Edisi 23-02-2017
Kejar Peluang Pasar Ekspor


JAKARTA – Pemerintah bertekad mendorong ekspor melalui pengembangan ke pasar-pasar ekspor baru yang belum dioptimalkan. Pemerintah juga akan mempercepat penyelesaian perundingan perdagangan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan, ada beberapa negara yang merupakan pasar potensial, namun belum digarap optimal. Negaranegara di kawasan Afrika, Amerika Latin, dan Eurasia akan menjadi fokus prioritas pasar ekspor baru yang akan disasar. Pemerintah akan menindaklanjuti dengan langkah konkret untuk mendorong perdagangan dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Retno menuturkan, kunjungan yang baru dilakukannya ke tiga negara salah satunya Afrika Selatan. Saat berbicara peningkatan kerja sama dengan Afrika, mereka selalu mempertanyakan perihal mekanisme keuangan. ”Kalau sudah kita fokuskan itu, berarti kita sudah bicara konkret. Makanya dalam kunjungan tersebut saya bawa serta BUMN, swasta, sampai perwakilan Exim Bank yang bisa menjelaskan mekanisme keuangan atau pembiayaannya sehingga pembicaraan jadi konkret,” ungkapnya di selasela rapat kerja Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Jakarta kemarin.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, salah satu kendala yang menyebabkan pasar Afrika belum digarap maksimal adalah tingginya bea masuk produk impor ke negara-negara kawasan tersebut. Guna meminimalisasi hambatan tarif ini, Pemerintah Indonesia akan lebih aktif berkomunikasi dan bernegosiasi sehingga tercapai kesepakatan yang bisa mendorong peningkatan perdagangan dari dua belah pihak.

”Kita harapkan tahun ini bisa selesai perjanjiannya atau minimal joint study dulu. Misalnya terkait perdagangan barang itu apa saja yang kita bisa sepakati,” ujarnya. Mendag menambahkan, atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) juga harus berperan sebagai market intelligence guna mengetahui jenis produk apa yang potensial diekspor ke Afrika sesuai kebutuhan atau selera pasar di sana.

Selain Afrika, Enggartiasto juga menyebut beberapa negara Amerika Latin yang mengenakan bea masuk yang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada kesepakatan atau kesepahaman dalam perdagangan. ”Ini yang harus menjadi titik awal kita untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara pasar ekspor baru yang belum kita optimalkan,” tuturnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan ada banyak pasar ekspor baru yang tidak digarap dengan baik oleh Indonesia. Contohnya potensi pasar Afrika senilai USD550 miliar, namun nilai ekspor Indonesia ke sana baru USD4,2 miliar. ”Potensinya besar sekali. Kita lihat, Eurasia.

Negara-negara ini kita lihat, tapi dengan cara serampangan dan tidak memberikan perhatian yang serius kepada mereka,” kata Presiden saat pembukaan raker Kemendag di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/2). Lebih lanjut Mendag menambahkan, perundingan multilateral maupun bilateral juga akan dikejar penyelesaiannya antara lain dengan Australia yang ditargetkan rampung tahun ini, dengan Uni Eropa yang ditargetkan selesai tahun depan.

Selain itu, perundingan multilateral Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang beranggotakan 16 negara (ASEAN+6) juga menjadi prioritas untuk segera diselesaikan. Selama 2016 total ekspor nonmigas Indonesia tercatat USD131,3 miliar dan ekspor migas USD13,1 miliar.

Secara total, dibandingkan ekspor tahun sebelumnya, ekspor 2016 mengalami penurunan sebesar 3,9% (year on year). Negara mitra dagang seperti Amerika Serikat (AS), India, Filipina, Belanda, dan Pakistan menjadi penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar selama 2016 yang jumlahnya mencapai USD24,4 miliar.

inda susanti