Edisi 24-03-2017
Peta Jalan dari Strategi Menuju Eksekusi


Strategi yang jitu sekalipun tidak menjamin keberhasilan jika tidak disertai dengan eksekusi yang efektif dan tepat guna.

Keduanya diperlukan keterkaitan, integrasi, dan sinkronisasi. Strategi berbicara tentang otak, eksekusi berbicara tentang tangan dan kaki. Masingmasing terpisah, namun saling terkait. Eksekusi berbicara tentang mobilisasi, pergerakan, dinamika. Oleh karena itu, diperlukan peta jalan (roadmap) bagi setiap individu dan bagian sehingga tidak tertinggal satu sama lain, sebaliknya juga tidak tabrakan dan terjadi duplikasi. Betapa jelas sekalipun bagi manajemen, jika strategi tidak sampai kepada orang-orang yang berada di bawahnya khususnya pelaksana, akan terjadi interpretasi dan pemahaman yang keliru.

Akibatnya, terjadi kekeliruan dalam pelaksanaan juga. Peta jalan dari strategi menuju eksekusi seperti dikatakan oleh Victor Cascella, direktur di Grant Thorntons Global Public Sector, terdiri atas lima tahapan, yakni illustrate, translate, indicate, dedicate and operate. Pertama, illustrate, peta proses yang secara akurat menggambarkan bagaimana nilainilai diciptakan bagi pelanggan melalui proses bisnis. Proses memproduksi sampai penyerahan barang kepada pembeli dan pemakai melewati berbagai departemen (cross-functional).

Sementara nilai-nilai diciptakan, biaya juga meningkat sehingga perlu diperhatikan agar jangan hanya biaya yang meningkat sementara nilai-nilai tidak bertambah. Bukan hanya fisik yang diserahkan kepada pembeli dan pemakai, akan tetapi nilai-nilai yang melebihi harga fisik barang tersebut. Kemampuan dan kompetensi adalah kunci sukses dalam melaksanakan strategi-strategi bisnis. Setiap departemen harus dapat memberikan kontribusi dalam nilai tambah dan biaya terkait yang efisien. Kedua, translate. Menetapkan bagaimana dan di mana serta seberapa besar pengaruh proses bisnis terhadap objektif dari proses tersebut.

ni adalah tugas pimpinan bahkan jika perlu pimpinan tertinggi, tahapan proses memilih dan memutuskan produk dan jasa layanan yang harus dikembangkan agar dapat memproduksi dan menyerahkan produk dan jasa layanan kepada pelanggan. Pimpinan harus dapat menerjemahkan dan mengomunikasikan strategi ke dalam istilah-istilah operasional sehingga dimengerti oleh semua lapisan organisasi dan khususnya para pelaksana agar mereka juga menyadari manfaat bagi organisasi maupun pribadi masing-masing.

Contohnya, strategi mengungkapkan kenaikan penjualan sekian persen, harus disertai dengan rasional dan tujuan dari kenaikan tersebut. Strategi yang benar dapat membeda-bedakan apa saja yang dikerjakan dan seberapa besar hasilnya. Keunggulan kompetitif dipertahankan melalui operasional yang efektif dan efisien melampaui batas antardepartemen dalam menciptakan dan menyerahkan nilai tambah dengan tujuan akhir konsumen dan pelanggan.

Begitu operasional dijalankan sesuai dengan strategi, harus langsung dibuatkan pengukuran terhadaphasilyangdicapaidibandingkan dengan target dalam strategi. Perusahaan juga perlu mengikuti dan menelusuri faktor- faktor yang menjadi penghambat jika pencapaian tidak sesuai dengan target dan melakukan penyesuaian dan perbaikan terhadap operasional. Ketiga, indicate. Mengembangkan sistem pengukuran dan pendataan yang menggambarkan kaitan antara perilaku proses dan performa ter-hadap objektif bisnis serta ke-butuhan pelanggan.

Agar strategi dapat dieksekusi harus ada ukuran-ukuran bukan hanya secara individu dalam proses tertentu itu sendiri, akan tetapi dihubungkan dengan objektif secara bisnis keseluruhan dan objektif pelanggan. Jika secara performa proses tercapai, lalu bagaimana terhadap objektif dalam strategi? Demikian pula jika objektif tercapai, lalu bagaimana dengan performa proses? Performa tercapai 100% belum tentu objektif tercapai 100%. Sebaliknya, jika objektif tercapai 100%, tidak serta merta performa proses tercapai 100%.

Kita terbiasa dengan penetapan pengukuran target secara kuantitatif, seperti omzet, pangsa pasar, produk baru, pelanggan baru. Namun, tidak pernah terpikir proses yang terjadi dalam mencapai itu semua yang dapat juga diukur untuk memastikan bahwa strategi berjalan secara operasional dan untuk itu proses operasional harus diukur juga dengan analisis sebab dan akibat (cause and effect analysis). Keempat, dedicate. Mengidentifikasi dan menempatkan orang-orang yang tepat dengan sistem pelaporan dan disiplin serta pertanggungjawaban untuk mengevaluasi, melacak, dan secara terus menerus memperbaiki performa proses.

Setiap individu dalam organisasi dapat melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri seberapa jauh ia telah meraih performa dalam proses dan juga dampaknya terhadap teman sejawat dalam satu bagian. Pimpinan juga harus tahu dan memonitor progres dalam proses, menganalisis, mengevaluasi dan melakukan perubahan, jika perlu untuk menjamin hasil dan output dengan nilai tambah yang dikehendaki.

Kelima, operate. Mengintegrasikan dengan disiplin dan peralatan pelaporan berdasarkan proses (process-based) ke dalam perencanaan proses manajemen dan sistem manajemen performa. Pada tahapan terakhir dari peta jalan dalam proses eksekusi, sistem manajemen proses terintregasi sebagai perangkat pengambilan keputusan dan disiplin untuk terus menerus menyesuaikan dan mengarahkan usaha-usaha perbaikan guna memastikan bahwa proses eksekusi menunjang strategi dan sebaliknya strategi mempermudah eksekusi.

Sistem manajemen proses sangat berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan lain dalam kompleksitas dan ruang lingkup organisasi.

DR. ELIEZER H. HARDJO PH.D., CM
Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) & The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)