Edisi 21-01-2017
RI Perkuat Branding di Forum Ekonomi Dunia


DAVOS - Pemerintah kembali menggelar ”Indonesia Night” pada Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/ WEF) di Davos, Swiss. Ajang ini menjadi sarana bagi pemerintah untuk mempromosikan citra baik Indonesia di dunia internasional.

Acara Indonesia Night tahun ini mengulang kesuksesan ajang serupa pada 2013, 2014, dan 2016. Tahun ini acara didahului diskusi panel yang menghadirkan para menteri Kabinet Kerja dan pengusaha. Beberapa pejabat yang hadir antara lain Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

”Indonesia Night menjadi sarana untuk memperkuat nation branding sekaligus lebih memperkenalkan segenap potensi kekayaan sumber daya alam, produk, keunikan budaya, serta meng-update kontribusi Indonesia terhadap perekonomian dunia kepada para CEO dunia yang hadir di WEF,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Arlinda dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Dia menambahkan, peningkatan nation branding Indonesia menjadi faktor penting demi menggaet perhatian serta menarik minat dan kepercayaan dunia internasional. Untuk itu, ujar Arlinda, butuh upaya terstruktur, sinergis, terintegrasi, simultan, dan berkelanjutan untuk membangun citra positif Indonesia dengan merangkul semua pihak terkait.

Menurut Arlinda, demi meningkatkan nation branding Indonesia yang positif, semua pihak harus senantiasa bekerja keras dan bersinergi dalam meningkatkan kinerja. Pada kesempatan tersebut, para tamudiajangWEFdisuguhi sajian aneka kuliner Nusantara.

Sementara, pada ajang WEF kali ini Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengajak dunia melihat revolusi mental yang diterapkan di Indonesia berhasil mengangkat perekonomian. Enggartiasto mengungkapkan, perubahan pola pikir masyarakat untuk menjadi bangsa besar dan cita-cita yang kuat berdasarkan Pancasila telah berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah di Indonesia.

Dalam satu tahun terakhir, Indonesia menjadi salah satu dari 10 Top Improvers dalam peringkat Ease of Doing Business. Beranjak dari peringkat 109 pada 2015 kemudian menjadi peringkat 91 pada 2016. ”Dengan terus melakukan Revolusi Mental dan menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata, Indonesia kelak bisa menjadi salah satu dari 40 negara yang ramah dalam melakukan bisnis pada akhir 2019,” ujar Enggartiasto.

yanto kusdiantono