Edisi 21-04-2017
Penyaluran Kredit BRI Capai Rp653,1 Triliun


JAKARTA– PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) hingga akhir Maret 2017 menyalurkan kredit sebesar Rp653,1 triliun atau naik 16,4% dibandingkan kredit akhir Maret 2016 sebesar Rp561,1 triliun.

Kenaikan penyaluran kredit tersebut terutama didorong penyaluran kredit di sektor UMKM sebesar Rp471 triliun atau sekitar 72,1% dari keseluruhan portofolio kredit BRI. Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, kredit mikro masih memegang porsi terbesar dari seluruh segmen kredit BRI, yakni 33% atau senilai Rp216,1 triliun dari seluruh kredit yang disalurkan. Selain itu, kredit usaha rakyat (KUR) juga masih menjadi fokus perseroan, di mana selama tiga bulan pada awal tahun ini, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp14,11 triliun kepada lebih dari 763 debitur baru.

“Dari penyaluran tersebut, sekitar 30% di antaranya disalurkan ke sektor produktif,” ujar Suprajarto saat konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan Kuartal I/2017 Perseroan di Jakarta kemarin. Hingga akhir 2017, lanjut dia, perseroan menargetkan penyaluran KUR kepada sektor produktif naik 40%. “Kalau kita hitung sejak KUR skema baru diluncurkan 2015, total BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp99,7 triliun kepada 5,6 juta debitur,” ungkap dia.

Untuk kredit akhir tahun, perseroan menargetkan pertumbuhan antara 12%-14%. Dia menambahkan, perseroan hingga akhir Maret 2017 meraup laba bersih sebesar Rp6,47 triliun atau naik 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,1 triliun. Kenaikan ini didorong penyaluran kredit yang tumbuh di atas rata-rata industri dan kenaikan fee based income. Suprajarto mengatakan, pertumbuhan fee based income pada kuartal I/2017 menjadi Rp2,5 triliun atau naik 29,3% dibandingkan kuartal I/2016 senilai Rp2 triliun.

“Secara keseluruhan, fee based income berkontribusi 9,2% dari total seluruh pendapatan BRI pada kuartal I atau naik dibandingkan kuartal I/2016, di mana fee based income berkontribusi 7,8% dari total pendapatan BRI,” ucapnya. Dia mengungkapkan, Bank BRI menargetkan pencapaian laba bersih tahun ini tumbuh 3%-5% dibandingkan pencapaian pada Desember 2016. Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menambahkan, dana pihak ketiga (DPK) juga berhasil tumbuh 11% dari Rp631,7 triliun menjadi Rp701,2 triliun.

Secara komposisi, dana murah (CASA) masih mendominasi sebesar 56,63% atau naik dari 56,54% pada kuartal I/ 2016.” Pertumbuhan ini tidak lepas dari salah satu strategi BRI, yakni implementasi transaksi banking dalam rangka pemberian layanan perbankan,” ungkap dia. Adapun rasio kredit bermasalah (non-performing loan/ NPL) gross sebesar 2,16% atau turun dibandingkan NPL gross kuartal I/2016 dari 2,22%. Khusus segmen mikro, rasio NPL gross sebesar 1,35% pada akhir Maret 2017. Perseroan juga meningkatkan NPL coverage menjadi 181,55% atau naik dibandingkan NPL coverage kuartal I/ 2016 sebesar 150%.

Sementara CAR naik menjadi 20,86% dari 19,49% pada kuartal I/ 2016. “Penguatan CAR menjadikan BRI memiliki landasan kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan pada masa mendatang,” tutur dia. Selain itu, BRI mampu mencatatkan rasio return on asset (ROA) sebesar 3,34% dan return on equity (ROE) sebesar 18,77%. Sementara rasio kredit terhadap DPK (LDR) meningkat dari 88,7% pada kuartal I/2016 menjadi 92,82% pada kuartal I/2017.

Kunthi fahmar sandy