Edisi 11-01-2017
Kemeriahan dalam Kegamangan pada The Best FIFA Football Awards


ADAyang berbeda dalam pergelaran tahunan pemilihan pemain sepak bola terbaik sejagat. Bukan hanya namanya yang dari Ballon d’Or menjadi The Best FIFA Football Awards, melainkan juga tempat penyelenggaraannya.

Jika sebelumnya selalu menggunakan Kongresshaus yang berkapasitas 1.200 orang, kini hanya menyewa SRF Studio yang cuma bisa menampung 500 tamu. Karpet merah juga diganti dengan karpet hijau. Glamor, yang dulunya dicitacitakan Sepp Blatter, tahun ini tampaknya memudar. Semua juga tidak lepas dari putusnya kerja sama antara FIFA dan majalah asal Prancis France Football. Kongsi yang berjalan sejak enam tahun itu tiba-tiba tidak diperpanjang lagi.

“Lebih karena pertimbangan bisnis,“ kata salah satu wartawan. Tapi, semua anggapan kurang meriah itu agaknya keliru. Setidaknya di depan Gedung SRF Studio, sambutan penggemar berat sepak bola sama meriahnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Terbukti, sejak pukul 14.00 atau empat jam sebelum pergelaran dimulai, ribuan fansmemadati halaman depan Studio SRF. Suhu udara Zurich yang minus 2 derajat Celsius sama sekali tidak dirasakan. Setiap ada pemain sepak bola yang mulai menapaki karpet hijau mulai pukul 16.00 itu, teriakan gemuruh selalu terdengar.

Dari Maradona, Gabriel Batistuta, Christian Karembeu, Manuel Neuer, Dani Alves, hingga Roberto Carlos selalu disambut meriah. Namun, sambutan paling meriah muncul ketika Cristiano Ronaldo bersama ibu dan anaknya memasuki karpet hijau. “Seperti ada gempa kecil. Sungguh sulit dipercaya bagaimana antusiasnya sambutan terhadap Ronaldo ini,“ kata salah satu reporter radio dari Zurich. Namun, tetap saja kemeriahan sambutan itu tidak bisa menutupi apa yang kini melanda FIFA.

Meski masih menangguk keuntungan cukup besar, FIFA mulai khawatir dengan belum ditandatanganinya kontrak dengan dua sponsor besar, yaitu Samsung dan Qatar Airways. Keduanya belum teken kontrak untuk mendukung Piala Dunia 2026. Usulan Gianni Infantino untuk menambah peserta Piala Dunia hingga 48 tim konon menjadi masalah utama mengapa kontrak belum diteken. Kekhawatiran lain adalah meruginya FIFA Football Museum.

Sejak dibuka setahun lalu, museum yang berada di jantung Kota Zurich itu terus mengalami kerugian. Bahkan, rumor penutupan museum mulai merebak. Hanya karena sudah teken kontrak dalam jangka waktu cukup panjang, penutupan museum tersebut tidak bisa begitu saja dilaksanakan.

Laporan Kontributor Koran Sindo
Krisna Diantha
Swiss