Edisi 24-04-2017
Che di Mata Fidel Castro


Banyak pemuda di berbagai negara, khususnya para aktivis politik, meng agumi sosok Che Guevara. Saking maniak nya terhadap sosok revolusioner itu, mereka kerap mengenakan kaus bergambar Che Guevara atau menempel stiker di pintu kamar, kaca mobil, motor, dan sebagainya.

Rasa-rasanya idola kaum muda itu hal yang biasa. Yang luar biasa adalah ketika seorang tokoh besar, seperti Fidel Castro, juga turut mengagumi Che Guevara. Siapakah Che Guevara? Ernesto “Che” Guevara adalah se - orang pejuang kaum lemah. Lahir di Argentina dari keluarga kelas mene - ngah ke atas, Che bisa menyelesaikan studi di bidang kedokteran. Namun, panggilan hidup menuntunnya untuk mengelilingi Amerika Latin. Ketika lulus dari fakultas kedokteran, Che meninggalkan Argentina dan melayani para penderita pe nyakit kusta di Vene zuela, negara yang rakyatnya meng alami kemiskinan sis tematis akibat pen jajahan Amerika.

Pada 1953 terjadi kekacauan politik di Guatemala. Seorang komandan mi - liter sayap kiri, Jacobo Arbenz, ter pilih sebagai presiden dan melakukan re for - masi politik. Dia meliberalkan hukumhukum perburuhan, menaikkan upah minimum, mengakhiri represi ter hadap aktivitas politik, dan memulai sebuah kebijakan reformasi agraria. Pemerintah Jacobo Arbenz ber akhir pada 21Juni1954ketikaAmerikaSerikat meng hancurkannya. Che yang ikut berjuang di Guatemala akhir nya melarikandiri ke keMeksiko. DiMek siko, Che ketemu tokoh revolusioner Kuba yang juga sedang dalam pelarian, yaitu Fidel Castro dan Raul Castro.

Dalam perjumpaan itu, Che tertarik untuk ikut bergabung bersama Castro di Kuba. Pada 2 Desember 1956 Che ber - sama 82 orang militan berlayar me - nuju Kuba dengan meng guna kan perahu layar yang bernama Granma. Saat men darat di Provinsi Oriente Selatan, Kuba, me reka di sambut de - ngan gelegar perang me lawan tentara Kuba yang dibeningi Amerika. Dari 82 orang gerilyawan, hanya 12 orang selamat, termasuk Che dan Castro ber - saudara. Selanjutnya, dari Pe gunung - an Sierra Maestra, Che dan Castro melan car kan perang gerilya melawan pemerintahan diktator Batista.

Pada Januari 1959 Batista melari - kan diri dari Kuba. Tanggal 2 Januari Castro masuk ke Santiago dan Che ke Havana. Kuba berhasil dibebaskan dari rezim otoriter. Dalam peme - rintahan revolusioner baru, Che ber - tugas untuk melakukan reorganisasi industri dan agrikultural. Che lalu menetapkan sebuah kebijakan bagi mereka yang mempunyai tanah seluas lebih dari 400 hektare untuk di redis - tribusikan ke para petani yang tidak mempunyai tanah dan memaksa para tuan tanah untuk mengerjakan sendiri tanahnya.

Dia membantu untuk menyeleng - garakan sekolah gratis di Kuba dan meluncurkan kampanye sukarelawan pendidikan yang akan digunakan untuk memberantas buta huruf yang meng - hasil kan tingkat melek huruf yang lebih tinggi diban ding kan dengan Amerika. Che menekankan pen ting nya keterlibat an para pemuda dalam per juang an revolusioner. Pada 1965 Che mundur dari pemerintahan dan ingin membantu gerakan revolusioner di Kongo dan Bolivia. Sayangnya, saat di Bolivia pada 1967 Che dibunuh oleh tentara Bolivia yang didukung CIA.

Che meninggal pada usia muda, 39 tahun. Berjuang bersama Che selama revolusi Kuba, memiliki kenangan tersendiri bagi Castro. Pengakuan dan kenangan Castro diungkapkan dalam buku berjudul Che dalam Kenangan Fidel Castro. Castro sendiri sangat mengagumi Che. “Salah satu karakteristik yang saya paling hormati dari Che adalah tekad, determinasi, kekuatan spiritual, dan sikap pantang menyerah”. (hal. 349) Sebagai rekan seperjuangan, Castro melihat keseharian Che di medan perang.

Kehadiran Che, bagi Castro, tidak saja sebatas prajurit yang gigih memper juang kan rakyatnya dari cengkeraman pemerintahan diktator Batista. Lebih dari itu, Che mem beri kan semangat yang tiada taranya ke pada pemuda Kuba. Spirit Che itu meng - hidupkan per juangan, dan seakan Che tetap hidup. Betapa pengaruhnya Che bagi Castro, terungkap dalam buku setebal 364 halaman itu. “Bagi saya, sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa Che telahtiada. Saya seringmemimpi kan nya, saya berbicara dengannya, seolah-olah dia masih hidup...

Dalam hidup nya, Che begitu getol dalam melakukan per - lawanan terhadap penjajah an. Karena ia beranggapan bahwa hidup adalah jembatan dalam membebaskan manusia dari kekeliruan dan keter gantungan terhadap kaum-kaum imperialis. Jika sudah demikian, perang bukan tujuan, melainkan cara meraih kebebasan, yang terpenting adalah revolusi. (hal. 145) Puja dan puji Castro terhadap Che tak hanya itu. Che, menurut Castro, adalah seorang arsitek dan seniman dalam berperang.

Seni berperang yang diterapkan Che menimbulkan simpati banyak kalangan, terutama kaum muda di berbagai negara. Makanya, menurut Castro lagi, Che sepertinya tidak mati. Dia (Che) tetap hidup, sebab sema ngat - nya selalu dikenang. “Seniman boleh mati—utamanya ketika ia menjadi seniman di medan pertempuran yang berbahaya—tetapi yang pasti, Che tidak pernah mati. Che memperlihatkan kepada saya dan dunia, seni di mana ia mengabdikan hidupnya dan intelegensinya terhadap negara”. (hal. 139) Membaca buku yang dialihbahasakan oleh Ruslani ini, sungguh me nimba makna berlapis. Pertama, banyak nilai yang dipetik dari sosok Che.

Misalnya, Che memperjuangkan na sib kaum lemah di negara yang se sungguhnya bu - kan negara Che sen diri. Che ke lahiran Argentina, namun ia berjuang untuk rakyat Venezuela, Kuba, Kongo dan akhirnya mati di Bolivia. Kedua, kerendahan hari Castro yang mengagumi teman seperjuangan. Nilai hidupyangdimilikiChe, menjadipela jar - a n berharga bagi Castro terutama soal komitmen terhadap rakyat kecil. Sejak Castro mengambil alih kekuasaan dari rezim Batista, Catro tetap berpihak kepada kaum buruh tani meski embargo ekonomi diterapkan Amerika Serikat hingga Fidel Castro wafat.

Very Herdiman,
Radaktur Pelaksana Indonews.id