Edisi 27-03-2017
Potensi Pikiran Manusia yang Luar Biasa


Alkisah, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, akan menjadi apa dirinya kelak. Sang guru kemudian mengambil dua teko dan dua cangkir.

Ia kemudian menuangkan isi teko ke dalam cangkir. Segera, bau teh panas yang wangi menyeruak di ruangan itu. Sang guru bertanya, “Apa yang kau lihat dan kau cium?” Murid itu menjawab, “Wangi teh yang sangat harum, Guru.” Tak lama, kemudian ia mengambil teko kedua dan menuangkan isinya ke dalam cangkir yang lain. Tercium bau menyengat, khas ramuan obat dan jejamuan. “Sekarang, apa yang kaucium?” Murid menjawab, “Bau jamu, Guru. Aromanya sangat menyengat, bau rempahnya menusuk hidung.” Sang guru kemudian berkata, “Beginilah perumpamaan dirimu.

Akan jadi apa kelak, tergantung pada apa yang ada dalam diri kamu. Saat kamu berbuat sesuatu berdasar apa yang ada di dalam, itulah cerminan yang akan menentukan masa depanmu. Teh dan jamu samasama punya aroma yang kuat, sama-sama pula punya manfaat. Tapi, teko teh tak mungkin mengeluarkan jamu. Sebaliknya, teko jamu tak mungkin pula mengeluarkan teh. Jadi, apa yang ada dalam diri kamu, pasti sesuai dengan apa yang kamu bagikan kepada orang lain, dan itulah yang akan terjadi pada masa depanmu. Jadi, isi dirimu dengan kebaikan, maka kebaikan pulalah yang akan terjadi padamu.”

The Cup of Wisdom

Sebenarnya, apa yang terjadi pada diri kita sangat bergantung pada apa yang ada di dalam diri kita, khususnya apa yang kita pikirkan. Kita akan mengisi “cangkir” masa depan, dengan mengisi “teko” pikiran sesuai yang kita harapkan. Hal ini benar-benar saya alami, salah satunya saat saya punya impian menjadi bintang film kungfu di Hong Kong. Setiap hari, sejak mencanangkan impian, saya selalu mengisi “teko” pikiran dengan impian itu.

Mulai dengan berlatih keras untuk membentuk tubuh, makin rajin meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin, dan berbagai hal lain yang mengisi “teko” pikiran. Kemudian, saya menuangkannya ke “cangkir” untuk mewujudkan impian. Saya bercerita pada banyak orang tentang obsesi tersebut meski banyak yang menyangsikan. Saya kemudian mengirim foto dan surat lamaran ke salah satu studio film di Hong Kong. Hasilnya? Impian yang dianggap mustahil itu benar-benar jadi kenyataan. Meski akhirnya tak sejauh yang dibayangkan, setidaknya saya sudah berh a s i l mewuj u d k an impian.

Bertahun-tahun berlalu, peristiwa demi peristiwa mengisi hidup dan perjuangan yang saya jalani. Ternyata, banyak hal yang sejenis yang dialami. Saat saya berpikir, saat saya menancapkan impian, saat saya sangat menginginkan satu hal, hampir semua bisa mewujud dengan cara-cara yang hampir sama. Yakni, ketika saya memikirkan dengan sejelasjelasnya target itu sebagian kemudian saya tuangkan dalam tulisan catatan harian dan segera bertindak untuk mencapai impian tersebut, hasilnya sungguh luar biasa. Seperti kisah teko dan cangkir yang dituang, apa yang saya impikan dari dalam (pikiran), benar-benar itu pulalah yang keluar (jadi kenyataan).

“Fenomena” apa yang ada di dalam dan mewujud menjadi nyata di luar ini kemudian menjadi jelas saat saya menemukan buku The Master Key System, tulisan Charles F Haanel. Dalam bab pertama buku tersebut, ada sebuah pernyataan yang menyebut, “Dunia di luar diri kita merupakan cerminan dari dunia dalam diri kita. Apa yang tampak di luar diri kita adalah apa yang ada di dalam diri kita. Di dunia dalam diri terdapat kearifan yang tak terbatas, kekuatan yang tak terbatas, dan persediaan tak terbatas dari segala sesuatu yang penting bagi kehidupan.

Semua itu sedang menunggu untuk disingkapkan, dikembangkan, dan diekspresikan. Jika kita mengenali semua potensi yang berada di dunia dalam diri kita, semua akan terwujud pada dunia di luar diri kita. Sungguh, inilah sebuah kajian yang sangat pas untuk mengungkap apa yang terjadi di balik “fenomena” keberhasilan demi keberhasilan yang kita rasakan. Dengan pikiran yang terfokus, terpusat, dansadarsepenuhnya, kita akan mampu mengarahkan ke mana kita melangkah, ke mana kita akan menuju.

Dan, hasilnya, apa yang awalnya dianggap sebagai sebuah kemustahilan, dengan terus melangkah dan berjuang mewujudkan, suatu saat pasti akan jadi kenyataan. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengambil ungkapan yang cukup populer yang pernahdiungkapfilsufPrancis, Rene Descartes. Cogito ergo sum, “Aku berpikir, maka aku ada”. Mari, kita pikirkan apa yang mungkin kita kerjakan, dan kita kerjakan dengan kesungguhan, niscaya impian akan jadi kenyataan.

Salam sukses, luar biasa!