Edisi 21-01-2017
Bahana TCW Kembangkan Reksa Dana untuk Infrastruktur


JAKARTA - PT Bahana TCW Investment Management pada tahun ini berencana meluncurkan 30 produk reksa dana yang salah satunya digunakan untuk permodalan proyek infrastruktur.

Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management Edward Lubis mengatakan, perseroan akan meluncurkan 30 produk reksa dana baru pada tahun ini. Jumlah tersebut sama dengan jumlah produk barusepanjangtahun2016lalu. Salah satu produk reksa dana yang akan diluncurkan Bahana TCW pada tahun ini yaitu untuk mendukung program pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

Hal ini bertujuan untuk mengembangkan akses permodalan ke proyek-proyek infrastruktur. ”Sebagai salah satu manajer investasi yang masih terafiliasi dengan pemerintah, kami juga tetap dipacu untuk mencari alternatif pembiayaan infrastruktur,” kata Edward di Jakarta kemarin. Menurut dia, pembiayaan proyek infrastruktur akan dimulai dari instrumen reksa dana penempatan terbatas (RDPT) berbasis surat utang.

Instrumen tersebut relatif lebih mudah dipahami dan juga dapat memberikan imbal hasil (yield ) yang reguler dan disukai investor institusi. ”Selain itu, kita akan meluncurkan reksa dana syariah global, karena pertumbuhan pasar di AS sangat menarik bagi investor global, ini bisa dimanfaatkan investor Indonesia baik institusi maupun ritel,” paparnya.

Sementara, Direktur dan Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menjelaskan, investor asing masih melirik Indonesia sebagai pilihan investasi meski dibayangi sentimen ketidakpastian global terutama dari Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan menerapkan kebijakan yang proteksionis danpopulis. Halinidikhawatirkan dapat menurunkan arus modal masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia. ”Meski demikian, investor asing tetap melirik Indonesia karena kenaikan harga ekspor komoditas primer, setidaknya ini ditunjukkan kembali meningkatnya kepemilikan investor asing atas surat utang negara,” imbuhnya.

Budi menjelaskan, sentimen dari dalam negeri mengenai pemerintah yang terus melanjutkan reformasi fiskal, salah satunya dengan membenahi sisi penerimaan negara.

heru febrianto