi, mudahnya akses informasi, dan ancaman narkoba. Hal itu disampaikan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri milad ke-40 Pondok Pesantren Diniyah Putri Muara Bungo, Jambi, Sabtu (18/2). Menurut dia, karena tantangan Indonesia saat ini jauh lebih berat daripada tahuntahun sebelumnya, pondok pesantren harus bisa menjawab tantangan itu.

”Kiai di pondok pesantren juga harus melek teknologi informasi sebab teknologi informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan hampir semua lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Karena itu, tidak jarang ditemui banyak kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi seperti perdagangan orang, prostitusi online, dan narkoba,” ujar Khofifah. Faktanya demikian. Makin terbukanya arus informasi bukan hanya mendatangkan halhal positif bagi kehidupan manusia, dampak negatifnya juga besar. Contoh-contoh kasus yang dikemukakan Mensos menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia memang harus pintar-pintar dalam menyerap informasi, sehingga tidak menjadi blunder.

”Informasi yang bagus banyak, dan yang negatif pun juga banyak. Jika kiai dan ulama tidak memahami teknologi informasi, bagaimana bisa berperan aktif membendung yang negatifnya,” tegas Mensos. Peran teknologi informasi sebenarnya bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah islamiah. Dengan demikian, jangkauan umat yang terpapar dakwah bisa jauh lebih besar dan luas. Khofifah menambahkan, dengan melek teknologi informasi maka ke depan pondok pesantren bisa melahirkan SDM unggul, baik dari sisi spiritualitas maupun teknologi sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi budaya dan ekonomi.

Mensos juga menyoroti peran kaum perempuan dalam membentuk karakter bangsa. Menurutnya, pada era saat ini perempuan dituntut jauh lebih maju, berwawasan luas, cerdas, modern, dan bermartabat. ”Perempuan tidak lagi hanya berkutat dengan urusan domestik rumah tangga, namun juga kebangsaan,” katanya.

M ridwan/ ant