Edisi 11-01-2017
Sosialisasi Doping Pada Atlet Kurang Optimal


SEMARANG – Masalah yang membelit tiga atlet Jateng peraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar karena positif menggunakan obat-obatan terlarang dalam olahraga (doping) menunjukkan ada ketidak beresan dalam pengelolaan manajemen cabang olahraga.

Kini prestasi yang ditorehkan atlet binaraga Mheni, peraih medali perak di nomor welter weight above 70-75; Mualipi, atlet binaraga peraih emas di nomor fly weight above under 60 kg; dan Jendri Turangan, peraih emas di cabang olahraga berkuda nomor kelas A terbuka jarak 1.300 meter open, tercoreng. Mereka termasuk di antara 13 atlet PON XIX dan satu atlet Peparnas XV yang medali serta bonusnya dicopot oleh PB PON dan Peparnas karena terbukti mencederai sportivitas dan nilai-nilai olahraga.

Selain memalukan, kasus ini juga mencoreng citra Tim PON Jateng karena dalam penyelenggaraan PON sebelumnya, tidak ada atlet Jateng tersangkut masalah doping. Ketua Harian Pengprov Persatuan Angkat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Jateng, Agus S Winarto, mengakui salah satu penyebab dua atlet binaraga asal Jateng positif doping karena edukasi tentang doping terhadap atletnya selama ini berjalan kurang optimal.

Pengurus memiliki berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa mengawasi aktivitas atlet setiap hari, meski bahaya dari zat-zat terlarang sudah pernah disampaikan. ”Kami tidak bisa tunggui atlet setiap hari. Ini jadi momentum mengintensifkan edukasi agar tidak terulang seperti ini lagi,” ujarnya. Menindaklanjuti keputusan yang disampaikan PB PON, pihaknya akan kembali mengklarifikasi tiga atlet bersangkutan terlebih dulu.

Jika dalam diskusi itu nanti mengakui mengonsumsi, maka tidak akan banding. Wakil Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jateng M Nasution menyatakan, KONI sudah melakukan pendidikan dan penataran kepada pelatih jauh hari sebelum digelar pemusatan latihan untuk persiapan PON XIX Jabar.

Dalam workshop tersebut sudah disampaikan zat mana yang bisa dikategorikan doping. ”Pelatih, saya harap sudah menyampaikan kepada atlet,” tuturnya. Menindaklanjuti keputusan yang disampaikan Ketua Umum PB PON XIX dan Peparnas XV Jabar Ahmad Heryawan bahwa tiga atlet Jateng termasuk di antara 14 atlet positif doping, maka KONI Jateng akan memanggil tiga atlet yang namanya dirilis.

”Hari Jumat (13/1) nanti atlet dan pengprov cabang olahraga (cabor) kami panggil untuk klarifikasi. Akan kami tanyakan obat apa yang diminum, misal sepekan sebelum pertandingan,” tutur Ketua KONI Jateng Hartono. Saat ini Pemprov Jateng baru mencairkan anggaran untuk bonus atlet medali dalam PON XIX dan Peparnas di Jawa Barat mencapai 41% atau Rp8,189 miliar.

”Kalau diperintahkan ditarik, ya akan kami tarik. Akan kami konsultasikan kepada Pemprov Jateng,” ujarnya. Mheni, mengaku terkejut setelah dinyatakan oleh PB PON positif doping. Peraih medali perak cabang olahraga binaraga PON XIX Jabar ini mengaku tidak mengonsumsi obat yang aneh-aneh saat menjalani latihan persiapan.

Atlet dari Klub Ryu Gym di Jalan Majapahit, Kota Semarang, itu juga sudah mengikuti aturan dari Pengcab dan Pengprov PABBSI. Mheni kemarin masih tetap berlatih di Ryu Gym. Kendati menyangkal mengonsumsi obat yang mengandung zat 3-OH-Stanozolol dan 16b-OH-Stanozolol kategori doping, tetapi dia mengaku selama menjalani latihan banyak mengonsumsi vitamin dan obat untuk mengantisipasi cedera.

arif purniawan