Edisi 20-03-2017
Kecelakaan Lalu Lintas Renggut 26.000 Jiwa Tiap Tahun


Angka korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai 26.000 jiwa setiap tahun. Angka ini seharusnya bisa ditekan dengan disiplin berlalu lintas dan perilaku tertib di jalan raya.

Korban-korban tersebut didominasi usia muda, mulai 17 hingga 30 tahun, dari siswa sekolah menengah atas (SMA) hingga mahasiswa. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan pentingnya sosialisasi berkendara dengan tertib dan aman kepada para mahasiswa. Bila tidak ada upaya pendekatan semacam ini, angka kecelakaan tiap tahun pada golongan ini bisa makin meningkat.

”Kalau dibiarkan akan terus melejit naik, bisa menyentuh angka 30.000, bahkan 40.000. Nah, itu harus dilakukan soft approach agar masyarakat secara ikhlas, rela dari hati kecil dari dalam dirinya sendiri untuk mau berlalu lintas tertib, aman, dan sopan,” ungkap Royke. Royke juga mengingatkan pentingnya disiplin pengendara di jalan raya. Hal ini adalah cerminan dari perilaku keseharian para pengendara. Perilaku berlalu lintas juga akan menjadi cerminan sebuah kota, bahkan hingga memengaruhi citra negara. ”Melihat kota yang semrawut, investor bilang, wah, martabat kita turun, apalagi melihat saling serobot di jalan. Karena kecelakaan kita bisa miskin, bahkan bisa hilang pekerjaan, maka kami mengingatkan para pengendara, termasuk mahasiswa, untuk tertib berlalu lintas dengan menaati peraturan,” lanjutnya.

Royke juga mencanangkan 2017 sebagai tahun keselamatan berlalu lintas. Pencanangan ini sebagai target untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Apalagi menurutnya setiap hari tingkat kecelakaan lalu lintas sangat tinggi. Royke mencanangkan tahun ini sebagai tahun keselamatan berlalu lintas. ”Tahun ini saya katakan adalah tahun keselamatan berlalu lintas dan jajaran Korlantas Polri akan berupaya menekan jumlah korban lalu lintas pada tahun ini,” sebutnya. Dalam berlalu lintas di jalan raya, menurut Royke, ada empat faktor yang menjadi kendala, yakni kemacetan, kecelakaan, pelanggaran, dan polusi.

Dia meyakini dengan menanggulangi empat masalah itu, akan tercapai hasil yang diinginkan, yakni dengan terus berupaya mengadakan perbaikan pelayanan kepolisian, khususnya di bidang lalu lintas yang terus bekerja sama dengan para stakeholder untuk mengampanyekan keselamatan berlalu lintas. Pengamat kepolisian Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar mengatakan bahwa selama ini para pengendara banyak yang menganggap remeh tata aturan patuh lalu lintas di jalan raya.

”Kebanyakan masyarakat anggap remeh, mereka pikir toh nanti bisa berdamai dengan petugas. Harus diubah pikiran seperti ini. Oknum nakal tindak tegas agar tidak terjadi seperti ini. Dampak dari minim kesadaran berlalu lintas ini bukan main-main, akan terus meningkat angka kecelakaan,” ungkapnya. Bambang juga mengatakan perlu diperketat proses uji kompetensi SIM. ”Perlu ada kompetensi mengemudi bagi pengendara. Ini wajib dipenuhi. Kalau tidak memiliki kompetensi cabut saja SIMnya. Petugas kepolisian harus benar-benar tegas,” imbuhnya. Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, menekan kecelakaan lalu lintas bisa dengan cara-cara simpatik. Cara ini justru akan lebih menarik simpati masyarakat kepada Polri ketimbang dengan mengedepankan tindakan hukum.

”Jika masyarakat sudah simpati, akan sangat mudah bagi Polri untuk menggugah kesadaran masyarakat. Lakukan kegiatan preventif dengan penjagaan, pengaturan, dan patroli. Selanjutnya baru kegiatan represif atau penegakan hukum,” papar Neta.

Binti mufarida