Edisi 21-01-2017
Afrika Barat Tekan Jammeh Mundur


DAKAR- Para pemimpin Afrika Barat menekan pemimpin Gambia, Yahya Jammeh, untuk mundur dari jabatannya atau akan menghadapi kekuatan militer regional.

Pasukan militer Afrika Barat pun telah memasuki perbatasan Gambia untuk menuju ibu kota Banjul kemarin. Presiden Guinea Alpha Conde dan Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz menuju Gambia untuk negosiasi, mendesak Jammeh mundur secara damai setelah kalah pemilu.

Mereka menekan Jammeh menyerahkan kekuasaan pada Presiden baru Adama Barrow. Badan regional Ecowas sebelumnya telah menetapkan batas waktu kemarin siang bagi Jammeh untuk melepas kekuasaannya. Sebagai bentuk tekanan keras, Ecowas telah mengerahkan 7.000 tentara untuk memasuki Gambia dari arah tenggara, barat daya, dan utara.

”Kami menunda operasi militer dan memberinya ultimatum. Jika hingga tengah hari Jammeh tak mau meninggalkan Gambia, maka kami akan melakukan intervensi militer,” tegas Ketua Ecowas, Marcel Alain de Souza. De Souza mengatakan, 7.000 personel militer dari Senegal dan empat negara lainnya dimobilisasi melintasi perbatasan dan masuk negeri kecil itu untuk mendesak Yahya Jammeh mundur.

Mereka pun menunggu hasil perundingan mediasi sebelum memutuskan langkah. ”Selama Conde dan Aziz di sana kami tidak akan meneruskan permusuhan,” papar sumber kepresidenan Senegal. Adapun lebih dari 45.000 warga Gambia mengungsi akibat krisis politik yang terjadi selama sebulan terakhir.

”Sekitar 45.000 orang asal Gambia telah memasuki wilayah Senegal, di tengah ketidakpastian situasi politik,” ungkap pernyataan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), dilansir kantor berita AFP . ”Pasukan Senegal dan Afrika Barat telah memasuki Gambia pada Kamis (19/1),” papar UNHCR yang khawatir akan ada lebih banyak pengungsi lagi jika ketegangan kian meningkat.

Sebanyak 800 orang telah menyeberang ke wilayah Guinea- Bissau. UNHCR juga melaporkan bahwa para pengungsi yang masuk Senegal adalah warga Gambia, Senegal, serta warga yang memiliki dua status kewarganegaraan seperti Ghana, Liberia, Lebanon, Guinea, dan Mauritania. Ribuan turis asing juga telah meninggalkan Gambia yang terkenal dengan pantai- pantai Atlantik yang indah.

Gambia selama ini merupakan tujuan wisata bagi warga Eropa dan pariwisata menjadi sumber utama perekonomian negara itu. Situasi politik yang tak menentu di Gambia membuat Adama Barrow dilantik di Kedutaan Besar Gambia di Dakar, Senegal, pada Kamis (19/1). Langkah itu dilakukan setelah Jammeh tak mau melepas kekuasaannya.

Kekuatan dunia hanya mengakui Barrow sebagai presiden yang sah. Jammeh pun semakin terisolasi dan para menterinya banyak yang mengundurkan diri. Barrow tetap berada di Senegal untuk menunggu hasil perundingan. Dia akan kembali ke Gambia setelah mendapat jaminan keamanan. Di Conakry, menteri dan penasihat Conde, Kiridi Bangoura menjelaskan Jammeh akan ditawari suaka di negara mana pun yang diinginkannya.

Bendera putih tampak dikibarkan dari pos-pos militer Gambia di beberapa wilayah. Kondisi itu menunjukkan proses bertahap militer Gambia menerima Barrow meski ada beberapa unit militer yang masih setia pada Jammeh. Sumber diplomatik menyatakan satu faksi di Garda Republik yang bertugas melindungi Jammeh telah berubah sikap setelah menggelar pertemuan di barak Bakau, dekat Banjul.

Panglima Militer Gambia Ousman Badjie tampak merayakan inaugurasi Barrow dan telah mendeklarasikan dia tidak akan memerintahkan pasukannya untuk membela Jammeh. Para tentara telah diperingatkan oleh Barrow dalam pidato inaugurasinya bahwa mereka akan dianggap sebagai bagian pemberontak jika tetap membawa senjata di jalanan.

Adapun beberapa personel militer tidak berupaya menghentikan kegembiraan warga yang menyambut pelantikan Barrow di beberapa wilayah pendukungnya. Di Banjul yang biasanya terlihat banyak tentara di jalanan, kemarin terlihat sepi. Pertokoan, restoran, dan tempat- tempat pengisian bahan bakar terlihat tutup.

Arvin