Edisi 29-03-2017
Cara Jerman Bangun Peradaban Sepak Bola


MUENCHEN– Jerman tidak terbendung dalam kualifikasi Piala Dunia 2018. Tergabung di Grup C, Der Panzer tidak tersentuh. Dari lima laga yang sudah dilewati, semuanya berhasil diakhiri dengan sempurna. Tim besutan Joachim Loew itu mantap di puncak klasemen sementara dengan 15 poin.

Kini, mereka memiliki peluang mempertahankan menjadi juara Piala Dunia seperti yang dilakukan pada 2016, karena hampir dipastikan lolos ke Rusia. Mereka juga sudah memiliki beberapa nama baru yang melanjutkan generasi emas penghasil trofi Piala Dunia. Sebut saja saja Julian Brandt, 20; Leroy Sane, 21;, Niklas Süle, 21; Joshua Kimmich, 22; Julian Weigl, 21; Benjamin Henrichs, 20; Timo Werner, 21; Max Meyer, 21, dan nama lain yang siap meledak dua tahun ke depan.

Itu level usia di bawah 23. Pada tingkat senior, talenta mereka juga tidak kurang. Di posisi penjaga gawang, misalnya, Jerman memiliki tiga penjaga gawang yang tampil di kompetisi top Eropa, yaitu Liga Champions dan berstatus sebagai pemain utama seperti Manuel Neuer di Bayern Muenchen, Marc-Andre ter Stegen pilihan utama Barcelona, dan Kevin Trapp bersama Paris Saint- Germain (PSG). Di barisan belakang dan tengah juga begitu.

Hampir semua pemain Jerman ada di kompetisi top dunia. Shkodran Mustafi (Arsenal) dan Mats Hummels (Bayern) adalah jaminan di lini belakang. Adapun di tengah disesaki pemain terbaik seperti Julian Draxler, Mesut Oezil, Toni Kroos, dan Sami Khedira. Namun, semua sukses Jerman di kancah sepak bola dunia tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan.

Der Panzer sadar, mereka bukan Brasil atau Argentina, negara-negara yang melahirkan seorang pesepak bola ajaib sekelas Pele atau Diego Maradona yang begitu tersohor. Karena itu, yang mereka lakukan adalah pembinaan. Jerman mengandalkan teknologi mutakhir dan ilmu olahraga untuk menjaga keseimbangan proses regenerasi.

Alhasil, saat ini Jerman tidak pernah putus melahirkan pemain-pemain nomor wahid. “Kami memiliki masa depan cerah dengan banyaknya pemain muda yang sangat terdidik (dalam sepak bola),” ungkap Loew, menggambarkan potensi Jerman ke depan, dilansir Sky Sport. Lalu, apa yang membuat Jerman begitu sukses? Semua tak lepas dari kehancuran timnas Jerman di Piala Eropa 2000 di Belgia dan Belanda, ketika mereka hanya mencatat hasil sekali imbang dari tiga pertandingan yang dijalani.

Imbasnya, Der Panzer menuai malu karena pulang awal dengan status penghuni dasar klasemen Grup A. Kegagalan itu membuat penyelenggara Bundesliga dan DFB (Asosiasi Sepak Bola Jerman) memerintahkan perubahan mendasar dalam akar rumput sepak bola mereka. DFB dan Bundesliga memasukkan syarat akademi pemain untuk 18 klub Bundesliga dan dua tim perwakilan dari Bundesliga 2.

Akademi ini adalah puncak sistem pembangunan pemain muda di Jerman. Selain itu, DFB telah menerapkan program pengembangan bakat dan membantu klub-klub meningkatkan kinerja pemantauan dan pengembangan. Hasilnya, sejak 2002, sekitar 60.000 anak-anak telah dikembangkan di 366 pusat dasar nasional, sementara lebih dari 650.000 pemain dibina pelatih profesional berlisensi setiap tahun, memberikan setiap anak muda berbakat di negeri ini kesempatan untuk dilihat dan dikembangkan.

Setelah pemain dipilih, akademi berusaha keras memantaunya saat di lapangan atau di luar lapangan. Selain itu, departemen medis dilengkapi dengan segala sesuatu dari fisioterapi dan kamar perawatan untuk mandi es dan sauna, kompleks juga harus mencakup fasilitas pendidikan, seperti sekolah asrama dan keluarga angkat untuk pemain asing. Hasilnya sangat luar biasa.

Generasi pertama dari program ini membuat timnas finis ketiga di Piala Dunia 2006 dan ke final di Euro 2008. Mereka juga memenangkan Piala Eropa U-21 pada Juni 2009. “Saya bisa bayangkan bahwa kami segera mengalami era Jerman di dunia sepak bola, seperti yang dilakukan Spanyol sebelumnya,” papar mantan pelatih VfB Stuttgart dan Fenerbahce tersebut.

decky irawan jasri