Edisi 24-04-2017
Bermain Sandi Berharap Pundi


Presiden Amerika Serikat George Washington mengatakan cara terbaik menyembunyikan rahasia adalah dengan meletakkannya di tempat umum.

Melalui kecerdikan, sebuah fakta bisa dibungkus sebagai narasi fiktif atau sebaliknya. Korupsi merupakan tindakan yang sangat nyata dirasakan dampak akibatnya. Hanya, tidak semua orang mengetahui cara kerja koruptor menjalankan sindikat kriminalnya. Bagaimana mungkin keberadaan mereka seakan tumbuh berkembang biak dengan baik di saat aparat keamanan jumlahnya jauh lebih banyak. Ada banyak cara untuk mengelabui aparat atas tindakan merugikan itu.

Salah satu - nya lewat kata dan bahasa. Kata dan bahasa merupakan alat menangkap makna. Dalam sejarah manusia, kata serta bahasa telah men - jadi alat ampuh dalam membentuk pengertian terhadap realitas di lingkungannya. Lieslie Palmier (2006) penindakan korupsi di Indonesia sulit dideteksi dan sering kali ha - nya koruptor kecil dan yang lemah yang se ring tertangkap, alasan sederhananya mereka begitu lihai lepas dari jeratan hukum dengan metode “canggih” dan mahir menghindar.

Sudah menjadi kenyataan jika aparat dibuat kewalahan, terutama korupsi kerah putih dengan modus operandi yang baru dan ter - kadang sangat rahasia. Tak segan-segan kodekode cantik dalam bentuk sandi digunakan untuk menutupi niat jahat tersebut. James Lull (1998) sandi memiliki pengert i - an yang beragam dan bisa berbeda satu dan lainnya sesuai dengan waktu serta kondisi. Hal itu disesuaikan dengan interpretasi yang ada atas simbol tersebut. Buku ini menunjukkan bagaimana sandi-sandi dibuat secara khusus dengan tujuan tertentu oleh koruptor dengan pemaknaan terbatas yang hanya dipahami oleh komunikator atas pemberi dan penerima pesan.

Di samping itu, pengetahuan dan pe - maknaan akan sandi-sandi korupsi misal “apel malang”, “apel washinton” di telinga masya - rakat belumlah akrab dikarenakan minimnya referensi. Kehadiran buku ini menambah cawan informasi kepada masyarakat bahwa dalam pemberantasan korupsi juga bisa dilaku kan dengan memahami alat budaya, yaitu kata dan bahasa. Buku ini terbilang baru dan mungkin satu-satunya yang mengupas peng guna an sandi dalam kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Memahami sandi korupsi se - tidaknya harus memperhatikan konteks seperti tempat, waktu, peristiwa, situasi, lingkungan, hubungan, budaya, dan pe laku. Pada umum nya, ruang pemaknaan sandi ditutup oleh koruptor demi melin dungi isi dari interpretasi serta mem - produksi “istilah” khusus yang terkadang jauh dari bahasa baku. Ambil kasus kata sandi “350 ton pinang” yang digunakan Yesaya Sombuk, Bupati Biak Numfor, Papua, dalam kasus suap tahun 16 Juni 2014 kepada Direktur PT Papua Indah Perkasa Teddy Renyut guna pengurusan proyek pem - bangunan rekonstruksi talud abrasi pantai.

Sulit memahami kata “pinang” sendiri karena itu menunjukkan identitas budaya Papua jikalau tidak ditunjang pe - ngetahuan, di mana makan pinang dan kapur dianggap sebagai sarana penyambungsilaturahmi (hlm14). Buku ini membatasi peristiwa tindak pidana korupsi dari kurun 2007 hingga 2016 atau sembilan tahun. Penulis mengambil peng - gunaannya dari kasus Anggoro Widjojo dkk (2007) hingga Ariesman Widjaja selaku Presiden DirekturPTAgungPodomoroLand dan Direktur Utama PT Muara Wisesa Samudera dkk (2016) dengan total secara keseluruhan 21 kasus yang tersaji di buku ini.

Fokus pem bahasan terkait analisis alasan peng gunaan sandi, ulasan peng - gunaan sandi di 15 negara lain, hingga sandi koruptor beraroma cinta dan berahi. Buku ini terbagi dalam lima bab dengan penyajian bahasa yang sistematis serta analitis fakta di padu bahasa argumentatif yang ringan menjadi kelebihan lain buku ini. Keberagaman bahasa dan budaya kita akan dengan mudah dipakai menjadi alat komu ni - kasitindakpidanakorupsijikalautidaktunjang oleh pengetahuan kita, karena pengetahuan adalah kuasa.

Korupsi tidak mengenal batas dan akan digunakan semua cara, termasuk berusaha mengecoh penegak hukum lewat “metamorfosis” sandi. Tetapi, buku ini ber - usaha memperingatkan kita bahwa setiap ke - jahatan tidak ada yang sempurna.

Milki Amirus Sholeh,
Pegiat Lingkat Studi Arus Media (ELSAM) Jakarta