Edisi 20-03-2017
Investasi Industri Semen Harus Dijaga


JAKARTA– Beroperasinya pabrik-pabrik semen di dalam negeri akan merealisasi berbagai program pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan kesejahteraan seluruh masyarakat di Tanah Air.

Untuk itu kepastian dan keberlanjutan investasi industri semen harus dijaga. Salah satunya pembangunan fasilitas produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang, Jawa Tengah. “Kepastian investasi pembangunan industri strategis seperti pabrik semen perlu dijaga keberlanjutannya karena membawa efek berganda bagi perekonomian daerah dan nasional, antara lain penyerapan tenaga kerja dan penumbuhan industri kecil berbasis semen yang bisa dikembangkan untuk masyarakat Rembang dan sekitarnya,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Diproyeksikan nilai investasi pabrik semen Rembang mencapai Rp4,9 triliun dengan jumlah tenaga kerja untuk mengoperasikan pabrik yang menggunakan teknologi canggih ini sekitar 261 orang. Selanjutnya untuk mendukung unit lainnya, bakal diserap tenaga kerja yang mencapai 1.600 orang. Dari total peluang kerja tersebut, masyarakat lokal dan sekitarnya akan dilibatkan. Menurut Airlangga, industri semen berperan sebagai penunjang utama dalam percepatan pelaksanaan proyek infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah.

Contohnya pembangunan infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, jembatan, dan bandara. Kemenperin mencatat, jumlah investasi industri semen secara nasional mencapai Rp15 triliun sepanjang tahun 2016. Secara keseluruhan, kinerja industri semen, kaca, dan keramik cukup positif dengan pertumbuhan 5,46% atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,02% tahun 2016. Selain itu mampu berkontribusi terhadap PDB sebesar Rp89,05 triliun atau 0,72% dari PDB nasional. Kapasitas produksi semen secara nasional tahun 2016 sebesar 95,5 juta ton dan diperkirakan mencapai 102,1 juta ton tahun 2017.

Pada 2016 kebutuhan domestik semen sebanyak 62 juta ton dan untuk ekspor sekitar 1,5 juta ton. Menurut Airlangga, selama ini produsen semen di Indonesia telah menerapkan prinsip industri hijau di mana dalam proses produksinya melakukan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan serta ramah lingkungan. Beberapa perusahaan terbukti mampu memenuhi standar industri hijau yang ditetapkan Kemenperin.

Mereka yang berhasil meraih penghargaan industri hijau dari Kemenperin pada 2016 antara lain Semen IndonesiaGroup(PTSemenGresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa), PT Holcim Indonesia Tbk, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, serta PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Pakar ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Muhammad Feriady mengatakan, keberadaan pabrik semen Rembang dinilai akan berdampak positif pada sektor ekonomi mikro di daerah sekitarnya.

“Dengan jalannya kegiatan ekonomi dari beroperasinya pabrik semen, sektor lain seperti industri kecil dan menengah (IKM) juga berpeluang akan hidup,” tegasnya. Feriady melanjutkan, industrialisasi di sebuah provinsi akan berpengaruh pada pendapatan asli daerah (PAD). Dalam hal ini tentu pembangunan di Jawa Tengah akan lebih baik lagi ke depannya.

“Jika pembangunan infrastruktur dan SDM berjalan baik, maka angka kesejahteraan juga akan meningkat. Terutama di daerah sekitar Rembang yang merupakan salah satu wilayah yang tergolong miskin diJawa Tengah,” ungkapnya.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwi wahjono mengatakan, pelaku industri semen di dalam negeri juga diminta terus membangun budaya inovasi untuk meningkatkan keunggulan kompetitif. Menurutnya, inovasi tersebut akan menjadi keuntungan bagi perusahaan agar menjadi lebih efisien, terutama dalam mengatasi kelebihan kapasitas produksi semen.

Oktiani endarwati