Edisi 24-03-2017
Skema Integrasi Industri Hulu-Hilir Disiapkan


JAKARTA - Pertumbuhan industri berperan strategis mempercepat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan. Karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan skema integrasi industri dari hulu sampai hilir.

”Skema ini dapat menumbuhkan industri di Indonesia yang implikasinya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, di Jakarta, kemarin. Merujuk data BPS, sepanjang tahun 2016, industri pengolahan nonmigas secara kumulatif tumbuh sekitar 4,42% dengan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional sebesar 18,20%. Pada tahun 2017, industri pengolahan nonmigas diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,2-5,4% dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,4%.

Menurut Airlangga, dalam skema tersebut, integrasi dimulai dari bahan baku, proses produksi, jasa terkait hingga menjadi produk akhir, bahkan sampai pada daur ulang produk industri tersebut. Skema ini, menurutnya, penting bagi peningkatan daya saing industri nasional ke depan. Untuk implementasinya, pemerintah akan mengurangi hambatanhambatan di sektor perindustrian sehingga mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif di dalam negeri. Misalnya, melalui deregulasi dan paket kebijakan ekonomi.

”Saat ini sedang dikaji. Salah satu target yang bisa didorong adalah pengembangan industri padat karya berorientasi ekspor,” tutur Airlangga. Menperin menyebutkan, beberapa sektor kimia hilir yang mampu mendorong ekonomi berkeadilan di Indonesia, antara lain, industri barang jadi karet, industri farmasi dan obat tradisional, serta industri kosmetika. Sebagai gambaran, potensi industri barang jadi karet di dalam negeri, dari hulu didukung dengan area perkebunan karet paling luas di dunia yang mencapai 3,64 juta hektare.

Di sektor antara, lanjut dia, industri pengolahan karet saat ini mencapai sekitar 145 perusahaan yang menyerap tenaga kerja lebih dari 36.000 orang dan memiliki kapasitas produksi hingga 5,2 juta ton per tahun. Sementara di sektor hilir, yang di antaranya meliputi industri ban, sarung tangan karet, dan komponen automotif, terdapat 308 perusahaan dengan kapasitas produksi 1,4 juta ton per tahun. ”Selain itu, industri tekstil dan produk tekstil juga berperan. Sektor ini merupakan kantong penyerapan tenaga kerja terbesar hampir 3,5 juta orang sampai ke skala industri kecil dan menengah (IKM),” imbuh Airlangga.

Untuk memacu daya saing industri ini, Kemenperin tengah menjalankan langkah strategis seperti peningkatan kompetensi tenaga kerja, perlindungan pasar dalam negeri, pengembangan industri subtitusi impor, perluasan pasar ekspor, dan pemanfaatan lembaga pembiayaan ekspor. Kemudian, industri padat karya berorientasi ekspor lainnya yang sedang didongkrak kinerjanya, antara lain, sektor industri alas kaki, industri pengolahan ikan dan rumput laut, industri aneka (mainan anak, alat pendidikan dan olahraga, optik, alat musik), industri kreatif (kerajinan, fashion, perhiasan), sertaindustri elektronik dan telematika.

Selanjutnya, industri furniture kayu dan rotan, serta industri makanan dan minuman. Dengan terintegrasinya sektor industri, pemerintah berharap ke depan ada dampak positif terhadap kinerja manufaktur dan penyerapan tenaga kerja. ”Jika estimasi dari pertumbuhan industri dari agro, logam maupun petrokimia dalam tiga tahun ke depan bisa berjalan sesuai rencana, kami harapkan ada tambahan 500.000 tenaga kerja yang diserap dengan berjalannya proyek,” papar Airlangga. ”Sasaran utama pembangunan industri nasional pada tahun 2017, antara lain, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sekitar 5,4% dan peningkatan jumlah tenaga kerja sektor industri menjadi 16,3 juta orang,” tandasnya.

Terkait tenaga kerja, salah satu kebijakan prioritas industri nasional yang akan dilaksanakan pada tahun 2017 adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui vokasi industri. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Kemenperin Mujiyono menegaskan, untuk mencapai sasaran dalam menciptakan SDM industri yang kompeten, Kemenperin melakukan pembinaan dan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang link and match dengan industri.

”Terdapat empat program strategis yang sedang dijalankan, yaitu pengembangan pendidikan vokasi industri, pengembangan pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1, pemagangan industri, dan sertifikasi kompetensi,” jelasnya.

Oktiani indarwati