Edisi 21-04-2017
Allan Nairn Sengaja Perkeruh Suasana


JAKARTA – Penulis Wallstreet Journal Allan Nairn dinilai sengaja ingin memperkeruh suasana politik di Indonesia dengan menuliskan artikel berjudul “Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar” yang dimuat dalam situs online tirto.id.

DirekturEksekutifVoxpolCentre yang juga pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, tulisan Allan Nairn tersebut hanya akan memperkeruh suasana saja. Karena itu, menurut dia, masyarakat seharusnya jangan langsung memercayai tulisan yang minim data tersebut. “Setiap orang memang bisa membuat laporan investigasi dan tidak bisa dihalangi. Tapi informasi itu akan memperkeruh suasana. Apalagi tulisan itu dibuat tanpa alasan yang rasional, di mana potensi makar nyatanya tidak terbukti sampai saat ini,” tandas Pangi di Jakarta kemarin.

Menurut dia, aksi-aksi yang mengatasnamakan membela agama dan ingin Ahok diadili sudah terjadi berkali-kali sejak November tahun lalu. Namun potensi kudeta atau makar tidak pernah terjadi sampai saat ini. “Terlalu berlebihan tulisan tersebut karena cerita tentang makar atau kudeta itu tidak ada. Tidak terhitung ada beberapa orang yang diduga aktor politik di belakangnya seperti Fadli Zon dan lain-lain yang menjatuhkan Jokowi, ini terbukti tidak benar,” ungkapnya.

Pangi mengatakan, Joko Widodo (Jokowi) merupakan presiden terpilih secara demokratis. Karena itu unsur untuk menjatuhkannya pun akan sulit dan terlalu banyak energi yang dihabiskan. “Menurunkannya tanpa dalil yang tepat akan merusak tatanan konsensus demokrasi,” ujarnya. Menurut dia, terkadang memang tulisan yang dibuat orang asing tampak sekali minim data dan kering lantaran disajikan tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Bahkan tulisan asing terkadang juga tidak mengerti realitas politik Indonesia.

“Analisisnya tanpa data kuat dan buktinya juga minim, malah memperkeruh suasana tulisan ini,” paparnya. Hal senada diungkapkan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Dia pun mempertanyakan laporan investigasi Allan Nairn yang dinilai tidak berdasar dan hanya menuduh-nuduh saja. “Orang itu ngawur, pernah saya laporkan ke polisi. Seharusnya kalau orang itu ke Indonesia ditangkap. Itu jurnalis ngawur, jurnalis pesanan,” tandas Fadli di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Dia menduga Allan merupakan intelijen asing yang menyamar. Karena itu dia berharap kepolisian bisa menindaklanjuti laporan yang pernah dilakukannya atas Allan.

“Saya menduga dia intelijen, karena suatu waktu bisa masuk ke Indonesia dan bicara seenaknya. Maka saya laporkan ke polisi. Tapi saya heran polisi tidak menindaklanjuti. Saya akan terus kejar itu,” ujarnya. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu menilai analisis dan laporan Allan dibuat dengan tidak benar. Fadli juga kecewa tulisannya juga memuat tentang kehidupan Ketua Umum DPP Partai Gerindra dan mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto. “Dia bikin analisis seenaknya. Dulu Prabowo dan beberapa tentara dianggap pembunuh. Masa ada orang asing ngomong seenaknya seperti itu.

Tulisannya itu ngawur dari dulu, bukan hanya yang terakhir,” ujarnya. Sebelumnya, tulisan investigasi Allan Nairn dimuat oleh situs online tirto.id. Dalam tulisan itu, tirto.id menyatakan bahwa tulisan Allan tersebut pertama kali dirilis di situs The Intercept. Tulisan itu aslinya berjudul “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”. Tirto.id kemudian mengaku mendapatkan izin dari Allan Nairn untuk memublikasikan edisi Indonesia khusus untuk pembaca Indonesia. Dalam salah satu tulisannya, Allan Nairn mengatakan bahwa protes besar-besaran muncul menjelang Pilgub DKI Jakarta 2017.

Mereka menuntut petahana Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Dengan pendanaan yang baik dan terorganisasi, demonstrasi berhasil mengumpulkan puluhan ribu orang–beberapa sumber menyebut hingga jutaan–di jalanan Jakarta. Dalam perbincangan dengan tokoh-tokoh kunci gerakan perlawanan terhadap Ahok, diketahui kasus penistaan agama ini hanya dalih untuk tujuan yang lebihbesar: menyingkirkanJoko Widodo dan mencegah tentara diadili atas peristiwa pembantaian sipil 1965-pembantaian yang dilakukan militer Indonesia dan didukung Pemerintah AS.

Aktor utama dalam “serangan pembuka” yang berperan sebagai penyuara dan pendesak adalah Front Pembela Islam (FPI), yang diketuai Rizieq Shihab. Bersama Rizieq, dalam rantai komando juga ada juru bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI Munarman serta Fadli Zon.

Mula akmal/kiswondari