Edisi 11-01-2017
Keluhan yang Paling Sering Dilayangkan Konsumen Properti


Berdasarkan data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), konsumen properti ternyata termasuk yang paling sering mengeluhkan produk yang mereka beli.

Dari tahun ke tahun pengaduan yang dilaporkan ke YLKI juga terus bertambah, mulai dari 121 kasus pada 2013, 157 kasus pada 2014, dan 160 pada tahun 2015. Menurut Cornel B Juniarto, senior konsultan hukum dari firma Hermawan Juniarto, kondisi ini terus terjadi karena konsumen properti di Indonesia memang tidak dilindungi oleh payung hukum yang jelas.

Akibatnya, banyak pengembang properti yang tidak bertanggung jawab dalam menuntaskan proyeknya. “Kalau diperhatikan, memang banyak pengembang yang mencetak brosur promosi dengan iming-iming menggoda. Mulai spesifikasi bangunan, fasilitas hunian, hingga hal-hal yang menggiurkan lainnya.

Namun, biasanya juga dibubuhi disclaimer di pojok brosur yang menyatakan pengembang lepas tanggung jawab jika produk yang diiklankan tidak sesuai kenyataan,” kata Cornel. Di Indonesia, salah satu fasilitas yang saat ini bisa diandalkan untuk mengetahu sepak terjang developer yakni Review Properti.

“Konsumen dapat memanfaatkan ulasan terlengkap ini. Bahkan, review ini juga menyediakan perbandingan proyek yang satu dengan yang lain,’’ ujar Country Manager Rumah.com Wasudewan. Berikut adalah beberapa keluhan yang paling sering dilayangkan konsumen yang dihimpun berdasarkan data dari YLKI. Pertama, spesifikasi bangunan tidak sesuai.

Dalam kasus ini, pengembang kerap lalai menepati janji yang sebelumnya disepakati atau tercantum di brosur promosi. Perbedaan spesifikasi bangunan seperti luas ukuran tanah merupakan kelalaian yang bisa berakibat fatal. Selain itu, pengembang juga sering memanfaatkan kelemahan konsumen yang tidak paham dengan kualitas bahan material.

Dengan demikian, mereka bisa saja memilih material berkualitas rendah atau bahkan mengganti material berbeda dengan yang terdapat di brosur. Kedua, fasilitas umum tidak sesuai. Selain spesifikasi, pembangunan fasilitas umum yang ada di lingkungan perumahan atau apartemen yang tercantum di brosur juga kerap diabaikan pengembang.

Padahal, banyak konsumen yang mempertimbangkan fasilitas hunian sebagai bagian dari penunjang gaya hidup. Salah satu contohnya, fasilitas kolam renang dan jogging track yang menjadi fasilitas andalan hunian vertikal. Bagi kaum urban yang peduli gaya hidup sehat, kedua fasilitas ini menjadi pertimbangan utama yang menjadi acuan membeli properti.

Pengembang juga kerap menundanunda pembangunan fasilitas umum, bahkan hingga proyek bangunan selesai dan proses serah terima unit dilakukan. Untuk mencegah kasus yang sama terulang, konsumen bisa membuat perjanjian tertulis yang sah secara hukum ketika melakukan proses jual beli.

Ketiga, terlambat serah terima unit. Beberapa pengembang kerap mengandalkan pemasukan dari konsumen sebelum menggarap proyeknya. Jika pembeli belum banyak, proses pembangunan akan tertunda sementara waktu. Ini adalah masalah yang kerap ditemui di seluruh kelas developer, mulai dari pengembang baru sampai pengembang kelas kakap

anton c