Edisi 21-01-2017
Stasiun Lidah Tanah, Jejak Kolonial di Serdangbedagai


Jika melintasi jalur kereta api (KA) di Sumatera Utara (Sumut), ada beberapa stasiun yang memiliki sejarah peninggalan zaman Belanda. Salah satunya Stasiun Lidah Tanah di Bengkel, Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai).

Bangunannya masih terjaga dengan baik, bahkan beberapa peralatan kuno masih disimpan di sana. KORAN SINDO berkesempatan mengunjungi Stasiun Lidah Tanah dan melakukan inspeksi jalur KA bersama Wakil Presiden PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) I Wilayah Sumut dan Aceh, Mateta Rijalulhaq.

Rombongan dari Medan menuju ke Stasiun Lubukpakam menggunakan KA Putri Deli (kelas ekonomi). Dari Stasiun Lubukpakam, perjalanan dilanjutkan menggunakan lori atau kereta api kecil menuju Stasiun KA Lidah Tanah, Bengkel, Perbaungan. “Lori yang ada di KAI Sumut ini hanya ada dua, berkecepatan maksimal 45 km/jam.

Lori ini untuk inspeksi jalur dengan kapasitas orang terbatas,” kata Mateta Rijalulhaq didampingi manajer humasnya, Joni Martinus. Sebelum tiba di Stasiun Lidah Tanah, rombongan menyinggahi jembatan peninggalan zaman Belanda. Jembatan sepanjang 110 meter itu bernama Jembatan BH (Bangunan Khidmat) 52 atau sering disebut Jembatan Sei Ular, didirikan pada 1890. Lokasinya di petak jalan Stasiun Lubuk Pakam dan Perbaungan.

Setibanya di Stasiun Lidah Tanah, mata disuguhi pemandangan bangunan berarsitektur khas Belanda. Stasiun yang terletak agak terpencil ini memiliki dua jalur kereta api, satu jalur lurus dan satu jalur belok untuk persilangan. Bantalan pada spoor beloknya masih menggunakan besi tua yang dibuat agak melengkung.

Sejumlah peralatan kuno zaman Belanda dulu juga masih tersimpan di stasiun ini, menambah nilai sejarahnya. Misalnya gembok, kunci, alat pencetak tiket, stempel, peluit, dan brankas untuk menyimpan barang berharga. Dulu tiket KA dicetak menggunakan alat pencetak manual berbentuk besi yang sudah ada sejak 1807.

“Tapi karena sudah mulai banyak pemalsuan tiket, kami tidak pakai lagi alat pencetak kuno ini. Kami ganti dengan tiket yang menggunakan mesin,” kata Kepala Stasiun KA Lidah Tanah Lintong.

EKO AGUSTYO FB
Medan