Edisi 20-02-2017
Ratusan Rohingya Kembali ke Myanmar


DHAKA– Ratusan Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari operasi militer di negara bagian Rakhine telah kembali ke Myanmar.

Sebagian besar yang kembali ke Myanmar itu untuk menjemput keluarga mereka. Sejak militer menggelar operasi di Rakhine, Myanmar barat, puluhan ribu etnik muslim Rohingya melarikan diri menuju Bangladesh. Ketua kamp pengungsi di Kota Pantai Teknaf, Dudu Mia, menjelaskan, hampir 1.000 Rohingya yang sebagian besar pria muda telah kembali ke desa-desa mereka untuk menjemput anggota keluarga berusia lanjut yang sebelumnya tak dapat ikut mengungsi.

”Sebagian besar pria itu berharap dapat membawa keluarga mereka ke Bangladesh. Ini sudah empat bulan dan mereka selama ini dilarang berbicara dengan orang tua mereka di tempat asalnya,” kata Mia, kepada kantor berita AFP . Militer Myanmar telah menghentikan operasi di utara Rakhine, menurut sumber resmi pekan lalu. Langkah tersebut mengakhiri empat bulan operasi militer di Rakhine yang dikecam dunia internasional. Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) memperingatkan operasi militer itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.

Ratusan muslim Rohingya diduga tewas dan hampir 70.000 orang mengungsi ke Bangladesh sejak militer Myanmar melancarkan operasi memburu para militan yang menyerang pos-pos polisi perbatasan. Otoritas Bangladesh memperkirakan 400.000 Rohingya saat ini tinggal di Bangladesh, termasuk 70.000 pengungsi yang baru tiba dari Myanmar. Para pengungsi menceritakan berbagai tindakan pasukan keamanan Myanmar yang melakukan pemerkosaan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap etnik Rohingya. Aparat Myanmar juga membakar rumah-rumah Rohingya hingga rata dengan tanah.

Pemimpin Rohingya lain menjelaskan, beberapa pengungsi telah meninggalkan Bangladesh karena desa-desa asal mereka dirusak militer Myanmar dan pengungsi itu memiliki properti yang harus dijaga. ”Mereka meninggalkan rumah- rumah mereka karena mereka panik. Mereka tidak ingin tinggal di sini sebagai pengemis. Mereka lebih memilih tinggal di rumah mereka sendiri dan bekerja di tanah mereka di Myanmar,” ungkap pemimpin Rohingya, yang meminta namanya tidak disebutkan. Penjaga Perbatasan Bangladesh membenarkan ada beberapa pengungsi yang kembali ke Myanmar.

”Beberapa pengungsi Rohingya telah kembali ke rumah mereka dalam beberapa hari terakhir. Tapi, kami masih waspada dengan semua infiltrasi ilegal apa pun,” ujar komandan lokal penjaga perbatasan Bangladesh Abujar al- Jahid. Citra satelit yang dipublikasikan tahun lalu oleh Human Rights Watch (HRW) menunjukkan bagaimana tentara Myanmar membakar desa-desa Rohingya dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Sebagian besarRohingya yangmelarikandiri ke Bangladesh sekarang tinggal dalam kondisi memprihatinkan di kamp-kamp peng-ungsi di distrik Coxs Bazar yang berbatasan denganRakhine. CoxsBazarjuga menjadi lokasi resor wisata terbesar di Bangladesh. Bangladesh saat ini telah mengesahkan rencana kontroversial untuk relokasi para pengungsi ke satu pulau. Otoritas juga memerintahkan untuk mendata warga Myanmar yang tidak memiliki dokumen itu sebagai bagian dari penanganan krisis pengungsi.

Awal bulan ini, Bangladesh memerintahkan pembangunan pulau terpencil Thengar Char yang akan dijadikan tempat relokasi puluhan ribu pengungsi Rohingya. Perintah itu muncul meski ada peringatan bahwa lokasi itu tak dapat dijadikan tempat tinggal. Langkah ini diambil pemerintah meski HRW menolak klaim Bangladesh bahwa pemindahan Rohingya ke pulau rawan banjir itu dapat memperbaiki kualitas hidup para pengungsi. Bangladesh saat ini mencari dukungan internasional atas rencana relokasi Rohingya ke Pulau Thengar Char di Teluk Bengal tersebut.

Ide ini sempat dikecam saat pertama kali diungkapkan pada 2015. Perdana Menteri (PM) Bangladesh Sheikh Hasina telah mengirimkan ajudannya ke pulau terpencil itu pada awal bulan ini. Otoritas pun memerintahkan pembangunan dermaga, helipad, dan fasilitas pengunjung.

Syarifudin