Edisi 21-01-2017
Abu Sayyaf Diduga Kembali Culik WNI


JAKARTA– Kelompok bersenjata Filipina, Abu Sayyaf, diduga kembali menculik warga negara Indonesia (WNI). Ketiga WNI yang berprofesi sebagai nelayan asal Pulau Bembe, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan itu belum diketahui keberadaannya.

Informasi itu berawal ketika otoritas perairan Malaysia menemukan kapal nelayan yang bergerak tanpa awak. “Sekitar pukul 18.00 (waktu setempat), perwakilan RI di Malaysia memperoleh informasi ditemukannya kapal nelayan dengan nomor registrasi BN 883/4/F yang bergerak tanpa awak,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Lalu Muhammad Iqbal di Jakarta kemarin.

Kapal tersebut ditemukan sekitar pukul 13.09 waktu setempat dan diyakini membawa sejumlah anak buah kapal (ABK) WNI. Iqbal mengatakan, pemilik kapal telah mencoba melakukan komunikasi dengan ABK, tapi tidakberhasil.“Merekamengonfirmasi bahwa tiga ABK itu adalah pekerja legal,” sambungnya. Hilangnya tiga WNI tersebut sempat diungkapkan petinggi Western Mindanao Command(Westmincom), Mayor Carlito Galvez.

Tiga ABK itu diketahui bernama Hamdan bin Salim, Subandu bin Sattu, dan Sudarling Samansung. “Para korban penculikan diidentifikasi sebagai Hamdan bin Salim, Subandu bin Sattu, dan Sudarling Samansung. Hingga saat ini keberadaan dan kondisi ketiganya belum diketahui,” kata Juru Bicara Westmincom, Raphael Alano, seperti dikutip Inquirer kemarin. Iqbal belum memastikan tiga WNI tersebut berada dalam penguasaan Abu Sayyaf.

“Otoritas Malaysia masih melakukan penyelidikan. Karena itu, belum dapat dipastikan tiga WNI tersebut diculik,” ujarnya. Sementaraitu, identitasketiga WNI adalah Hamdan dan Sudarling yang berasal dari Pulau Bembe, Tanamalala, Kecamatan Pasimasunggu, Selayar. Adapun Subandi merupakan warga Bonto Bahari, Bulukumba.

Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Eddy Suryantha Tarigan mengatakan dugaan penculikan oleh Abu Sayyaf menguat lantaran saat ditemukan, kapal bergerak dalam keadaan mesin masih hidup. “Kapal ditemukan dalam keadaan kosong, tak ada penghuni dan bergerak sendiri dari perairan Sandakan, Sabah, Malaysia menuju perairan Taganak, Filipina Selatan,” papar Edy kemarin. Menurutnya, diketahui di kawasan tersebut sering terjadi penculikan.

“Lagipula sangat kecil kemungkinan nelayan WNI berani berlayar sampai wilayah Filipina,” imbuhnya. Dia menambahkan, jika dihitung jarak perairan Sandakan hingga perairan Taganak, dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam perjalanan. “Diperkirakan penculikan terjadi hari Rabu (18/1),” kata Edy.

Sebelumnya Abu Sayyaf sudah berulang kali menculik WNI dan warga negara lainnya. Pada November tahun lalu, dua nelayan Indonesia diculik di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Insiden penculikan itu menambah daftar nelayan Indonesia yang bekerja di Sabah diculik kelompok bersenjata. Padahal pemerintah Indonesia telah menjalin kerja sama dengan otoritas Malaysia dan Filipina untuk mencegah insiden penculikan terulang.

Di bulan yang sama, penculikan juga terjadi di perairan Kinabatangan, Sabah, di mana kelompok bersenjata menculik dua nelayan Indonesia. Pada 18 Juli, lima warga Malaysia diculik di perairan Lahad Batu. Semua sandera itu masih ditahan gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina selatan.

muh shamil