Edisi 21-04-2017
ASI Pengaruhi Mental Anak


PEMBERIAN ASI yang maksimal bukan sebatas perkara menurunkan risiko anak terserang penyakit atau wadah bonding ibu dan anak. Lebih dari itu, ASI yang maksimal berdampak pada mental anak dan remaja.

Dalam Forum Diskusi dan Worskhop Media Infant and Young Child Feeding yang diadakan Alive & Thrive dan UNICEF Indonesia, terungkap beberapa manfaat luar biasa ASI yang selama ini belum banyak orang tahu. Seperti dipaparkan pendiri Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) dr Utami Roesli SpA yang dikenal sebagai aktivitas ASI, ASI memiliki dampak jangka panjang bukan hanya terhadap kesehatan fisik anak hingga dewasa, melainkan juga berpengaruh pada mental anak.

Ternyata bayi yang disusui lebih dari empat bulan lebih jarang mengalami gangguan perilaku. Sementara pada usia 5 tahun, bayi yang tidak diberi ASI atau tidak maksimal rentan mengalami gangguan emosional (gelisah, berbohong, mencuri, emosional) dan di usia 14 tahun nantinya rentan mengalami masalah internal, seperti menarik diri, gangguan psychosomatik , gelisah, depresi, dan gangguan cara berpikir.

“Termasuk masalah eksternal, yaitu agresif dan kenakalan remaja,” kata peraih gelar Fellow of Academic Breastfeeding Medicine (FABM) dari American Academic Breastfeeding Medicine ini. Begitu besarnya manfaat ASI, dr Utami bahkan menyarankan para ibu agar tetap memberikan ASI lewat dari 2 tahun.

Faktanya, bila ibu menyusui terus, pada saat bayi berusia 13-23 bulan, kandungan nutrisi dari 448 ml air susu ibu (ASI) meliputi 29% dari kebutuhan energi dalam sehari, 43% dari kebutuhan protein dalam sehari, 36% dari kebutuhan kalsium dalam sehari, 75% dari kebutuhan vitamin A dalam sehari, 76% dari kebutuhan folat dalam sehari, 94% dari kebutuhan vitamin B12 dalam sehari, dan 60% dari kebutuhan C dalam sehari (Dewey 2001).

Kandungan faktor imun yang terdapat dalam air susu ibu meningkat secara signifikan pada tahun kedua dan pada saat anak disapih. Itulah sebabnya anak yang menyusu lebih lama memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Anak yang menyusu lebih lama juga memiliki IQ dan nilai yang lebih tinggi di sekolah.

Hal yang mungkin belum banyak diketahui yaitu ASI tidak hanya mengandung kolostrum, tetapi juga zat antikanker atau dikenal dengan Hamlet (Human Alphalactalbumin Made Lethal to Tumor Cells ). Zat ini secara natural terdapat dalam ASI dan dapat membunuh 40 jenis sel kanker yang berbeda (International Journal of Cancer 2007 ).

Hamlet diketahui tidak akan merusak sel-sel yang sehat dan ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti sedang menyelidiki sifat antibakteri yang ada di ASI. Zat ini terdiri dari protein dan asam lemak yang ditemukan secara alami dalam ASI. Ada begitu banyak bukti yang menyatakan bahwa menyusui melindungi dua penyebab utama kematian balita (pneumonia dan diare).

Hampir separuh kejadian diare dan sepertiga infeksi saluran pernapasan dapat dicegah dengan menyusui. Perawatan rumah sakit karena kedua penyakit tersebut juga dapat dicegah. Sekitar 72% diare dan 57% infeksi saluran pernapasan tidak memerlukan rawat inap karena pemberian ASI. Terlebih, di tempat di mana penyakit menular merupakan penyebab umum kematian, menyusui memberi perlindungan utama.

Sementara itu, di negara berpendapatan tinggi, menyusui juga membantu mencegah infeksi, terutama diare, infeksi saluran pernapasan, dan radang telinga tengah (otitis media ). Sementara di semua tingkatan ekonomi, menyusui secara konsisten diasosiasikan dengan kemampuan anak dan remaja yang lebih baik pada uji kecerdasan.

Rata-rata diperoleh tiga poin peningkatan IQ, setelah memperhitungkan IQ ibu. Beberapa studi menunjukkan bahwa meningkatnya kecerdasan karena ASI menyebabkan peningkatan kemampuan akademis, penghasilan, dan produktivitas dalam jangka panjang. Adapun bagi ibu, manfaat menyusui mencakup menurunnya risiko terkena kanker payudara dan kanker indung telur. Bahkan, untuk setiap tahun seorang ibu menyusui, risiko terkena kanker payudara invansif berkurang 6%.

Menyusui yang lebih lama juga dikaitkan dengan menurunnya risiko kanker indung telur. Angka cakupan menyusui saat ini dapat mencegah hampir 20.000 kematian karena kanker payudara setiap tahunnya. Peningkatan praktik menyusui dapat mencegah penambahan 20.000 kematian ibu. Sementara itu, dr Wiyarni Pambudi SpA IBCLC menekankan tiga praktik penting pemberian ASI yang optimal. Pertama , inisiasi menyusu dini (IMD).

Di negara berkembang, IMD diperkirakan dapat mencegah satu dari lima kematian bayi setiap tahunnya. IMD dilakukan sesaat setelah bayi dilahirkan, kira-kira 5-10 menit, tali pusat dipotong, bayi dikeringkan, jangan dimandikan, lalu letakkan langsung di antara payudara ibu selama satu jam. Saat IMD, bayi hanya dipakaikan topi dan selimut.

Inilah yang membuat ibu khawatir bayi kedinginan. Sebenarnya tubuh ibu yang melahirkan memiliki termoregulator tersendiri, yakni 1 derajat lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan. Kalau saat IMD bayi merasa kedinginan, tubuh ibu akan secara otomatis naik 2 derajat. Sebaliknya, kalau bayi merasa kepanasan, tubuh ibu akan turun 2 derajat.

Kemudian, saat proses mencari puting, bayi akan menjilat tubuh ibu, dengan cara ini dia mengambil bakteri baik dari tubuh ibu untuk ususnya. Bayi juga akan tahu apakah ibunya sudah memiliki cukup oksitoksin untuk mengeluarkan ASI atau belum. Selama ibu belum cukup oksitoksin, bayi akan terus menjilati puting ibu hingga oksitoksin dalam tubuh ibu terpenuhi dan ASI siap dikeluarkan. “Begitu dia tahu ibu suasana hatinya sudah baik, baru dia akan minum ASI dari puting ibunya.

Ini (IMD) adalah hak ibu yang harus ibu minta sehabis melahirkan,” kata dr Utami. Kedua , pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Ketiga , melanjutkan pemberian ASI hingga 24 bulan atau lebih. Seiring pengenalan makanan pendamping ASI, setelah enam bulan, ASI masih memenuhi sekitar 30%-50% nutrisi yang dibutuhkan anak hingga berusia 24 bulan atau lebih.

sri noviarni