Edisi 21-04-2017
China-Iran Teken Kontrak Desain PLTN


BEIJING – Perusahaan China dan Iran akan menandatangani kontrak komersial pertama untuk mendesain ulang pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Iran sebagai bagian kesepakatan internasional pada 2015.

Nasib reaktor nuklir Arak di pusat Iran merupakan salah satu poin tersulit dalam negosiasi nuklir yang berjalan lama. Kesepakatan nuklir itu akhirnya dibuat oleh Iran, Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman. Dalam desain ulang, reaktor air berat akan disusun ulang sehingga tidak dapat menghasilkan fisil plutonium yang mampu digunakan untuk bom nuklir. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Lu Kang menjelaskan, kontrak desainulangPLTNakanditandatangani Minggu (23/4) di Wina, dengan kesepakatan awal yang telah tercapai di Beijing.

Lu Kang menekankan, penandatanganan ini bagian penting dari kesepakatan nuklir Iran. “China dan AS menjadi kepala bersama grup kerja di proyek Arak dan kemajuannya lancar,” ungkap Lu kemarin, dikutip kantor berita Reuters . “Penandatanganan kontrak ini akan menciptakan kondisi bagus untuk dimulainya proyek desain ulang,” papar Lu. Iran menyatakan PLTN air berat 40 megawatt itu bertujuan memproduksi isotop untuk kanker dan perawatan medis lain.

Teheran menyangkal memiliki aktivitas nuklir untuk pengembangan senjata. Pengumuman ini muncul saat Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menuduh Iran terus melakukan provokasi mengacaukan negara-negara di Timur Tengah. Tuduhan Tillerson itu diungkapkan saat reviu kebijakan AS terhadap Teheran. Tillerson menjelaskan reviu tidak hanya melihat pelaksanaan kesepakatan nuklir 2015 oleh Iran, tapi juga perilakunya di kawasan yang dianggap merusak kepentingan AS di Suriah, Irak, Yaman, dan Lebanon.

Lu meski tidak secara langsung menanggapi komentar Tillerson menyatakan, China berharap semua pihak dapat menjamin kesepakatan nuklir dapat diterapkan, mengatasi perbedaan pendapat, dan memberi kontribusi positif untuk nonproliferasi nuklir dan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah. Sebelumnya, China kurang berperan aktif dalam isu-isu di Timur Tengah. Kini Beijing mulai lebih aktif terlibat dalam berbagai isu di kawasan itu.

Muh shamil