Edisi 20-02-2017
Dunia Usaha Harus Kembangkan Model Bisnis Kreatif


JAKARTA - Dunia usaha diminta untuk dapat berinovasi dan bertransformasi untuk menghadapi persaingan bisnis di era disrupsi ini.

Tanpa hal-hal tersebut perusahaan tidak akan mampu bersaing. Guru besar FEB UI Rhenald Kasali mengatakan saat ini telah terjadi perubahan besar, yaitu fenomena berpindahnya pasar karena kemajuan teknologi informasi (TI). Dunia usaha saat ini dihadapkan pada persaingan dari sejumlah platform TI.

”Jikausahawan, regulator, dan politikus sering mengabaikan apalagi tidak paham perkembangan teknologi, dikhawatirkan itu dapat mengganggu pertumbuhan perekonomian Indonesia, padahal kini dunia tengah berada dalam era disrupsi,” kata Rhenald dalam peluncuran buku hasil kajiannya berjudulDisruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber kemarin di Jakarta. Menurut pakar manajemen tersebut, inovasi saja tidak cukup bagi perusahaan untuk bertahan. Hal ini terlihat dari tumbangnya perusahaan ponsel asal Finlandia, Nokia, karena kalah bersaing dengan perangkat ponsel lain.

Untuk itu perusahaan harus bisa bertransformasi dengan kemajuan teknologi. ”Di dalam institusi, inovasi tidak selalu menyelamatkan. Kita menyangka itu cara-cara terbaik seperti manajemen SDM, padahal belum tentu yang terbaik. Untuk itu harus ada transformasi dalam model bisnis,” tuturnya. Untuk itu mutlak hukumnya bagi dunia usaha dalam mengembangkan inovasi meski tidak terbatas hanya pada produknya. Dunia usaha juga dituntut untuk dapat memetakan dampak disrupsi pada persaingan, pembangunan pola kerja sama, dan jejaring.

Di sisi lain mereka juga harus bisa mengembangkan model bisnis yang kreatif untuk menjawab tuntutan baru pelanggan. ”Untuk menghadapi persaingan usaha, kita harus bisa berkolaborasi bukan malah mematikan, Disney tidak membunuh Pixar, tapi malah merangkulnya,” paparnya. Rhenald juga menjelaskan, pola bisnis lama harus segera diubah. Perusahaan-perusahaan besar cenderung masih menjalankan pola tersebut karena mereka menilai paling mengetahui keberadaan pasar dengan kekuatan branding .

Heru febrianto