Edisi 21-01-2017
Skema Gross Split Dorong Efisiensi Kontraktor


JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, penerapan skema gross split akan mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas dan industri pendukungnya menjadi lebih efisien.

Skema bagi hasil baru ini juga diyakini lebih menguntungkan negara. “Gross split akan mendorong kontraktor dan industri pendukung lebih efisien. Usaha eksplorasi dan eksploitasi akan lebih cepat dan tepat sesuai tujuan penerapan skema ini,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja Puja di Jakarta kemarin.

Berdasarkan konsep gross split , bagi hasil awal untuk minyak bumi ditetapkan 57% untuk negara dan 43% kontraktor, sementara gas bumi 52% bagian negara dan 48% kontraktor.Namun, dengan skema baru ini pemerintah tak lagi harus mengembalikan biaya operasi migas yang dilakukan oleh kontraktor yang menurut dia jumlahnya rata-rata setiap tahun mencapai USD15 miliar.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya W Yudha berharap, dengan penerapan skema baru tersebut, kontraktor akan semakin berhati-hati dalam kegiatan usaha hulu migas. Sebab, seluruh risiko kini ditanggung oleh kontraktor. “Skema ini akan membuat kontraktor lebih hatihati. Karena kalau PSC (production sharing contract ), selama SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) menyetujui rugi ditanggung berdua,” paparnya.

nanang wijayanto