Edisi 21-01-2017
Inflasi Januari Diperkirakan Meningkat


JAKARTA - Bank Indonesia menyatakan indeks harga konsumen (IHK) sepanjang tiga pekan pertama bulan Januari 2017 mengalami inflasi 0,69% secara tahunan.

Salah satu penyumbang inflasi bulan ini berasal dari kenaikan tarif listrik 900 VA yang mulai diterapkan secara bertahap. Seperti diketahui, mulai 1 Januari 2017 tarif listrik dengan daya 900 VA bagi golongan rumah tangga yang diidentifikasi mampu berjumlah 18,9 juta naik secara bertahap.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menyebut, berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan BI, inflasi terbilang lebih tinggi bila dibandingkan inflasi Januari tahun 2015 lalu yang sebesar 0,51%. Berbeda dengan tahun lalu, komponen inflasi harga yang diatur oleh pemerintah akan lebih menekan inflasi tahun ini. “Tarif listrik kan naik Januari, Maret, dan Mei.

Biasanya pada bulan yang sama tarif yang voucher (prabayar), sepertiga kan tahun ini disesuaikan. Kalau yang pascabayar dampaknya baru bulan depan,” kata Juda di Jakarta kemarin. Juda mengatakan, dampak kenaikan tarif listrik 900 VA terhadap sebagian besar pelanggan yang dinilai tidak layak untuk menerima subsidi mencapai 0,1% terhadap inflasi Januari.

Tahun ini, dia memperkirakan, kontribusi kenaikan tarif listrik mencapai 0,9% terhadap total inflasi 2017. Juda menambahkan, tekanan komponen inflasi harga yang diatur pemerintah akan lebih berat dibandingkan tahun lalu yang hanya 0,21% terhadap total inflasi tahun 2016 yang sebesar 3,02%. Tidak hanya listrik, Juda juga memperkirakan, naiknya biaya administrasi surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan pengurusan buku kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) akan mengerek inflasi 2017 sekitar 0,22-0,24%.

Juda juga menyebut, tren kenaikan harga minyak dunia berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik. BI, kata Juda, akan memantau terus kajian pemerintah dalam menetapkan harga BBM setiap tiga bulan sekali. “Potensi harga BBM naik juga ada. Kita pantau terus,” kata Juda. BI memperkirakan inflasi sepanjang 2017 bisa menembus 4% akibat tekanan kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah.

Namun BI menilai, hal tersebut secara positif karena kenaikan harga-harga tersebut menjadi bagian dari reformasi fiskal yang dijalankan pemerintah secara konsisten. Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga berpandangan serupa. Kenaikan tarif listrik sebesar 31% terhadap lebih dari 18 juta pelanggan 900 VA akan menyumbang total inflasi antara 0,8-1%.

Selain itu, harga BBM juga berpotensi naik pada kajian berikutnya mengingat harga minyak dunia saat ini sudah di atas USD50 per barel. “Dengan asumsi harga minyak USD55 per barel, maka harga keekonomian premium diperkirakan sekitar Rp6.800- 7.000 per liter dan solar Rp6.200-.6.500. Maka dengan demikian, tambahan inflasi dari kenaikan harga BBM mencapai 0,4-05%,” paparnya.

Josua mengatakan, inflasi harga diatur pemerintah tahun ini bisa mencapai 1,2-1,5% terhadap total inflasi. Adapun, total inflasi sepanjang 2017 diperkirakan mencapai 4-4,2% atau lebih tinggi daripada inflasi 2016 sebesar 3,02%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya juga menyebut, inflasi tahun ini berpotensi naik seiring rencana pemerintahmengalihkansubsidilistrik 900 VA secara bertahap mulai Januari. Bertambahnya pengeluaranbagi kelompokmasyarakat tertentu akan membuat inflasi lebih volatil dibanding tahun lalu.

rahmat fiansyah