Edisi 23-02-2017
Komunitas Pasar Modal Diminta Tingkatkan Volume Perdagangan


JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta komunitas investor pasar modal di seluruh Indonesia untuk dapat meningkatkan volume perdagangan.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio berharap ke depannya komunitas ini dapat membantu BEI menjaring lebih banyak investor untuk memperkuat volume perdagangan di pasar modal Indonesia. ”Ada sekitar 130 komunitas dan anggotanya berjumlah 100 hingga 300 orang. Mereka juga tersebar tidak saja di Jakarta tapi juga ke Kalimantan dan Papua,” kata Tito dalam acara ”Capital Market Community Gathering” di Jakarta kemarin.

Menurut dia, kehadiran para komunitas investor pasar modal ini sangat penting bagi BEI. Pasalnya, komunitas tersebut juga bisa menjadi perpanjangan tangan bagi BEI untuk memperluas jangkauan dalam menjaring para investor di pasar modal. ”Sekarang bagaimana agar investor saham bisa ikut, kita mempunyai network, ada perwakilan, galeri investasi dan komunitas nantinya juga bisa dikembangkan dengan teknologi,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hassyarbaini menjelaskan pihaknya tengah melakukan pembenahan untuk sistem prapenutupan di pasar saham (pre closing ). Pasalnya, pada 10 menit menjelang penutupan tersebut sering terjadi transaksi mencurigakan yang menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot.

”Untuk mekanisme baru ini direncanakan bisa terealisasi pada semester I/2017,” kata Hamdi. Lebih lanjut, dia menyatakan, BEI telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperbaiki transaksi perdagangan pada saat pre closing, di antaranya BEI akan memperlihatkan transaksi pada saat jam pre closing karena selama ini investor tidak bisa melihat pergerakan saham pada pukul 15.50- 16.00 WIB.

”Cara kedua, kami akan lakukan random closing atau mengacak waktu penutupan pasar saham. Thailand, Singapura, dan Hong Kong sudah menerapkan sistem ini,” ujarnya. Untuk langkah yang terakhir, BEI akan menghapus sistem pre closing di pasar modal. Untuk informasi, sistem tersebut baru diluncurkan pada pertengahan 2012 lalu. Sistem ini bertujuan untuk menentukan harga saham yang tercatat berdasarkan rata-rata beli dan jual pada 10 menit terakhir perdagangan harian.

heru febrianto