Edisi 20-02-2017
Dua Pertanyaan Raja


Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kesibukan yang sangat padat. Suatu ketika, raja merasa resah dan tidak tenang.

Penyebabnya, karena sang raja sangat ingin tahu, apakah dengan kegiatan rutin yang sudah sungguh- sungguh dikerjakannya, benar-benar bermanfaat buat rakyatnya? Maka, untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, para penasihat dan petinggi kerajaan dimintai nasihat dan pendapat. Tetapi, jawaban yang diberikan sangat beragam dan tidak memuaskan.

Untuk itu, demi ketenangan jiwa dan kelanjutan jalannya pemerintahan yang baik, raja bertekad pergi dari istana guna mengunjungi seorang bijak yang terkenal, yang bertempat tinggal di bawah kaki gunung. Setibanya di sana, si orang bijak terlihat sedang mencangkul tanah, penuh perhatian dan konsentrasi. Walau tahu raja yang datang, si orang tua tetap bekerja dengan tekun. Raja menghampirinya dan berkata, “Saya datang kemari ingin bertanya kepada Anda, orangbijak.” Setelah ditunggu beberapa saat dan tidak ada komentar, raja tiba-tiba mengambil sekop, membantu pekerjaan si orang tua sambil melanjutkan berkata, “Baiklah.

Entah kamu mendengar atau tidak, aku tetap akan bertanya demi kelangsungan kehidupan negeri ini. Pertanyaanku adalah apakah yang telah kulakukan selama ini bermanfaat untuk kesejahteraan orang banyak? Selain itu, kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan hal-hal yang bermanfaat bagi semua orang?” Namun, si orang tua tetap membisu. Dalam kesunyian mereka bekerja, tiba-tiba tampak seorang pemuda berlari limbung ke arah mereka. Sekujur tubuhnya berlumur darah karena diserang oleh serigala yang berkeliaran di sekitar sana.

Raja dan si orangtua segera berlari memberi pertolongan, membawanya masuk ke dalam rumah, menghentikan pendarahan, membersihkan luka, dan mengganti baju yang robek terkoyak. Tak lama, raja pun kelelahan dan tertidur lelap setelah bekerja mencangkul tanah dan mengobati si pemuda yang terluka. Keesokan hari, saat terbangun, raja yang penasaran belum mendapat jawaban, sekali lagi mengajukan pertanyaan. Dengan senyum bijak, si kakek menjawab, “Maafkan hamba yang tidak melayani baginda dengan baik. Sebenarnya apa yang baginda tanyakan telah terjawab semuanya.

Yang dilakukan baginda dan bermanfaat untuk orang banyak adalah sikap dan perasaan baginda setiap kali berbuat sesuatu apa pun juga—dengan tulus dan dilandasi dengan belas kasih. Kemudian, kapan itu harus dilaksanakan? Jawabannya adalah saat ini. Karena yang kemarin merupakan masa lalu dan besok sekadar harapan. Yang terpenting adalah saat ini. Dan, terbukti, baginda tidak segan-segan membantu saya mencangkul tanah dan tidak canggung pula saat harus menolong pemuda yang sedang terluka parah. Membantu sesama, tanpa pamrih, serta dilakukan saat ini dengan tulus adalah tugas kita sebagai manusia.” Raja sangat puas mendengar jawaban tersebut. Ia pun berterima kasih dan berpamitan untuk kembali ke istana.

The Cup of Wisdom

Sebagai manusia, siapa pun kita hari ini kaya, hebat, pandai, atau berkedu-dukan jangan pernah lupa bahwa kita tercipta tidak sendiri. Kita semua diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dengan segala tanggung jawab yang menyertainya, termasuk untuk saling membantu dan saling memberi. Karena itu, jika ada kesempatan berbuat baik, tidak perlu nanti, tidak harus menunggu besok.

Segera singsingkan lengan baju, berbuatlah yang terbaik bagi sekitar kita. Jangan berbuat baik dengan perhitungan atau pandang bulu, apalagi sampai ada pamrih tertentu. Sebab, sebuah tindakan jika berlandaskan niat yang salah, akan menghasilkan hal yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Berbuat baiklah kepada sesama dengan penuh ketulusan yang mendalam dan tidak dibuat- buat.

Lakukan itu di setiap kesempatan yang ada, maka hidup akan terasa lebih indah. Sebab, laksana bibit yang kita tabur, sebuah kebaikan yang kita tanam kelak buahnya kita sendiri yang akan menuainya. Ingat, jangan pernah meremehkan niat baik dan perbuatan baik sekecil apa pun. Semoga kebaikan membantu sesama membuahkan kebahagiaan untuk kita bersama. Salam Sukses Luar Biasa!