Edisi 20-02-2017
Komite Olimpiade Soroti Kemacetan di Kawasan GBK


Penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia, yakni Asian Games Jakarta-Palembang tersisa 1,5 tahun lalu. Indonesia selaku tuan rumah menggenjot kesiapan sejumlah infrastruktur pendukung seperti venue, kampung atlet, hingga transportasi.

Dalam OCA Executive Board Meeting ke-69 yang berlangsung di Hotel Grand Sapporo, Jepang, kemarin, Olimpic Councill of Asia (OCA) mengapresiasi persiapan yang dilakukan Indonesia dalam satu tahun terakhir. Namun, ada catatan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut. Komite Olimpiade Asia menyoroti masalah kemacetan lalu lintas di sekitar kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan sejumlah venuelainnya di Jakarta. OCA meminta agar masalah akses dari wisma atlet di Kemayoran menuju lokasi pertandingan bisa diatasi sebelum Asian Games dihelat pada 18 Agustus 2018 mendatang.

“OCA mengkhawatirkan kemacetan di sekitar Gelora Bung Karno maupun arus lalu lintas dari dan menuju wisma atlet di Kemayoran. Panitia penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) diminta mengatasi masalah itu secara serius,” kata Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto. Kekhawatiran OCA terkait lalu lintas ini cukup beralasan. Kota Jakarta sangat identik dengan kemacetan kendaraan, terutama di kawasan Senayan yang menjadi urat nadi Ibu Kota.

Tidak hanya Senayan, kemacetan lalu lintas yang cukup parah juga kerap terjadi di kawasan Kemayoran yang notabene menjadi perkampungan atlet Asian Games. Bukan tidak mungkin akses atlet dari dan menuju venuebakal tersendat akibat traffic jam. Untuk mengatasi masalah kemacetan, pada pertemuan rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Jakarta, 14 Februari lalu, Pemprov DKI Jakarta melontarkan wacana pengalihan jalur khusus lalu lintas dari wisma atlet Kemayoran menuju kawasan GBK dan sejumlah lokasi lain.

Sementara itu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sekaligus Ketua INASGOC ErickThohir mengatakan, peserta executive board meeting terpuaskan dengan presentasi yang disampaikan Indonesia. Tak hanya soal progres fisik, tapi juga konsep look for the gamesyang melibatkan Kementerian BUMN dan marketing the gamesdengan memanfaatkan dukungan digitalisasi teknologi. Erick menyatakan Coordination Committee Meeting keenam yang berlangsung di Palembang dan Jakarta, 5–6 Maret akan krusial karena pihak OCA akan kembali menanyakan soal cashflow.

“Soal anggaran Rp4,1 triliun untuk penyelenggaraan Asian Games 2018 merupakan angka yang masuk akal sehingga tidak jauh dibandingkan penyelenggaraan ajang serupa lainnya,” ungkap Erick.

ant