Edisi 29-03-2017
Sadar Properti Bagi Millennial


KAUM muda saat ini atau lazim disebut generasi millennial belum menjadikan rumah sebagai sebuah kebutuhan pokok sehingga perlunya edukasi terkait kebutuhan memiliki properti. Tak heran, beberapa tahun mendatang, mereka bakal kesulitan mendapatkan hunian yang layak.

Hasil riset dan analisis belum lama ini oleh Rumah123.com dan Karir.com yang dilakukan terhadap 8.510 responden di Jakarta menunjukkan, ratarata gaji pekerja Jakarta adalah Rp8,9 juta, sementara gaji dari kalangan generasi millen nial Jakarta berkisar pada Rp6,1 juta. Padahal, seorang pekerja membutuhkan gaji minimal Rp7,5 juta untuk dapat sebuah rumah seharga Rp300 juta. Hal ini mengandaikan pembelian secara kredit dengan uang muka 30%, bunga 10% pertahun, dan tenor 15 tahun.

Dengan penghasilan Rp7,5 juta, seorang pekerja masih memiliki kemampuan mencicil maksimal sekitar Rp2,25 juta atau 30% dari gajinya, seturut ketentuan perbankan. Nyatanya, riset ini menunjukkan hanya 17% dari generasi millennial yang memiliki gaji di atas Rp7,5 juta. Bila diasumsikan setiap tahun kenaikan gaji mencapai 10%, sementara harga properti naik 20%, pada 2021 nanti sudah tidak ada generasi millennial yang dapat membeli rumah yang saat ini masih dipasarkan dengan harga Rp300 juta di Jakarta.

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung berpendapat masyarakat yang usianya masuk dalam generasi millennial akan kesulitan membeli properti nantinya. Hal yang menjadi ancaman, menurut Untung, generasi millennial pada akhirnya hanya akan mampu menyewa tanpa bisa memiliki. “Jadi, generasi millennial juga harus sadar bisa-bisa ngontrak terus,” ujar Ignatius Untung.

Menurut Untung, sebaiknya pemerintah harus membuat regulasi terkait harga hunian dan hak kepemilikan pro perti. Karena saat ini banyak masyarakat yang masuk usia produktif kesulitan mencari properti dengan harga murah. Saat ini ada investor dan masyarakat kelas menengah atas yang bisa mem borong unit apartemen dengan harga murah. Namun, saat dijual, harganya melambung tinggi. Menurut Untung, sebaiknya pemerintah bisa membatasi kepemilikan hunian rumah dan bersubsidi.

“Harusnya itu untuk orang-orang berpenghasilan rendah,” papar Untung. Saat ini hanya 17% kaum millennial yang mampu membeli rumah di Jakarta. Persentase millennial yang mampu membeli rumah di Jakarta menurun ratarata 3,5% seiring bertambahnya tahun. Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut, membuat millennial berpenghasilan Rp 4 juta akan terancam kehilangan daya beli rumah pada 2018.

Kemampuan mencicil mereka hanya Rp1,3 juta pada 2018. Sementara cicilan KPR sudah menyentuh Rp1,33 juta per bulan. Untung mengatakan, hanya 5% properti (di Jakarta) yang bisa diakses daya beli kebanyakan generasi millennial saat ini. Diketahui, generasi millennial adalah mereka yang lahir antara tahun 1990-2000 dan diprediksi menjadi yang terbesar dari populasi di Indonesia pada 2020 mendatang.

Menurut catatan Yoris Sebastian dari OMG Consulting, pada 2020 jumlah usia produktif melonjak hingga 50%-60%. Kini jumlah usia produktif 15 hingga 35 tahun sudah mencapai 40%. Salah satu ciri khas generasi millennial adalah pribadi yang sangat melek digital. Bisa dikatakan mereka adalah pengguna terbesar media sosial. Mereka juga sangat konsumtif dan menjadi target market yang sangat potensial. Berdasarkan data yang didapat dari obrol an di Twitter yang dilakukan Provetic, rentang usia 20-24 tahun menjadi usia user terbesar (45%) dari total responden sebanyak 4.670 akun.

Dan Top Wish List dari kalangan millennial ini merupakan perilaku konsumtif untuk belanja, traveling, membeli tiket konser dan film yang menjadi prioritas. Ivan Sudjana, dosen Fakultas Psikologi UI, menyoroti generasi millennial yang sangat konsumtif serta tidak bisa dipisahkan dari kemudahan mereka untuk berbelanja. Misalnya, sistem kredit yang jauh lebih mudah dan maraknya belanja secara online.

Perilaku “ekonomi” generasi millennial , lanjut dia, sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumnya, baik generasi X atau bahkan generasi yang lebih jauh lagi. Untuk mengatasi hal ini, pengamat industri properti Alvin Andronicus mengajak kalangan pelaku industri properti di Indonesia untuk lebih aktif mengedukasi pasar properti bagi generasi millennial . Dia mengemukakan, kebanyakan generasi millennial tidak lagi menempatkan kebutuhan properti sebagai bagian dari kebutuhan pokok yang harus mendapatkan skala prioritas dalam budget keuangan mereka sehari-hari.

Setelah menerima gaji, menurut dia, yang dipikirkan adalah mau traveling ke mana, beli gadget baru apa, atau ikut tren baru apalagi. “Saat ini beberapa bank memberikan kemudahan berupa keringanan mengangsur dengan tenor sampai dengan 25 tahun. Ini merupakan investasi berisiko kecil namun sangat menguntungkan. Dalam lima tahun, kita hanya perlu membayar 20%, namun dapat dipastikan kenaikan harga dalam kurun waktu tersebut sudah lebih dari 50%,” kata Alvin.

rendra hanggara