Edisi 23-02-2017
NARBO Dorong Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu


PURWAKARTA –Network of Asia River Basin Organization (NARBO), jaringan kerja sama antarbadan pengelola sungai (River Basin Organization/RBO) di Asia, terus mendorong upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya air secara terpadu atau Integrated Water Resources Management (IWRM).

Di Indonesia, NARBO dipercayakan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang selanjutnya mengelola Hutan Narbo melalui Perum Jasa Tirta II. Hutan Narbo menjadi wilayah strategis karena kawasannya menyatu dengan Tanggul Ubruk, Jatiluhur, sebagai bendungan terbesar di Asia.

”Hutan Narbo merupakan salah satu wujud kepedulian Narbo dan Perum Jasa Tirta II dalam menggalakkan program pemerintah saat ini yaitu Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA),” kata Djoko Saputro dalam siaran persnya saat pembukaan General Meeting Narbo ke-6 di kawasan Hutan Narbo, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, kemarin.

Dalam agenda General Meeting Narbo ke-6 yang berlangsung selama tiga hari pada Rabu-Jumat (22-24/2) di Purwakarta, Jawa Barat, dan Jakarta, salah satu agendanya adalah field visit ke Perum Jasa Tirta II di Purwakarta sekaligus mengunjungi Hutan Narbo (Narbo Forest). Hutan tersebut dibuat oleh NARBO pada 2006 lalu.

”Perum Jasa Tirta II sebagai perusahaan pengelola air mengejawantahkan kepercayaan melakukan konservasi lingkungan hutan dan air dengan mengelola Hutan Narbo sejak 2006,” ujar Djoko. Djoko menambahkan, Hutan Narbo ini wujud dari komitmen konservasi lingkungan yang dilakukan Perum Jasa Tirta II. Hutan tersebut memiliki luas enam hektare (ha), di sekitar bendungan yang luasnya mencapai 150 ha.

Dari kegiatan konservasi tersebut, ujar Djoko, manfaatnya sudah terasa dan membuat wilayah ini lebih hijau dan menjadi kawasan rekreasi. ”Area di sini dipercantik juga menjadi kawasan wisata,” imbuh Djoko. Direktur I Perum Jasa Tirta II Sumiyana Sukandar menjelaskan, tujuan Narbo adalah untuk membantu pencapaian pengelolaan sumber daya air secara terpadu.

Dengan demikian, dibentuknya Narbo adalah untuk memperkuat kapasitas dan efektivitas badan pengelola sungai dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya air secara terpadu melalui pelatihan, pertukaran informasi, dan pengalaman antaranggotanya.

”Jaringan kerja sama ini diharapkanmendorongpengelolaan sumber daya air yang lebih baik di antara masing-masing negara/anggota, dengan mengembangkan, antara lain kegiatan advokasi, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan pertukaran informasi serta alih pengetahuan lintas sektor/negara,” jelasnya.

Acara General Meeting Narbo diikuti oleh institusi pemerintah danorganisasiwilayah sungai atau River Basin Organization (RBO), baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti dari Jepang, Korea Selatan, Pilipina, Thailand, Sri Lanka, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, dan Laos.

Saat ini Narbo memiliki 72 anggota, terdiri atas 16 badan pengelola sungai, 21 lembaga pemerintah, 15 lembaga Regional Knowledge Partner, 1 lembaga Inter Regional Knowledge Partner, dan 1 lembaga Development Cooperation Agency. Adapun dari Indonesia tercatat ada 20 instansi yang tergabung dalam NARBO termasuk PT Jasa Tirta II.

yanto kusdiantono