Edisi 11-01-2017
Puncak Karier


ZURICH – Claudio Ranieri berterima kasih kepada keluarga, istri, agen, pemilik dan para pemain Leicester City, serta para pemegang hak suara atas penghargaan Pelatih Terbaik FIFA 2016.

Nakhoda asal Italia itu mengalahkan Zinedine Zidane (Real Madrid), Fernando Santos (Portugal), Chris Coleman (Wales), Didier Deschamps (Prancis), Luis Enrique (Barcelona), Josep Guardiola (Bayern Muenchen/Manchester City), Juergen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Tottenham Hotspur), dan Diego Simeone (Atletico Madrid). Dia menang karena The Foxesmenjuarai Liga Primer musim lalu. “Dewa sepak bola berkata Leicester harus menang dan kami melakukannya. Ternyata, kami bisa melakukannya. Sebelumnya Dani Alves mengatakan di usia 30 tahun dia bisa melakukan banyak hal. Sekarang, saya berusia 65 tahun dan saya sedang memulai. Terima kasih atas penghargaan ini,” kata Ranieri, dilansir Daily Mail.

Bagi pelatih kelahiran Roma itu, 2016 adalah tahun yang tidak mungkin dilupakan. Pasalnya, setelah bertahun-tahun bergelut menjadi pelatih sepak bola, dia akhirnya mendapatkan trofi liga. Tidak tanggung-tanggung, piala itu dia dapatkan di Inggris, tempat kompetisi paling ketat dengan klub medioker. Dampak dari sukses bersama The Foxes, sejumlah penghargaan individu dia kantongi sepanjang 2016.

Sebut saja Pelatih Terbaik Liga Primer 2015/2016, Pelatih Terbaik Dunia versi World Soccer, Pelatih Terbaik versi Asosiasi Pelatih Liga Primer, Enzo Bearzot Award (Pelatih Terbaik Italia), Pelatih Terbaik versi La Gazzetta dello Sport, Pelatih Terbaik versi BBC Sport,Pelatih Terbaik versi ESPN, hingga Golden Foot Award sebagai legendaris sepak bola. Padahal, sebelum memilih menukangi Leicester, Ranieri terkenal sebagai pelatih yang “nyaris juara”.

Catatannya sangat panjang dalam hal gagal menjadi juara liga. Contohnya saat menukangi Atletico Madrid dan Valencia di Spanyol atau Chelsea di Inggris. Begitu pula dengan Juventus, AS Roma, dan Inter Milan di Italia. Gelar juara hanya didapatkan Ranieri dari cup competitionseperti Copa del Rey 1998/1999 bersama Valencia. Ada pula Coppa Italia 1995/1996 dengan Fiorentina. Juara liga hanya di level bawah semacam Seri C1 1988/1989 bersama Cagliari, Seri B 1993/1994 dengan Fiorentina, atau Ligue 2 2012/2013 saat menangani AS Monaco.

“Ranieri telah membuat keajaiban (di Liga Primer musim lalu bersama Leicester), Santos merealisasikan mimpi Portugal (di Piala Eropa), dan Zidane memenangkan Liga Champions. Jadi, mereka memang pantas (menjadi nominasi Pelatih Terbaik Dunia 2016),” ujar Jose Mourinho, dilansir abc.es.

Setelah terpilih menjadi Pelatih Terbaik Dunia, bukan berarti pekerjaan Ranieri telah paripurna. Dia harus mengembalikan arwah Leicester di Liga Primer musim ini. Selain itu, masih ada fase knock-outLiga Champions yang akan dia jalani.

Andri ananto