Edisi 21-01-2017
Poros Mahasiswa - Hoax & Dinamika Pilkada 2017


Sekarang ini kita dihadapkan pada munculnya berita-berita yang tidak pasti kebenarannya atau sering disebut hoax. Munculnya sumber berita palsu ini dapat menimbulkan tenggang rasa antarumat, yang dapat menimbulkan satu sama lain saling lempar fitnah dan menyebar kebencian.

Hal demikianlah yang dikhawatirkan terjadi dalam penghelatan pilkada kelak, ketika pasangan calon kepala daerah memainkan informasi hoax untuk saling serang argumen terhadap pasangan lawan politiknya. Hal itu dinilai wajar dalam pilkada, karena akan menunjukkan seberapa serius pasangan calon dalam memuluskan langkah mereka menduduki singgasana tertinggi di daerah pilihannya, dan juga untuk menunjukkan kualitas yang dimiliki, sehingga dapat menggaet simpatisan dari masyarakat.

Persaingan dalam menggaet dukungan dari masyarakat harus dilakukan dengan cara-cara yang etik. Jangan cuma menyebar berita-berita yang membuat bodoh masyarakat dan tidak valid kebenarannya. Sehingga dengan mudahnya berita tersebut dapat diterima secara gamblang oleh sebagian masyarakat. Tentunya, hal tersebut membuat keresahan sebagian masyarakat.

Dan juga setiap calon pasangan dalam beradu hal soal gagasan harus dilakukan secara konseptual, jangan hanya dilakukan dengan unsur-unsur kebohongan. Konflik yang ditimbulkan akibat berita hoax ini memang tidak bisa dilihat secara kasatmata, karena konflik yang ditimbulkan hanya dalam dunia maya.

Namun, hal tersebut justru menimbulkan kebencian dan permusuhan di dalam masyarakat. Momen seperti inilah yang mengakibatkan masyarakat menjadi korban, karena masyarakat akan terkungkung dalam berita bohong tersebut. Sebuah berita merupakan hal yang penting, terlebih untuk bisa mengetahui track record dari pasangan calon kepala daerah.

Berita tentang sebuah gambaran kebijakan apa yang dilakukan dalam jangka lima tahun ke depannya, supaya masyarakat tidak lagi salah pilih ataupun tertipu dalam menentukan calon pasangan yang pas untuk memimpin daerahnya ke depan. Masyarakat membutuhkan berita-berita yang mengetahui dan membedakan mana berita yang terbukti kebenarannya dan mana berita yang hoax.

Cara paling efektif untuk meminimalisasi berita-berita hoax adalah menyadarkan individu dengan individu lain, atau melalui literasi media. Maksud literasi media di sini adalah kita bisa menghindarkan diri dari dampak buruk yang diciptakan berita hoax tersebut bagi kehidupan keseharian masyarakat. Berita hoax tidak akan hilang selama tidak ada kesadaran bersama untuk memeranginya. Wallahu a’lam bi alshawab.

ANDIKA KHOIRUL HUDA
Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi,
UIN Walisongo Semarang