Edisi 27-03-2017
Nyepi dan Damai di NKRI


Sejak Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1984, saudara-saudari kita pemeluk Hindu bisa melaksanakan catur brata penyepian dengan lebih baik.

Namun, jujur, banyak kawan beragama Hindu merasakan bahwa kian hari merayakan Nyepi di kota-kota besar khususnya menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, jelas di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, tentu jelas tidak mudah melaksanakan amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Amati geni bukan hanya secara nyata tidak menyalakan api (dan aliran listrik) serta segala turunannya seperti menghidupkan komputer, radio, televisi, merokok, memasak, membakar sampah, dan sebagainya, tetapi brata itu lebih luas maknanya agar kita tidak mengumbar hawa nafsu.

Pada saat Nyepi akan kentara sekali tingkat pengendalian diri seseorang. Yang biasanya baru sarapan pukul 10.00 pagi, misalnya bagi yang tidak terlatih, pada hari Nyepi demikian kelaparan sejak pukul 07.00 pagi, padahal hari itu seharusnya puasa makan dan puasa minum sehari penuh. Ujian berupa meditasi dan introspeksi diri dalam rangka menyongsong Tahun Baru Saka 1939 tersebut berlangsung sehari penuh sejak pagi pukul 06.00 sampai esok harinya pada jam yang sama. Ibarat tutup buku organisasi (perusahaan), selama sehari penuh tersebut juga tidak melakukan segala bentuk aktivitas sehari-hari (amati karya) dan tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak bersenang-senang (amati lelanguan).

Tidak berkontak dengan orang lain dan dunia luar. Kondisi demikian diharapkan menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya keberadaan dan kehadiran saudara, teman, tetangga, pelanggan, dan handai tolan dalam kehidupan kita. Di sinilah ada paradoks Nyepi. Kesendirian tersebut juga ibarat menjadi seorang pengangguran, terkurung, dan kesepian. Kondisi ini diharapkan memberi pelajaran berharga tentang hidup sebatang kara, yatim piatu, papa, dan nestapa tanpa pekerjaan.

Dengan catur brata, penyepian juga menggugah kesadaran akan pentingnya ber-danapunia, tolong-menolong, gotong-royong, kerja bakti, dan aneka aksi sosial demi kesejahteraan dan peningkatan derajat hidup manusia dan masyarakat. Untuk itu, sepanjang tahun, kecuali hari Nyepi, penganut Hindu wajib bekerja keras untuk memperoleh artha (kekayaan) berlandaskan dharma (agama). Artha tanpa dharma akan melahirkan kelompok masyarakat sudra.

Dengan nilai lebih (dharma dan artha) niscaya akan sampai pada tahapan tujuan hidup berikutnya; “kama“, sebagai sumbangsih nyata terhadap masyarakat sekitar dalam arti seluas-luasnya berupa material atau immaterial tanpa pamrih. Akhirnya dengan catur brata penyepian, tercapai tujuan hidup moksa, menurut ajaran Catur Purusa Artha. Untuk maksud tersebut, Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Makiyis, Ngrupuk (Tawur Agung), dan ditutup dengan Dharma Santi pada saat ngembak geni (sehari sesudah Nyepi).

Makiyis adalah prosesi membersihkan diri masing-masing dan semua peralatan pura di sungai atau pantai dengan memercikkan tirta suci. Tawur Agung atau Tawur Kasanga (karena dilaksanakan pada Sasih Kasanga) yang lebih dikenal sebagai pawai Ogoh-ogoh dimaksudkan agar kekuatan jahat tidak mengganggu kehidupan manusia dalam satu tahun ke depan. Kegiatan ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi pada sore hari menjelang malam. Pesan moral dan nilai luhur yang terkandung dalam perayaan Nyepi selain yang telah diuraikan di atas adalah ajakan untuk selalu berdamai sebagaimana diucapkan dalam mantra penutup dalam segala aktivitas pemeluk Hindu Dharma; Om Santhi, Santhi, Santhi.

Artinya (atas perkenan-Mu Tuhan, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu). Pesan damai itu rasanya menemukan relevansinya jika kita kaitkan dengan sikon dunia terkini, termasuk di negeri kita. Kita tentu sangat prihatin bahwa dalam kehidupan nyata maupun dunia maya, kebencian masih begitu mendominasi, sehingga damai ibarat jauh panggang dari api. Sungguh merisaukan ada kalangan yang tidak senang hidup damai. Mereka seolah haus berkonflik dan ingin negeri kita mirip Suriah, Irak, Afghanistan, atau Pakistan yang hampir tidak pernah ada perdamaian. Karena, nyaris setiap hari terjadi bom bunuh diri.

Bahkan, cukup banyak sosok yang dulu jadi perekat sesama anak bangsa, namun garagara perbedaan pilihan politik, seperti menjelang Pilkada Jakarta 2017, rela mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar. Menyedihkan bahwa sebagian warga kita telah memilih menjadi “bigot“, istilah dari dunia psikologi yang menunjuk pada orang yang sangat kuat loyalitasnya pada kelompok tertentu, entah agama, etnis, partai politik, sekolah, kampus, kampung, dan sebagainya.

Orang semacam ini sangat sulit bertoleransi pada golongan lain yang tidak sepaham. Agama yang seharusnya menjadi jalan menebar damai, oleh para “bigot“, justru ditafsirkan sebagai alat penebar benci, konflik, dan permusuhan. Itulah yang membuat perdamaian di negeri ini sangat rentan di-rusak. Kita pun mengalami krisis kebinekaan yang paling parah sejak NKRI berdiri pada 1945. Maka itu, kita perlu menengok konstitusi kita, yakni UUD 1945 dan Pancasila.

Selama ini konstitusi dan dasar negara ini hanya menjadi macan kertas, yang spiritnya telah dilupakan dan dicampakkan, bahkan oleh para pemimpin dan elite. Padahal, sebagaimana digagas para pendiri bangsa ini, UUD 1945 dan Pancasila adalah acuan utama untuk hidup berbangsa dan bernegara di tengah kemajemukan bangsa. Selain itu, mari menggunakan akal sehat kembali karena akal sehat mati ketika kebencian justru kita amini. Padahal, kebencian yang memicu kekerasan adalah api yang bisa merusak semua tatanan, bahkan menghanguskan apa yang baik, yang sudah kita capai bersama di negeri ini.

Jadi, sebenarnya musuh kita bukanlah umat beragama lain. Musuh bersama kita adalah korupsi dan betapa mudahnya kita diadu domba. Kita justru perlu terus bersinergi dengan semua tokoh dan umat beragama lain, yang berkehendak baik untuk terus mempromosikan perdamaian dan menjauhi kebencian. Maka iut, kita perlu kembali belajar untuk berbeda dan menghormati perbedaan, tanpa perlu meletupkan kebencian pada pihak lain. Akhirnya, semua agama membawa pesan damai dan kasih, termasuk agama Hindu.

Seiring Nyepi kali ini, semogakita tergerak hati untuk mengimplementasikan pesan damai dan kasih dalam agama yang kita anut. Dengan demikian, damai dan kasih dalam diri kita juga akan memantul ke luar dan dirasakan oleh orang-orang lain. Sudah waktunya bagi kita menjadikan perdamaian sebagai gaya hidup. Kemajemukan Indonesia yang begitu kaya akan tetap lestari jika kita berani mengapresiasi apa yang baik dan bernilai pada umat beragama lain.

Sebagaimana Raja Salman dari Saudi yang mengapresiasi Bali dengan tinggal di Bali selama seminggu lebih, kita juga sebenarnya bisa terus belajar mengembangkan pendekatan yang lebih apresiatif daripada menonjolkan ketidaksukaan atau kebencian kita pada yanglain. Dengandemikian, perbedaan tidak akan diperuncing, tapi titik temu akan dicari guna memberi kontribusi nyata bagi negeri ini. Selamat Nyepi dan Tahun Baru Saka 1939.

Tom Sapta Atmaja
Teolog dan Aktivis Lintas Agama