Edisi 21-04-2017
Warga Suriah Kembali Dievakuasi


RASHIDIN – Ribuan warga sipil Suriah kembali dievakuasi dari kota-kota yang terkepung konflik kemarin.

Mereka berkumpul di titik transit yang dikuasai pemberontak yang menjadi tempat serangan bom akhir pekan lalu yang menewaskan lebih dari 120 orang. Sebanyak 3.000 warga telah mengungsi dari rumah mereka di Kota Fuaa dan Kafraya yang dikontrol pemerintah kemarin. Evakuasi itu bagian dari kesepakatan pemindahan warga sipil dan pejuang keluar dari wilayah pemberontak yang telah dikepung pasukan pemerintah. Evakuasi dimulai pekan lalu, tapi tertunda setelah serangan bom mobil bunuh diri pada Sabtu (15/4) yang menewaskan 126 orang, termasuk 68 anakanak di titik transit Rashidin, barat Aleppo.

Mereka kembali dievakuasi pada Rabu (19/4) waktu lokal, tapi terpaksa menginap dalam bus-bus di lokasi transit tersebut karena ada penundaan. Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) menyatakan, penundaan terbaru itu akibat permintaan pemberontak selama 11 jam untuk pembebasan tahanan yang dipenjara pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad. “Konvoi bus pengungsi tidak akan bergerak hingga setelah pembebasan 750 tahanan, pria dan wanita, dari penjara-penjara rezim Suriah dan kedatangan mereka di wilayah yang dikontrol pemberontak,” demikian pernyataan SOHR, dikutip kantor berita AFP .

Para pengungsi berkumpul di titik transit dikelilingi pemberontak bersenjata saat anakanak bermain dekat bus-bus yang menunggu pemberangkatan. Umm Sanad, 50, perempuan dari Fuaa menjelaskan, mereka harus mengatasi ketakutan untuk ikut mengungsi. “Kami pergi karena pengepungan dan roket-roket. Kami pergi meski kami takut setelah serangan itu,” ujar Sanad, yang mengungsi bersama putranya yang berusia belasan tahun. Pejuang pemberontak menjaga mobil-mobil lain menjauh dari lokasi itu, kecuali satu mobil Bulan Sabit Merah yang diizinkan mendistribusikan bantuan.

Serangan pada Sabtu (15/4) itu merupakan salah satu serangan terburuk sejak awal perang sipil Suriah yang berlangsung enam tahun. Serangan bom itu pun dikecam dunia internasional karena menargetkan warga sipil. Tak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Pemerintah Suriah menuding teroris sebagai pelaku aksi brutal tersebut.

Evakuasi kemarin menandai akhir tahap pertama kesepakatan yang dimediasi aliansi rezim Suriah, Iran, dan Qatar yang mendukung kelompok pemberontak. Iran berkali-kali mengungkapkan kekhawatiran pada warga mayoritas Syiah di Fuaa dan Kafraya yang dikepung pemberontak Sunni dan militan lain yang menguasai wilayah sekitar Provinsi Idlib. Sesuai kesepakatan, penduduk dan pejuang pemberontak dievakuasi dari Kota Madaya, Zabadani, dan kota lain yang dikontrol oposisi dan dekat Damaskus. Pada Rabu (19/4) sebanyak 11 bus membawa sekitar 300 orang meninggalkan Zabadani dan dua bus lain membawa pengungsi dari wilayah pemberontak di sekitar Damaskus.

“Mereka dibawa ke Ramussa yang dikontrol pemerintah,” demikian pernyataan SOHR. Saat fase evakuasi ini selesai total 8.000 orang harus meninggalkan Fuaa dan Kafraya untuk ditukar dengan 2.500 warga sipil dan pemberontak dari wilayah oposisi. Fase kedua evakuasi akan melibatkan 30.000 orang dipindahkan dari rumah mereka mulai Juni mendatang. Rezim Assad menganggap kesepakatan evakuasi itu sebagai cara terbaik mengakhiri perang Suriah yang telah menewaskan lebih dari 320.000 orang dan memaksa lebih dari setengah populasi mengungsi dari rumah mereka. Oposisi menyatakan, evakuasi merupakan relokasi paksa setelah bertahun-tahun bombardir dan pengepungan.

Oposisi Suriah dan para pemimpin Barat menuduh rezim Assad melakukan banyak pelanggaran, termasuk melancarkan serangan senjata kimia di Kota Khan Sheikhun yang dikuasai pemberontak pada awal bulan ini yang menewaskan sedikitnya 87 orang. Kepala pengawas persenjataan global menyatakan, hasil tes menunjukkan para korban di Khan Sheikhun terkena gas sarin atau substansi serupa. Sampel dari 10 korban serangan 4 April itu dianalisis di empat laboratorium.

“Analisis menunjukkan paparan terhadap sarin atau substansi seperti sarin,” kata Kepala Organization for the Prohibition of Chemical Weapons Ahmet Uzumcu. Beberapa hari setelah serangan senjata kimia, pasukan Amerika Serikat meluncurkan rudal ke pangkalan udara Suriah. Ini merupakan serangan langsung pertama Washington terhadap rezim Assad.

Syarifudin