Edisi 20-02-2017
Menangani Cedera Ligamen


BANYAK macam cedera olahraga, tetapi yang paling ditakuti para atlet adalah cedera anterior cruciate ligament (ACL). Cedera ini membuat atlet tidak dapat kembali turun ke lapangan.

Operasi arthroscopy menjadi solusinya. Ya, cedera memang merupakan momok terbesar bagi atlet profesional. Sebab, apabila cedera tidak ditangani dengan benar, dapat mengakibatkan penurunan performa sang atlet, bahkan bisa menyebabkan karier mereka tamat. Dr Bobby N Nelwan SpOT dari Royal Sports Medicine Centre menjelaskan, banyak macam cedera olahraga, tetapi ACL menjadi momok terbesar bagi para atlet, mengingat ACL tidak dapat beregenerasi.

Ketika terjadi kerusakan, tubuh pun tidak dapat memperbaikinya secara alami. Cedera ACL bisa berupa putus atau robek yang menyebabkan sendi lutut menjadi tidak stabil. Cedera ACL akan menyebabkan orang yang mengalami bisa merasakan nyeri secara tiba-tiba, bengkak, terdengar bunyi berderak dari lutut yang cedera, sendi terasa longgar, dan selalu merasa nyeri tiap kali mengangkat beban. Untuk mengembalikan keadaan lutut, arthroscopy pun menjadi solusinya.

Beda dengan prosedur konvensional yang dilakukan tindakan pembedahan, arthroscopy merupakan prosedur minimal invansif yang hanya membutuhkan sayatan kecil (1-2 cm) untuk memasukan instrumen khusus dan kamera berukuran sebesar pensil. Melalui alat tersebut, kita dapat melihat seluruh struktur sendi sehingga masalah dalam sendi dapat didiagnosis dan diterapi dengan baik. Sebagian besar pasien pasca tindakan arthroscopy mengalami nyeri minimal dibandingkan pascatindakan bedah terbuka karena itu hanya memerlukan rawat inap 1-2 hari.

“Proses penyembuhan sekitar enam bulan sampai pasien dapat kembali aktif,” kata I Gusti Made Febry Siswanto MD, spesialis ortopedi dari Royal Sports Medicine Centre, dalam jumpa pers Tiga Tahun Royal Sports Medicine Centre, Selasa (14/2). Pascaoperasi dimulai program penyembuhan jaringan. Pada dua minggu pertama, pasien akan merasa luka telah sembuh, lutut tidak lagi goyang, dan dapat berjalan. “Tapi butuh waktu minimal tiga bulan untuk jaringan yang dipasang tersebut menyatu dengan tubuh. Tiga bulan berikutnya (program) untuk stabilitas tubuh dan bisa back to the sport ,” ungkap sport injuries and arthroscopy surgeon ini.

Setelah enam bulan, dipantau kembali kondisi pasien. Sampai akhirnya pasien dapat back to the game . “Jadi, bedakan back to the sport dengan back to the game ,” katanya. Setidaknya untuk prosedur arthroscopy ini, pusat medis tersebut memiliki kontrak selama satu tahun dengan pasien. Jadi, pasien yang cedera dapat kembali ke kondisi awal. Ini tentunya lebih efisien ketimbang klub harus merekrut pemain/atlet baru. Dibanding arthroscopy , operasi konvensional akan merusak jaringan sehat. Dampaknya, pascaoperasi akan timbul nyeri yang akhirnya menghambat proses fisioterapi.

Tidak dimungkiri, tiga bulan pertama usai operasi adalah fase paling berbahaya. Dokter tidak akan memberi beban latihan yang melebihi kekuatan jaringan baru tersebut. Otomatis otot akan mengecil. Bulan ke 6-7 pasien baru akan dilatih fleksibilitas dan sebagainya. “Dalam enam bulan pasien juga akan dikenalkan latihan seperti beban kaki,” kata dr Zaini K Saragih SpKO dari Royal Sports Medicine Centre. Menurut dr Zaini, cedera ligamen cenderung dianggap enteng.

“Karena 1-2 minggu setelahnya atlet bisa lari kembali dan badan terasa segar. Memang untuk berlari pada permukaan rata atau lurus tak ada masalah. Tapi kalau harus berputar (twist ) pada saat lari baru timbul masalah,” tutur dr Zaini. Dia melanjutkan, di bawah lutut ada bantalan sendi yang lama-lama akan robek dan tulang rawan jadi menipis

Sri noviarni