Edisi 20-03-2017
Kesigapan Tentara Dipuji


Politikus Prancis bersatu memuji para tentara yang berhasil menggagalkan serangan teror mematikan di Bandara Orly.

Pujian para politikus Prancis itu tidak lain dalam rangka pemilu presiden yang akan digelar pada 23 April mendatang. Mereka ingin memikat simpati publik kalau keamanan juga menjadi salah satu program utama. Kandidat presiden Marine Le Pen yang biasanya bersitegang dengan pemerintah kini juga memuji aksi tentara. ”Saya berjanji akan melaksanakan sejumlah kebijakan untuk menjamin keamanan Prancis,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan calon presiden independen Emmanuel Macron. Dia memuji profesionalitas tentara yang mampu menggagalkan aksi teror. ”Saya akan menghidupkan kembali wajib militer untuk negara agar demokrasi kita lebih bersatu dan meningkatkan pertahanan bersama,” kata dia. Kemudian, Presiden Prancis Francois Hollande juga memuji ketangkasan tentaranya. ”Saya mengucapkan keberanian dan efisiensi polisi dan militer yang menghadapi kekerasan dari orang yang berbahaya,” puji dia.

Sementara itu, aparat keamanan Prancis menyelidiki motif penyerangan terhadap seorang tentara perempuan oleh pria yang diidentifikasi bernama Ziyed Ben Belgacem, 39, di Bandara Orly. Belgacem yang merupakan warga Prancis menyerang dan berusaha melumpuhkan seorang tentara Prancis. Insiden tersebut berlangsung saat Prancis masih dalam status darurat. Militer Prancis diterjunkan ke jalanan dan titik strategis di Paris untuk menjamin keamanan warga. Menurut penyidik Prancis, Francois Molins, Belgacem merebut senjata si tentara dan menodongkan senjata.

”Letakkan senjatamu, angkat tangan. Saya siap mati. Dengan segala cara bisa mati,” kata penyerang saat mengancam tentara Prancis. Si penyerang berusaha memanfaatkan si tentara sebagai tameng. Kemudian, si tentara berlutut sehingga dua prajurit lainnya bisa menembak si penyerang. Ben Belgacem juga membawa bensin di tas punggung. Menurut para pejabat, Belgacem memiliki catatan kriminal dan pernah terjerat aktivitas radikalisme.

Insiden tersebut bersamaan dengan tetap diberlakukannya status darurat di seluruh Prancis. Itu setelah serangkaian serangan teror yang menewaskan 230 orang sejak Januari 2015. Menurut Molins, Belgacem sebelum menyerang tentara juga dilaporkan menembak seorang polisi di Paris utara pada Sabtu lalu. Seorang petugas polisi terluka di kepala. Belgacem tinggal di apartemen di Garges-les- Gonesse. Polisi sudah menggeledah apartemen tersebut. Para penyidik kini menginvestigasi aksi teror tersebut. Ayah pelaku, kakak, dan sepupu berusia 35 tahun juga ditahan polisi untuk kepentingan penyidikan.

”Tiga saudara tersangka pernah berhubungan dengan polisi sebelumnya,” ucap Molins. Penerbangan ditunda di Bandara Orly selama beberapa jam menyusul insiden penembakan pada Sabtu pukul 08.30 pagi tersebut. Sekitar 3.000 orang dievakuasi dari bandara. Ribuan penumpang terjebak di bandara. Beberapa penerbangan yang hendak mendarat di Orly langsung dialihkan. Insiden teror itu terjadi jelang pemilu yang akan digelar pada 23 April mendatang. Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan pemerintahannya tetap memerangi terorisme.

”Kita akan memperkuat keamanan dan menjamin perlindungan negara kita,” ujar dia. Menurut saksi mata, situasi sangat kisruh saat penembakan terjadi. ”Ada kepanikan besar,” ujar Sofian Slim, saksi mata, kepada AFP . Pasukan elite polisi langsung bergerak cepat untuk mencari bom yang mungkin ditinggal penyerang.

Menurut Molins, Ben Belgacem diyakini mencuri mobil dan mengendarai ke Orly setelah menembak polisi. Belgacem pernah terlibat dalam beberapa kali pemerkosaan dan terlibat aksi radikalisme pada 2015. Tapi, namanya tidak masuk dalam daftar orang yang berpotensi melaksanakan aksi teror.

Muh Shamil