Edisi 21-04-2017
Edukasi Nasabah, OCBC Gelar ONe Wealth


JAKARTA – Bank OCBC NISP kembali menyelenggarakan acara tahunan ONe Wealth sebagai bentuk edukasi finansial bagi nasabah dan masyarakat umum.

Head of Individual Customer Solutions Bank OCBC NISP Ka Jit mengatakan, ONe Wealth merupakan program rutin untuk mengedukasi nasabah tentang wealth management secara umum. Melalui acara ini, nasabah dan masyarakat umum diharapkan bisa mendapatkan pemahaman dan persepsi lebih luas. “Kami ingin menjangkau market sebanyak mungkin. Di OCBC NISP, kami menargetkan bisnis wealth management tahunini bisa tumbuh di atas 20% secara tahunan (year on year),” ujarnya kepada media di sela-sela acara ONe Wealth, Get Inside Get Insight, di Hotel The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, kemarin.

Ajang tersebut juga merupakan langkah strategis Bank OCBC NISP untuk terus menerus memberikan added value dalam memaksimalkan investasi nasabah dan masyarakat luas pasca-tax amnesty. “Penurunan bunga bank menjadi single digit membuat tren investasi tidak terpaku pada deposito saja, nasabah dituntut mencari alternatif instrumen keuangan yang diharapkan dapat memberikan return yang kompetitif,” tuturnya.

Acara ONe Wealth dibuka untuk umum dan dikemas dengan classroom sessions sehingga mempermudah pengunjung untuk memilih topik ulasan sesuai yang diinginkan. Adapun, topik ulasan dalam acara ini, antara lain Diginomics, Regional dan Indonesia Market Outlook, Property Outlook. Terkait Market Outlook 2017, ekonom OCBC Bank Singapura Welilian Wiranto mengungkapkan, memasuki kuartal I/2017, ekonomi global menunjukkan pertumbuhan yang robust walaupun dibayangi kekhawatiran akan proteksi perdagangan terutama di kawasan Asia.

Namun, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam waktu dekat, di antaranya pemilu di Prancis serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan semenanjung Korea. “Secara umum, volatilitas pasar sudah mereda. Kebanyakan orang melihat pertumbuhan ekonomi global saat ini lebih baik dibanding antisipasinya,” ujarnya. Untuk Indonesia, di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan 2016, yaitu pada kisaran 5,2-5,3%. Beberapa faktor pemacu pertumbuhan tersebut seperti konsumsi domestik yang tinggi, ekspor yang meningkat seiring pulihnya perdagangan global, serta permintaan dan harga komoditas.

“Ekspor di kebanyakan negara lebih bagus dari ekspektasinya. Begitupun di Indonesia kondisinya tidak hanya lebih bagus dari ekspektasi, tapi juga pertumbuhannya secara tahunan juga unggul dibanding negara lain,” ucapnya.

Inda susanti