Edisi 27-11-2016
Belajar dari Kepemimpinan Fergie


Sir Alex Ferguson, yang akrab dipanggil Fergie, adalah legenda klub sepak bola Inggris Manchester United (MU). Dalam masa kepemimpinannya sebagai pelatih klub sekitar 27 tahun—Fergie telah mempersembahkan puluhan trofi bergengsi.

Buku ini mengangkat nilai- nilai kepemimpinan yang menjadi ruh Sir Alex Ferguson sehingga dapat berhasil mengantarkan MU menjadi klub ternama. Pada bagian pertama, buku ini menyajikan sekilas biografi Fergie. Fergie lahir pada penghujung 1941 di Kota Govan, Skotlandia, dari keluarga buruh. Fergie dikenal aktif di dunia politik dan mendukung Partai Buruh Inggris Raya. Pada 2012 dia mendukung referendum agar Skotlandia tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Di dunia sepak bola, Fergie memulai kariernya sebagai pemain sejak 1957 hingga 1974. Pada 1974, saat usianya belum genap 33 tahun, Fergie memulai karier manajerialnya di klub East Stirlingshire. Kariernya di klub Manchester United dimulai pada 6 November 1986. Di masa awal, Fergie harus menghadapi para pemain yang ”jago minum” dan dituntut cerdas untuk mendisiplinkan pemain. Pada pertengahan dekade 1990-an, Fergie berhasil mengorbitkan beberapa pemain muda yang kemudian menjadi legenda Manchester United.

Di antara mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville. Fergie tidak saja lihai memoles pemain muda hingga menjadi bintang lapangan. Ia juga pandai mengelola pemain bintang agar bisa tampil sebagai anggota tim yang saling mendukung. Di tengah persaingan keras Liga Primer Inggris, Fergie tampil cerdik mengelola berbagai potensi pemain juga mengelola isu termasuk media demi kekuatan dan keunggulan tim.

Dari sejarah hidup dan karier di dunia sepak bola, buku ini merekam 14 nilai-nilai hidup yang menjiwai perjalanan Fergie. Di antara nilai-nilai itu dikemukakan bahwa Fergie adalah sosok yang senang akan tanggung jawab. Sejak muda Fergie mengambil alih tugas ayahnya sebagai pencari nafkah keluarga. Inilah mungkin yang membuatnya memiliki standar kegigihan dan etos kerja keras yang tinggi. Fergie juga sangat menghargai kehangatan keluarga.

Dari latar keluarga pekerja, ia belajar untuk mensyukuri ihwal kecil, hidup sederhana, dan peduli kepada orang lain. Latar kehidupan keluarga Fergie yang termasuk ”berkerah biru” membentuk karakter kerja keras dan rendah hati. Tensi emosi yang tinggi dalam persaingan Liga Inggris kadang dipenuhi dengan ejekan dan umpatan dari para pendukung tim lawan. Tapi, Fergie berhasil melewati semua itu dengan baik.

Masa kerja Fergie yang cukup lama di MU menunjukkan bahwa ia berhasil melewati berbagai tekanan mental di dunia sepak bola Eropa yang semakin ketat persaingannya. Sesekali ia memperlihatkan gaya kepemimpinan yang cukup kontroversial seperti berkonfrontasi dengan media atau keras memarahi pemainnya. Sebagai pemimpin, Fergie menerjemahkan disiplin pada aspek yang luas. Disiplin tidak hanya dalam soal mengendalikan dan mengelola pemain, tapi juga dalam memberikan arahan yang jelas dan jernih, mengelola perubahan, dan mendorong sikap berani.

Nilai-nilai kepemimpinan Fergie ini tidak saja terlihat dalam setiap pertandingan yang dipimpinnya. Nilai kepemimpinan Fergie ini juga berada pada lapis pengelolaan musim pertandingan dan pengelolaan klub. Dalam mengelola klub, nilai-nilai kepemimpinan dan kecerdasan Fergie terlihat dari fakta bahwa ia bertahan begitu lama di MU. Buku ini memperlihatkan kepada pembaca bahwa sepak bola tidak saja menjadi ajang hiburan dan industri, tapi juga sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter.

Di tengah situasi persepakbolaan nasional yang tampak sulit untuk maju, kiranya buku ini dapat menjadi inspirasi perubahan untuk mendorong pengelolaan sepak bola dalam berbagai level secara lebih baik agar sepak bola juga dapat berkontribusi dalam perubahan mental dan ikut memajukan masyarakat.

M Mushthafa
dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah,
Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur.