Edisi 21-04-2017
Pyongchang 2018 Siap


PYONGCHANG– Korea Selatan (Korsel) berusaha meyakinkan dunia bahwa mereka memang sangat siap menggelar Olimpiade Musim Dingin 2018.

Mengundang wartawan, blogger, selebgram, dan travel agent, mereka seperti menunjukkan semua kelebihan PyongChang sebagai tuan rumah acara yang digelar 9-25 Februari 2018 itu. Butuh kerja keras untuk Korsel sebelum akhirnya ditunjuk menjadi tuan rumah Olimpiade musim dingin untuk kali pertama. Mereka sudah mengajukan diri sejak 2010, 2014, dan 2018. Pada 2010 Korsel bersaing dengan Vancouver (Kanada), Salzburg (Australia). Setelah unggul di pemilihan pertama, Pyongchang kemudian kalah dari Vancouver pada voting kedua.

Usaha dilanjutkan pada 2014. Korsel kembali bersaing dengan Salzburg (Australia) dan pendatang baru Sochi (Rusia). Lagi-lagi mereka kalah suara di putaran kedua dari Sochi, meski sempat unggul di pemilihan tingkat pertama. Sebelum kemudian Pyongchang mendapat status tuan rumah pada 2018 dengan menyingkirkan Munich (Jerman) dan Annecy, Prancis. Dengan usaha tanpa lelah meyakinkan dunia untuk memilih Pyongchang sebagai tuan rumah, wajar jika kemudian Korsel tak ingin mengecewakan.

Apalagi mereka memilih kawasan Pyongchang yang tidak seterkenal Seoul, Incheon, Busan, atau Jeju yang sangat fenomenal di drama Korea. Daerah ini sebagian besar penduduk hidup dari pertanian dan peternakan. Bahkan, karena keterbatasan lahan panitia menambahkan Gangneung sebagai tuan rumah untuk beberapa cabang. Daerah yang berada di Provinsi Gangwon tersebut menjadi pusat perkampungan atlet. “Kami berkomitmen menciptakan kegembiraan untuk Olimpiade dan melibatkan publik. Ini adalah saat menyenangkan bagi kami dan berharap bisa menyambut dunia untuk menemukan New Horizons di PyeongChang,” kata Presiden dan CEO PyongChang Organizing Committee Olympic Games Lee Heebeom kepada wartawan.

Lee mengatakan, Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpik Olimpiade tahun depan “meningkatkan status Korea Selatan dalam setiap aspek”. Menurut dia, Pyeongchang 2018 telah memasukkan lima isu utama, dari Olimpiade hijau rendah karbon, ramah lingkungan, kehidupan yang baik, kebanggaan pada tradisi budaya, dan memperkenalkan Pyeongchang: membuka dunia. Ambisi lain adalah meningkatkan kesadaran pada olahraga bagi anak muda.

Langkah ini dimulai dengan memberikan kesempatan pada 175 anak muda dari 44 negara menikmati olahraga musim dingin dan mereka juga diajari sejarah dan budaya Pyeongchang dan daerah sekitarnya. Pembangunan venueOlimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeong sudah memasuki tahap akhir. Setidaknya akan ada enam venue baru dan enam venueyang direnovasi. Untuk sasana olahraga baru, rata-rata sudah dalam tahap proses akhir hingga 96,3%.

Olympic Plaza yang akan menjadi lokasi pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018, saat ini sudah dalam proses pembangunan hingga 50%. Pihak penyelenggara menyatakan, pada periode September, setidaknya akan dibangun sekitar 35.000 tempat duduk sebagai untuk menampung penonton. PyeongChang tersebut memiliki dua kluster untuk mempertandingkan cabang-cabang olahraga. Kluster Gunung Pyeong Chang untuk kompetisi ski dan snowboarding.

Adapun Gangneung Coastal Cluster yang akan memainkan tiga cabang olahraga: hoki, curling, skating. Beberapa venueyang dalam proses renovasi pun sebetulnya sudah sering menggelar pertandingan bertaraf internasional sejak 1998. Fakta itu terlihat dari foto arsip yang dipublikasikan pada 2 Februari 2017. Dalam kesempatan itu tergambar Alpensia Ski Jumping Center di PyeongChang, Provinsi Gangwon. Di antaranya arena Gangock Hockey Center, Gangneung Ice Arena, Gangneung Oval, Gangleung Curling Centre, dan Kwandong Hockey Center. Selain fasilitas olahraga, pembangunan arena olahraga penting lainnya juga diprediksi selesai sesuai jadwal yang sudah dirancang sejak lama.

Pihak penyelenggara juga berharap bahwa gedung pusat penyiaran internasional akan selesai pada April. Desa-desa atlet di Pyeong Chang dan Gangneung pun akan dibangun paling lambat bulan September. Lee juga memastikan terus menyempurnakan transportasi, terutama kereta cepat, sehingga bisa membuat perjalanan ke Seoul ke Gangneung menjadi lebih cepat. Dikatakan, akan ada perjalanan 35 kali per sehari dari Seoul ke Gangneung dengan durasi hanya 1 jam. Incheon ke Gangneung pun hanya butuh waktu 90 menit dengan frekuensi 16 kali per hari.

“Kami juga sedang memperbaiki jalan ke Gangneung supaya lebih banyak orang bisa datang ke sana dengan mudah,” tambah Lee. Di luar itu semua, Lee berharap Korea Selatan mendapat hasil bagus di Olimpiade musim dingin. Jika selama ini banyak orang tahu hanya Eropa atau Amerika Utara yang kuat dalam cabang olahraga musim dingin, Korea Selatan mau memperlihatkan kepada negara lain bahwa mereka juga kompetitif.

Menjadi tuan rumah membuat banyak atlet Korsel bisa ambil bagian dalam peristiwa olahraga yang mempertandingkan 15 cabang dengan melibatkan sekitar 50.000 atlet ini. “Tidak kalah penting, kami juga mengusung tema Olympic Spirit karena pemain-pemain dari Korea Utara bisa ikut kali ini karena itu hak mereka,” ujarnya.

Ma’ruf