Edisi 24-04-2017
Para Desainer dengan Kebayanya


Mengedepankan karakter wanita Indonesia, kebaya kini menjadi tren fashion modern hingga industri mode internasional.

Tentunya, kepopuleran kebaya tidak lepas dari tangan dingin para desainer yang dengan konsisten mempertahankan dan mengembangkan kebaya. Sesuai dengan karakter masing-masing desainer, seperti Anne Avantie, Ferry Sunarto, Marga Alam, Adjie Notonegoro, Ramli, dan Raden Sirait berhasil memperkenalkan kebaya sebagai busana tradisional, mulai dari kesan klasik nan elegan hingga modern. Salah satunya karya Ferry Sunarto, yang rancangan busananya selalu menghadirkan paduan kebaya dengan sentuhan modern.

Ketika dihubungi KORAN SINDO , beberapa waktu lalu, Ferry Sunarto mengakui setiap rancangan busana yang dihasilkannya memang terinspirasi dari kebaya. Inspirasinya diambil dari pakem-pakem busana kebaya yang terlihat dari potongannya, bentuk lehernya (Jawa dan Sunda), tangannya, dan bukaan kebayanya. “Saya sangat mengagumi klasiknya, tapi kontennya berbeda. Saya tidak mau mengembangkan yang kayak gitu . Saya mau bring inspiring kebaya Indonesia to the world ,” ucap Ferry. Ia beranggapan, saat ini kebaya bukan lagi busana yang harus dilestarikan lewat model yang sama, tapi harusnya diadaptasi dengan selera internasional. Ferry mencontohkan baju tradisional China, cheongsam , berhasil menginspirasi label internasional seperti Dior dan Channel.

“Apakah saat ini mereka tetap menggunakan sulaman Tiongkok yang sebenarnya dipakai kayak dulu? Tentu tidak. Bahkan sudah dikembangkan dalam kekinian,” sambungnya. Jika diperhatikan lagi, Ferry menyebutkan, gaun pernikahan Kate Middleton di bagian leher juga terinspirasi dari kebaya. Karena itu, bukanlah mimpi kalau kebaya bisa jadi inspirasi bagi fashion dunia. “Bukan berarti baju saya yang kebaratbaratan, tentu tidak. Kami tetap gunakan payet Jawa. Kami hanya ingin inspirasi kebaya bisa sampai ke luar,” lanjutnya.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Ferry berhasil membawa inspirasi kebaya lewat rancangannya ke Jerman dan Moskow. Adapun desainer Marga Alam menyatakan ketika berhubungan dengan desain, memang perancang memiliki kebebasan untuk mendesain apa pun sesuai imajinasinya, termasuk kebaya. Namun, sebaiknya tidak terlalu banyak mengubah citra kebaya itu sendiri. Menurut dia, kebaya dengan ciri khas blus tangan panjang, dengan kancing bukaan depan itu harus tetap ada. “Ada pakem yang harus dipegang, tidak sembarangan. Misalnya kayak kebaya, pundaknya hilang sebelah, atau tidak ada lengannya, itu bukan kebaya tapi baju kostum, inspirasi kebaya,” papar Marga.

Jika dilihat dalam rancangannya, ia pun sering memodifikasi kebayanya agar terlihat lebih kekinian. Namun, tidak lepas dari pakem kebaya yang diyakininya. Kebaya bukan sekadar bicara kecantikan busana, juga mencerminkan karakter wanita yang anggun, elegan, dan bermartabat. Sayangnya lagi, meskipun kebaya sudah dikenal, masih banyak orang yang masih sulit membedakan budaya dengan gaun malam. Ia pun mengakui sering kali gaun malam rancangannya dinilai sebagai kebaya, padahal bukan. Terlebih jika menggunakan bahan brokat.

“Kebaya itu bisa menggunakan bahan apa saja sekarang, kayak katun, sifon, brokat, tapi yang namanya baju pakai bahan brokat, belum tentu kebaya. Ini banyak yang salah juga,” lanjutnya. Kalau bicara kebaya, sosok Raden Ayu Kartini sangat identik dengan kebaya. Bahkan, peringatan Hari Kartini selalu hadir dengan pawai busana kebaya. Kebaya kartini pun mengalami banyak modifikasi. Jika ingin melihat desain baju kebaya yang sesungguhnya, salah satunya bisa dilihat di film Kartini yang dibintangi Dian Satrowardoyo. Potongan lengan panjang, panjang baju sepinggang dengan kerah berlipat dan bukaan kancing depan, terlihat jelas mencerminkan kebaya kartini yang sesungguhnya.

Menunjukkan karakter wanita Indonesia yang cerdas tapi tetap anggun. “Kebaya yang digunakan memang tidak mengubah look yang seharusnya dari kebaya kartini ya. Kalau kayak penggunaan bahan rubiah dengan bintik-bintik itu, saya rasa tidak masalah selama dipadupadankan dengan kain tradisional,” sebut Marga. Pujian pun datang dari Ferry Sunarto yang mengungkapkan kebaya pada film Kartini berhasil mengakomodasi Kartini pada saat itu. Karena tentu tidak bisa memasukkan fashion kebaya kekinian dalam film.

“Mudah-mudahan kebaya ini bisa menjadi inspirasi banyak orang, mungkin bisa diganti bahan tapi siluetnya sama, bisa juga memadukan kebaya dengan sneakers misalnya,” kata Ferry.

Nurul adriyana