Edisi 12-01-2017
Diplonco Senior, Mahasiswa STIP Tewas


JAKARTA– Kasus perploncoan yang menyebabkan kematian kembali terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP).

Ironisnya, dalam lima tahun, lima mahasiswa tingkat pertama tewas seusai dipukuli senior. Kali ini kasus serupa menimpa Amirulloh Adityas Putra, 18. Dia meregang nyawa seusai dihujani bogem mentah di dadanya. Amir, panggilan Amirullah, pun terluka di sekujur tubuh, termasuk organ dalamnya. Amir tewas karena lemas.

”Bibir bagian bawah dalam ada luka lecet, organ dalam rusak, di dalam jantung dan paru-paru terdapat gumpalan pendarahan. Sementara di lambung berisi cairan kehitaman sisa minuman. Korban juga negatif menggunakan narkoba,” tutur Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol M Awal Chairuddin di Polres Metro Jakarta Utara, kemarin.

Setelah kejadian itu, polisi mengamankan lima orang senior Amar, yakni Sisko Mataheru, 19, Willy Hasiholan, 20, Iswanto, 21, Akbar Ramadhan, 19, dan Jakario, 19. Kelima mahasiswa tingkat II itu terbukti kuat dan sengaja melakukan penganiayaan terhadap Amar serta lima rekan angkatannya. Menurut Kapolres, para pelaku yang diamankan terbukti kuat melakukan pengeroyokan dan didakwa melanggar Pasal 170 jo 351 ayat 1 tentang Penganiayaan yang menyebabkan kematian terhadap korbannya.

Mereka pun terancam hukuman 12 tahun penjara. Kapolres mengatakan, kasus ini bermula saat seorang pelaku, Sisko mengajak teman-temannya melakukan ploncoan terhadap junior. ”Ini budaya taruna dari senior terhadap juniornya. Setiap ada pemain marching band baru, mereka melakukan ploncoan,” ujar Kapolres.

Seusai berbincang dengan sejumlah rekannya, para pelaku kemudian mengumpulkan enam korbannya di ruangan dormitory, tempat ganti pakaian mahasiswa sekitar pukul 22.00 WIB. Di situ para pelaku membariskan korbannya dan melakukan penyiksaan. Tak hanya memukul bagian dada, pelaku juga secara beruntun melakukan tendangan kaki terhadap korbannya. Setelah dua jam diplonco, Amir kemudian tumbang.

Para pelaku pun panik dan melaporkan kejadian ini kepada mahasiswa tingkat enam. Setelah itu, mereka menggotong korban guna dibawa ke dokter klinik. Tapi, nyawa Amir tak bisa diselamatkan. ”Dokter menyatakan dia tewas pukul 00.15 WIB,” tegas Kapolres. Dari olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan kemarin pagi, polisi berhasil mengamankan sebotol minyak tawon, satu botol minyak telon, satu gayung mandi, sebuah gelas, dan dua puntung rokok.

”Sejauh ini yang baru diketahui bahwa pelaku melakukan penganiayaan dengan tangan kosong,” tuturnya. Kepala BPSDM Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Wahju Satrio Utomo di STIP mengatakan, investigasi kasus ini masih berlangsung. Tim internal telah dibentuk untuk mengetahui detail kejadian. Untuk mencegah serupa terulang, pihak STIP akan melakukan pemisahan barak terhadap mahasiswanya.

Pagar pembatas juga akan di-buat, termasuk memasang CCTV di sejumlah lorong dalam pemeriksaan mulai dari pukul 22.00 WIB ke atas. Wahju menargetkan, dalam dua hari kerja tim investigasi dapat melaporkan kejadian ini, sehingga evaluasi untuk melakukan pengawasan bakal dilakukan lebih ketat. Di STIP sendiri terdapat 800 taruna.

Sejak berdiri 1953, STIP sudah beberapa kali berganti nama. Kasus perploncoan pertama yang menyebabkan beberapa orang tewas ditemukan pada 2008. Kejadian serupa terjadi pada 2014, namun tempat peristiwanya di luar kampus. Di sisi lain, psikolog Universitas Pancasila Aully Grashinta menyatakan kasus kekerasan di STIP bukan pertama kali terjadi dan berulang terus.

Bahkan, kekerasan ini sudah menjadi ”kurikulum” tidak tertulis di sana dengan tujuan membuat junior menjadi lebih kuat. ”Secara aturan tentu tidak boleh kan dilakukan. Faktanya kerap terjadi,” kata Aully. Kasus perploncoan terus terjadi karena rantainya tidak pernah diputus. Apa yang dilakukan senior akan dilakukan lagi sang junior saat mereka naik tingkat jadi senior.

Bahkan, semua beranggapan kekerasan merupakan cara yang ”biasa” untuk mendidik junior. Tak jarang siswa senior merasa ”bangga” pernah mengalami plonco saat jadi junior dan sekarang mereka ‘survive’ se-hingga selayaknya junior merasakan hal yang sama, bahkan meningkatkan standar kekerasan tersebut. ”Ini menjadi turun menurun atau dapat disebut budaya,” tandasnya.

yan yusuf/ r ratna purnama