Edisi 24-04-2017
Bahasa Kasih dalam Bingkai Fotografi


“Perempuan, rasa ingin memilikimu, keindahanmu, keanggunanmu tidak harus kupaksakan perasaan ini untuk memilikimu. Karena aku tertunduk haru ingin memilikimu, cinta dan tiba-tiba aku terbangun dari mimpi karena perempuan itu ternyata ciptaanmu, Tuhan.”

Sutrisno Jambul menggelar pameran fotografi bertajuk Perempuan. Lewat pameran ini ia hendak menyampaikan curahan hatinya (curhat) yang gundah-gulana. Pameran diselenggarakan di ruangan Pusat Kebudayaan Prancis, IFI (Institut Francais di Indonesia) yang beralamat di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan.

Dibuka pada 21 April dan akan berlangsung hingga Mei, pameran ini merupakan program kerja sama seni dan budaya yang ditujukan bagi para seniman muda kreatif Indonesia dan didukung Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Pameran ini juga sekaligus mengenang tokoh perempuan Raden Ajeng Kartini. Sebanyak delapan karya fotografi dipajangkan di ruang tengah Kantor IFI, antara lain, ada karya berjudul Aku dan Dia , (100x100 cm, Media Print on Paper, 2015), Aku Masih di Sini#2 (160x100 cm), Mari Kita Pergi Bersama-sama (100x80 cm), Ingin Kembali Bersama (100x150 cm) AkuMelihatmu (100x80cm), Aku Seperti Dia , (100x80 cm).

Karya fotografi Sutrisno tidak seperti karya fotografi umumnya yang mengutamakan estetika, keindahan alam atau tubuh yang utuh. Karya lelaki kelahiran Jakarta 14 Oktober 1978 ini menampilkan sosok perempuan yang tak utuh. Ada yang muncul hanya separuh wajah atau hanya kepala yang tampak blur , wajah dengan mata dan pipi bopeng. Seperti karya bertajuk Aku Ingin Bersamamu. Karya ini muncul separuh wajah. Bagian tubuh yang lain seolah terbenam atau ditutupi kardus-kardus lusuh. Wajah dan mata yang tersembul keluar seolah menyiratkan pesan penting. Karya fotografi Sutrisno sepintas tampak seperti lukisan abstrak.

Bagaimana Sutrisno menghasilkan karya seperti ini? Narasi besarnya berpusat pada kecintaan Sutrisno terhadap perempuan umumnya dan sang ibu khususnya. Saat menjelajahi sudut-sudut kota di Jabodetabek, Sutrisno tergerak untuk memburu gambar-gambar perempuan cantik pada poster lusuh di dinding-dinding kota atau kertas usang yang terjerembap di tempat sampah. Wajah- wa-jah yang terlihat sobek dijepretnya. Sejak 2004 hingga 2015, Sutrisno memburu gambar- gambar lusuh itu. Dalam pandangannya, gambar- gambar lusuh, meskipun sebuah hal biasa, itu memiliki kaitan dengan realitas sesungguhnya.

Dalam kehidupan nyata, hingga saat ini perempuan memang diperlakukan layaknya objek. Perempuan kerap dieksploitasi dan diperlakukan tidak adil. Potret kegundahannya atas ini semua, ia tuangkan dalam beberapa kalimat, “Perempuan, rasa ingin memilikimu, keindahanmu, keanggunanmu tidak harus kupaksakan perasaan ini untuk memilikimu. Karena aku tertunduk haru ingin memilikimu, cinta dan tiba-tiba aku terbangun dari mimpi karena perempuan itu ternyata ciptaanmu, Tuhan.” Sutrisno mengaku sangat mengagumi ibunya dan perempuan umumnya. Baginya, perempuan adalah sumber inspirasi.

“Ibu saya sumber inspirasi. Karena itu, saya mengagumi ibuku dan perempuan umumnya,” katanya. Pembukaan pameran tanggal 21 April itu juga sebuah bentuk penghormatan terhadap tokoh Kartini yang telah memberikan inspirasi kepada kaum perempuan. Karena itu, pada pembukaan pameran tersebut Sutrisno juga mengajak ibunya datang menyaksikan pameran fotografinya. Pameran diawali dengan atraksi singkat mengenai tokoh Kartini oleh mahasiswa kursus bahasa Prancis. Lalu dibuka secara resmi oleh Duta Besar Prancis Mr Jean Charles Berthonnet.

Dalam sambutannya, Jean Charles Berthonnet menyampaikan apresiasinya kepada Sutrisno. “Kami mengapresiasi dan memberikan dukungan kepada Sutrisno untuk dapat memerkan karya-karya fotografinya di Pusat Kebudayaan Institut Français,” katanya. Jean Charles Berthonnet berharap kerja sama seni dan budaya antara Indonesia dan Prancis bisa memotivasi para seniman muda berbakat untuk dapat berkarya dan bisa tampil ke forum internasional. Hasiholan Siahaan, fotografer senior KORAN SINDO selaku kurator pameran mengatakan, karya-karya Sutrisno Jambul lahir dari sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Selama 10 tahun, dari 2004 hingga 2015, Sutrisno berkeliling Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi memotret sampah kota yang menempel di dinding dan bertebaran di jalanan. Oleh Sutrisno, itu semua akhirnya membuahkan sebuah karya seni yang spektakuler. Karya-karya Sutrisno, kata Hasiholan, terinspirasi oleh fotografer kelas dunia seperti Sebastiao Salgado, Ralph Gibson, Daido Moriyama, Vivian Maier, Elliott Erwitt, Nabuyosi Araki dan Ansel Adams. Karena itu, sangat mungkinkarya-karya Sutrisno akan dilirik dunia.

Kehebatan Sutrisno terletak pada bidikannya, yaitu sampahsampah kota yang kemudian jadi karya seni. “Sebuah mahakarya fotografi fine art yang lahir di negeri ini. Tidak banyak fotografer yang menekuni atau bertalenta di bidang ini. Saya melihatnya ini sebuah karunia pemberian Tuhan, yang ia maksimalkan. Karyanya bagai cakrawala yang memuaskan seluruh pencinta seni. Ia berkomunikasi langsung dengan sang pencipta-Nya saat menekan shutter speed. Karya seninya merupakan hasil dari rangkuman doa selama sepuluh tahun, dahsyat,” papar Hasiholan.

Lebih jauh Hasiholan menilai karya-karya fotografi Sutrisno Jambul bisa dikatakan sebagai heroes of education , di mana ia bagian dari orangorang yang memajukan pendidikan melalui karya seni fotografi. Rasa cinta kepada ibundanya dan tanggung jawabnya kepada bangsa ini sudah ia berikan melalui karya-karyanya. “Saat ini ia telah menemukan tujuan hidupnya,” pungkas Hasiholan.

Donatus nador