Edisi 21-01-2017
TAJUK - Hoax dan Stabilitas Nasional


Akhir-akhir ini hoax menjadi perbincangan serius di negara ini seiring dengan maraknya berita palsu di jagat media sosial. Keberadaannya pun semakin meresahkan dan dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.

Banyak kalangan mengaku prihatin dengan merajalelanya hoax ini. Salah satunya adalah Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lewat akun Twitter @SBYudhoyono, Jumat (20/1), SBY menulis: “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah dan penyebar ‘hoax’ berkuasa dan merajalela.

Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*“. Terlepas ada atau tidaknya motif politik di balik ungkapan SBY tersebut, patut direnungkan kita semua bahwa dampak buruk hoax bagi negara ini sudah semakin mengkhawatirkan. Hoax telah menjadi momok nasional yang harus diperangi bersama, karena dampak yang ditimbulkan begitu masif dan sangat merugikan banyak pihak, baik itu secara reputasi, materi, hingga mengancam nyawa.

Berita bohong, apalagi fitnah memang sangat berbahaya dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berita fitnah tersebut sangat berpotensi memunculkan konflik horizontal di masyarakat. Dan, hal itu akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Mengapa hoax sangat marak? Ada sejumlah faktor yang melatarbelakanginya.

Pertama, maraknya hoax didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Salah satunya sambungan jaringan internet yang berkembang sangat cepat. Survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sepanjang 2016 menunjukkan bahwa sekitar separuh penduduk Indonesia sudah tersambung dengan jaringan internet.

Dari total penduduk Indonesia sekitar 256,2 juta jiwa, 132,7 juta di antaranya sudah terhubung dengan internet. Hal ini juga didorong oleh pesatnya perkembangan infrastruktur TI seperti smartphone di Tanah Air. Sebagai ilustrasi, 63,1 juta orang atau 47,6% mengakses internet dari smartphone.

Bahkan, lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018, pengguna ponsel pintar Indonesia menempati posisi empat dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Makin mudahnya masyarakat dalam mengakses internet tersebut ikut mendorong merajalelanya hoax di media sosial. Kedua, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia memiliki andil yang besar terhadap maraknya hoax.

Soal minat membaca masyarakat Indonesia memang sangat memprihatinkan. Mengacu pada studi “Most Literate Nation In the World” oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia ternyata menempati peringkat ke-60 dari 61 negara. Sangat ironis. Kurangnya minat baca ini sangat berpengaruh pada kebiasaan masyarakat kita yang enggan untuk mencari kebenaran saat menerima informasi, baik itu hoax ataupun bukan.

Bahkan, ada sensasi tersendiri saat menyebarkan berita itu pertama kali. Ketiga, pemerintah tampaknya cukup permisif dengan keberadaan hoax tersebut. Ketidaktegasan pemerintah dalam menertibkan hoax ini tentunya ikut mendorong maraknya berita bohong. Pemerintah mungkin telah menutup sejumlah situs yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan nasional, tapi langkah tersebut belum cukup.

Tanpa langkah tegas secara hukum, hoax akan tetap marak. Keempat, ada indikasi berita hoax ini sengaja diciptakan untuk kepentingan politik tertentu. Tak mengherankan jika akhir-akhir ini terjadi saling serang antarkelompok tertentu yang diduga kuat ada pihak yang mengendalikannya secara sistematis.

Karena itu, tak ada cara lain lagi bagi pemerintah untuk segera mencari cara bagaimana mengatasi maraknya hoax tersebut sebelum terjadinya kerusakan yang lebih parah di masyarakat. Penegakan hukum harus dilakukan secara adil, tak boleh pandang bulu. Jangan sampai hoax yang menguntungkan rezim berkuasa dibiarkan, sedangkan yang dianggap “mengganggu” pemerintah dibabat habis.

Kalau tidak, pemerintah akan dituding ikut menyebarkan hoax seperti yang ditudingkan sejumlah kalangan. Selain itu, masyarakat juga harus kritis dengan melakukan verifikasi dan mencari kebenaran berita yang diterimanya. Literasi sangat penting dilakukan dalam memberikan pencerahan untuk bijaksana menggunakan media sosial. Mari kita semua berpikir positif demi kemajuan negara ini.