Edisi 21-01-2017
Banjir dan Longsor Bayangi Jateng-Jatim


PASURUAN - Sebanyak 700 rumah di Desa Kedung Ringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan masih tergenang banjir setinggi 40 cm. Sawah, jalan, dan fasilitas umum lain juga tergenang.

Kepala Desa Kedung Ringin Vicky Ariyanto mengungkapkan, genangan banjir sudah merendam permukiman warga sejak awal pekan lalu. Air sulit menyusut karena kawasan tersebut adalah cekungan yang lebih rendah dibandingkan muka air Sungai Wrati. “Dalam kondisi normal, genangan air ini akan menyusut hingga tiga hari mendatang.

Namun jika hujan kembali turun, debitairgenanganakanbertahan atau meningkat lagi,” ujarnya. “Kami ingin agar normalisasi sungai dan perbaikan tanggul segera dilakukan. Masyarakat tidak pernah tahu, sungai tersebut menjadi kewenangan Pemkab Pasuruan atau Pemprov Jatim yang selama ini saling lempar tanggung jawab.”

Di Batu, Malang, Jawa Timur, tebing Bukit Songgoriti di dekat kawasan wisata Payung longsor karena curah hujan tinggi. Akibatnya guguran tanah, batu, kerikil, dan pasir menutup separuh badan jalan Batu-Pujon. Kepala Seksi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Batu AchmadChoirurrohimmengatakan tebing yang longsor tinggi 15 meter dengan panjang 8 meter. “Kejadian ini diawali dari turun hujan lebat dalam beberapa hari ini.

Akhirnya permukaan tanah menjadi jenuh. Berikutnya terjadi longsor,” ujarnya. “Terutama malam hari, saat di Kota Batu diguyur hujan. Pengguna jalan harus hati-hati saat melintas di Jalan Payung Songgoriti.” Kepala BPBD Kota Batu Sasmito Hari mengatakan pemkot menyiapkan dana tanggap darurat Rp1 miliar.

Di Kudus, Jawa Tengah, seorang warga Kecamatan Undaan terseretarusbanjirbandangyang terjadi di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, kemarin. Banjir juga menyebabkan tembok salah satu rumah warga di Desa Wonosoco roboh serta tembok pengaman di objek wisata setempat juga roboh. Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Bergas Catursasi Penanggungan, tembokrumahwargayangroboh itu baru terjadi selang tiga jam setelah terjadi banjir bandang.

Korban yang diduga hanyut, kata dia, bernama Alvian, 17, warga Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Informasinya, kata dia, korban datang ke Wonosoco yang merupakan kawasan objek wisata itu, bersama teman-temannya dengan mengendarai sepeda motor saat terjadi banjir bandang. Sepeda motor milik korban bersama sebuah sepeda motor milik temannya terbawa arus banjir bandang, mengingat lokasi parkir kedua sepeda motor tersebut memang berdekatan dengan sungai.

“Diduga, korban berupaya menyelamatkan kendaraannya yang terbawa arus banjir bandang, namun justru korban juga ikut terseret arus air yang deras itu,” ujarnya. Banjir juga mengakibatkan 30-an rumah warga tergenang banjir, sehingga setelah air surut harus membersihkan lantai rumah dari lumpur yang ikut terbawa banjir bandang.

BPBD Kudus menyiapkan mobil tangki yang membawaairbersihuntukmembantu warga membersihkan lantai rumahnya dari lumpur. Di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), warga Soropati, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap yang mengungsi terus bertambah. Pada Kamis (19/1) sore, ada tiga warga yang ikut mengungsi karena khawatir rumahnya terdampak longsor.

“Ada tiga lagi tambahan pengungsi total saat ini ada 148 jiwa,” jelas Indarto, tim dari BPBD Kulonprogo, kemarin. Kondisi warga di penampungan masih tetap sama. Saat malam hari, mereka kembali ke tempat pengungsian di rumah Rusmadi dan di rumah ketua RT 78. Saat siang, mereka banyak yang mencari rumput untuk memberi makan ternak mereka.

Kondisi bukit yang retak masih sama dengan kondisi sebelumnya. Beruntung hujan yang turun tidak begitu deras, dan mengancam longsoran. Semuanya masih dipantau termasuk dengan alat Early Warning System (EWS) yang dipasang di titik longsoran. Sekitar 400 jiwa penduduk Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, terdampakbanjirbandang setinggi 60-80 cm kemarin.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Mohammad Rum mengatakan, banjir bandang tersebut terjadi akibat luapan air hujan dari atas gunung yang menggenangi permukiman warga. “Gang-gang dan jalan raya di Desa Kore juga tergenang air, namun tidak membawa material maupun batu-batuan sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas,” katanya.

Hujan lebat yang mengguyur wilayah gunung dan sekitarnya di Kecamatan Sanggar terjadi sekitar pukul 11.00-12.00 Wita. Air hujan dari pegunungan kemudian mengalir deras ke permukiman warga karena tidak ada irigasi yang mengarah ke laut sehingga air hujan meluap di permukiman penduduk. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun sekitar 400 penduduk Desa Kore terdampak.

arie yoenianto/ maman adi saputro/ ant/ kuntadi