Edisi 20-02-2017
Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Melebar


BANDUNG– Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini berpotensi melebar dibandingkan tahun lalu sebesar USD16,3 miliar atau menyusut rasionya terhadap produk domestik bruto hingga 1,8%.

CAD tahun lalu lebih kecil dibandingkan 2015 yang mencapai USD17,5 miliar atau 2,06% terhadap PDB. Namun demikian, perbaikan CAD pada tahun lalu terjadi akibat siklus ekonomi. Meski CAD tercatat menyusut, neraca pendapatan primer dalam CAD masih negatif Rp29,7 miliar. Bahkan, angka ini lebih besar daripada tahun 2015 sebesar Rp28,4 miliar. Untuk diketahui, neraca pendapatan primer menggambarkan utang plus bunga yang harus dibayar suatu negara. ”Secara struktural memang masih ada masalah di Indonesia. Itulah mengapa kita butuh reformasi struktural,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Yoga Affandi, saat pelatihan wartawan di Bandung akhir pekan lalu.

Selain itu, lanjutnya, neraca perdagangan jasa juga tercatat masih negatif. Surplus neraca perdagangan barang pada tahun lalu yang mencapai USD8,78 miliar tidak diimbangi dengan neraca perdagangan jasa yang mencatat defisit. ”Ini karena kegiatan ekspor impor kita yang masih menggunakan jasa maskapai asing,” sebutnya. Yoga mengatakan, masalah struktural tersebut juga tergambar pada neraca pembayaran tahun lalu yang surplus karena ditopang terutama oleh investasi portofolio daripada investasi langsung.

Hal itu menggambarkan Indonesia masih mengandalkan surat utang untuk membiayai kegiatan ekonomi. ”Secara struktural memang perlu diperbaiki dan ini membutuhkan waktu,” tuturnya. Persoalan struktural ini, lebih lanjut Yoga menjelaskan, berpotensi membuat CAD melebar. Proyeksi ekonomi yang tahun ini lebih baik diprediksi akan mendorong kegiatan impor bahan baku/ penolong, modal, dan konsumsi. Indonesia selama ini masih membutuhkan teknologi dari luar untuk mempercepat laju PDB. ”Proyeksi CAD masih akan berubahubah tapi yang penting masih di bawah 3% terhadap PDB,” tandasnya.

Sementara itu, Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, berdasarkan evaluasi perekonomian kuartal IV-2016, BI memperkirakan CAD sepanjang tahun ini akan mencapai USD20 miliar atau 2,11% terhadap PDB. Perkiraan ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencapai USD22 miliar atau 2,4% terhadap PDB. Agus mengatakan, faktor eksternal, yakni pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia tahun ini diprediksi akan lebih baik daripada tahun lalu.

Perbaikan ini akan ditopang oleh perbaikan ekonomi AS, China, Jepang, dan India. Kondisi itu diyakininya akan meningkatkan aktivitas impor di dalam negeri.

Rahmat fiansyah