Edisi 27-03-2017
Produsen Biodiesel AS Ikut Sudutkan RI


JAKARTA– Petisi dari koalisi National Biodiesel Board (NBB) Amerika Serikat (AS) menuding Indonesia melakukan tindakan subsidi dan dumping harga untuk biodiesel dipasarkan di AS.

Hal ini bisa mempersulit upaya gugatan Indonesia terhadap kasus sengketa biodiesel dengan Uni Eropa di sidang Badan Perdagangan Dunia (WTO). Seperti diberitakan sebelumnya, pada 29-30 Maret di markas besar WTO di Jenewa, Indonesia akan menyampaikan gugatan terkait penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas produk biodiesel Indonesia yang besar oleh Uni Eropa (UE). Namun, sepekan sebelum sidang pertama tersebut, tepatnya pada Kamis (23/3), koalisi NBB AS yang terdiri 15 produsen biodiesel AS mengeluarkan petisi berpotensi melemahkan posisi Indonesia.

Petisi yang ditujukan kepada Kementerian Perdagangan AS dan Komisi Perdagangan Internasional AS itu isinya menyebutkan Indonesia dan Argentina telah melakukan tindakan subsidi dan dumping harga untuk biodiesel yang dipasarkan di AS. Karena itu koalisi NBB meminta Pemerintah AS melakukan inisiasi tindakan antisubsidi dan antidumping dengan melakukan investigasi. Tujuan akhirnya adalah akan mengenakan tuduhan antidumping dan pengenaan bea masuk bagi biodiesel Indonesia dan Argentina dengan tarif sangat tinggi.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, dengan diterbitkannya petisi NBB seminggu sebelum pertemuan pertama Indonesia dan UE di WTO, maka sangat nyata hal itu sebagai upaya mendukung posisi UE. Sebagai informasi, saat pertemuan di WTO pada 29-30 Maret, perwakilan AS juga akan hadir dan menyampaikan pandangannya. “Tadi kami mengharapkan posisi AS akan netral di dalam WTOini. Tapi, denganadanya (petisi) ini saya ragu. Mereka seakanakan berkoalisi dalam kasus dumping Indonesia di WTO,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aprobi berpandangan upaya NBB tersebut terkait upaya proteksionisme AS guna menghalangi industri biodiesel Indonesia dan Argentina mengekspor ke negaranya. “Mereka ingin melindungi industri dalam negeri dengan cara menuduh dumping. Ini tidak fair ,” ujarnya. Menyikapi persoalan tersebut, pada hari ini semua produsen dan pengekspor biodiesel Indonesia akan melakukan rapat koordinasi. Selain itu, Aprobi juga berkoordinasi dan berkolaborasi serta mendukung langkah pemerintah guna membatalkan upaya koalisi NBB AS.

Lebih lanjut Paulus menuturkan, pangsa pasar biodiesel Indonesia di AS sebetulnya hanya 5,1%, jauh lebih kecil dibanding Argentina yang menguasai 20,3%. Berdasarkan data National Biodiesel Board Fair Trade Coalition (NBB), dalam tiga tahun terakhir (2014-2016), ekspor biodiesel Indonesia ke AS meningkat dua kali lipat, sedang- kan Argentina sepuluh kali lipat. Pada 2014 ekspor biodiesel Indonesia ke AS sebanyak 51.28 juta galon dan naik menjadi 111,27 juta galon pada 2016 (satu galon setara 3,875 liter).

Paulus mengungkapkan, saat ini AS menjadi negara tujuan ekspor biodiesel Indonesia yang terbesar. Terlebih dengan ada pengenaan bea masuk yang tinggi oleh UE. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga menambahkan, hantaman yang dialami Indonesia bisa memperkecil peluang mencapai target ekspor biodiesel tahun ini sebesar 500.000 ton.

“Kalau ini terjadi maka estimasinya tidak akan tercapai sasaran,” ujarnya seraya menambahkan pencapaian ekspor tahun 2016 sebanyak 373.500 ton dan 2015 dengan 206.000 ton.

Inda susanti