Edisi 24-04-2017
Perempuan Sumut Semakin Bersinar


MEDAN– Warga Sumatera Utara (Sumut), terutama kaum perempuan patut berbangga dengan torehan prestasi tingkat nasional yang diraih perempuan Sumut. Prestasi ini dapat menginspirasi kaum Hawa lainnya untuk maju dalam berkehidupan.

Ketiga Kartini modern asal Sumut yang berprestasi itu yakni Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Prof Darmayanti Lubis; Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat Evi Novida Ginting Manik serta Wakil Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan. Prof Darmayanti Lubis dalam suatu kesempatan berdialog dengan KORAN SINDO MEDAN menjelaskan, dirinya sama sekali tidak mengira dapat menempati posisi sebagai pimpinan DPD mewakili unsur kewilayahan Sumatera sekaligus gender.

Sebagai pimpinan DPD membawa konsekwensi logis yang harus diterimanya. Selain beban tanggung jawab tugas semakin berat, kepeduliannya kini bukan hanya terhadap konstituen dan daerahnya saja yang diwakili, tetapi semakin luas seluruh Indonesia. “Saat menjadi anggota DPD, ya mungkin saya konsentrasi bagaimana menyerap aspirasi, menyampaikan dan mengajak pemerintah agar peduli pada suara daerah dan konstituen saya. Tapi sekarang lingkup tanggung jawab semakin besar, semakin luas. Saya harus semakin tahu apa yang terjadi di Indonesia ini,” sebutnya.

Dari sisi tanggung jawab, menjadi risiko pekerjaan yang harus dihadapinya dan amanah harus dijaga hingga berakhir masa tugas 2019, nanti. Sebagai putri asal Sumut, Darmayanti bersyukur dipercaya menjadi wakil ketua DPD. Lewat jabatan penting ini, kata dia, sebenarnya ingin menunjukkan kepada provinsi lainnya bahwa ada anak daerah asal Sumut, terutama perempuan yang berkualitas untuk menempati jabatan lembaga tinggi negara. Perempuan kelahiran Binjai, 6 Mei 1951 ini melihat lewat jabatan yang disandang saat ini dapat menstimulus perempuan Sumut lainnya agar berprestasi di bidang apa saja, tidak harus di dunia politik.

“Saya mendorong teman-teman perempuan lainnya di Sumut, mari meningkatkan kapasitas kita sebagai perempuan dalam bidang apa saja. Guru, karyawati, PNS, politisi, atau bidang lainnya agar terus meningkatkan kapasitas, jangan lekas puas dengan apa yang sudah didapat hari ini. Teruslah berprestasi,” ujarnya. Jabatan penting dan bergensi lainnya yang ditempati perempuan Sumut yakni komisioner KPU pusat. Adalah Evi Novida Ginting Manik yang mampu meyakinkan anggota Komisi II DPR untuk memilihnya saat uji kelayakan dan kepatutan menjadi anggota KPU pusat. Evi satu-satunya komisioner perempuan di KPU pusat.

Rekam jejaknya di KPU tak perlu lagi diragukan. Menjadi penyelenggara pemilu dilakoni sejak menjadi anggota KPU Medan 2004 dan meningkat menjadi anggota KPU Provinsi Sumut. Kunci sukses untuk meraih karir tersebut ternyata didasari kemauannya untuk menjaga integritas dan independensi sebagai penyelenggara pemilu . “Untuk mencapai itu semua tentu perlu dilakukan dari awal sejak berkarier sebagai penyelenggara pemilu. Saya mulai berkarier dari tingkat kota, lalu ke provinsi baru kemudian ke pusat. Dalam proses ini yang perlu dilakukan adalah menjaga integritas dan independensi, profesional dalam bekerja,” ujar Evi, Sabtu (22/4).

Perempuan penggemar renang dan bersepeda ini melanjutkan, dengan kemauan, kemampuan dan keinginan untuk terus mempertahankan integritas dan independensi tadi berbuah seperti apa yang diraihnya saat ini. “Integritas teruji dan harus bisa dijaga, Insya Allah siapapun akan bisa meraih apa yang diinginkannya,” ujar alumni Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik USU ini. Dijelaskan Evi, menjadi perempuan yang maju tentunya harus dimulai dari diri sendiri dengan menjaga integritas. Meski diakui Evi, dirinya bukanlah makhluk yang sempurna, tentu sebagai manusia pasti pernah silap dan lainnya.

“Tapi orang akan melihat niat kita untuk terus melakukan perbaikan diri, dan yang paling penting adalah antara perbuatan dan perkataan harus sejalan, bukan menjauhkan perkataan dan perbuatan,” sebut perempuan penggemar film berjudulMy Name Is Khan ini. Di sisi lain, sebagai penyelenggara pemilu, tentu juga harus menunjukkan komitmen yang tidak bisa diintervensi oleh kepentingan luar dan harus sesuai dengan konsep aturan yang ada. Begitu pun, kata Evi, kesuksesan dirinya karena Sang Pencipta yang berkehendak. Bahkan saat ini Allah SWT memberikan ujian kepadanya dengan menjadi Komisioner KPU pusat.

“Apakah ujian itu bisa kita lewati? Tentunya dengan lindungan dan petunjuk dari Allah jugalah, serta doa orang tua dan suami, dukungan kelurga dan semua pihak yang mengenal saya sehingga saya bisa seperti ini.Semua rahasia dari Allah yang paling tahu, di sinilah kita mensyukuri nikmat dariNya,” ujar Evi. Disinggung apa yang harus dilakukan perempuan untuk bisa maju seperti dirinya, Evi menyebutkan perempuan itu memerlukan pendidikan. Ini juga yang digaungkan oleh RA Kartini pada masa lampau.

Perempuan harus mengenyam pendidikan untuk dapat membuka cakrawala sebagai pintu masuk keberhasilan. Pendidikan tidak harus selalu formal, pendidikan non formal pun sama pentingnya. Lewat pendidikan, maka perempuan mampu menjadi mandiri. Setidaknya mandiri atau merdeka dalam berpikir dan berpendapat sehingga tidak lagi ditindas dan dibodohi. ”Perempuan dapat menjadi tulang punggung tidak hanya bagi dirinya tapi juga keluarga dan dapat melindungi diri dan anaknya. Itu yang terpenting, dengan pendidikan perempuan bisa mandiri dan bersaing,” jelasnya.

Perempuan saat ini tidak perlu lagi meminta diberikan keistimewaan ataupun kuota. Namun harus dapat berpikir mempersiapkan diri menghadapi tantangan ke depan. Evi berharap dirinya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan Sumut lainnya untuk meningkatkan kapasitas dan berprestasi. Saat ini bukan hanya persoalan representatif perempuan di lembaga-lembaga negara, tapi bagaimana perempuan punya kemampuan. Perempuan asal Sumut lainnya yang berprestasi di tingkat nasional yakni Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan. Komitmennya terhadap pemberantasan korupsi jangan diragukan lagi. Begitu juga kecintaannya terhadap Sumut.

Dia sangat memperhatikan agar tak ada lagi kepala daerah tersandung kasus korupsi. Tak heran perempuan kelahiran Kota Pematangsiantar, 20 Desember 1957 ini rela bolakbalik ke Medan untuk terus mengingatkan seluruh kepala daerah jangan mengulangi kesalahan yang sudah dilakukan dua gubernur sebelumnya. “Sumut ini merupakan salah satu provinsi yang menjadi atensi KPK sejak 2016. Apalagi di sini gubernurnya sudah dua kali mengalami hal yang sama yakni tindak pidana korupsi. Jangan sampai tiga kali, cukup dua kali saja,” ujar Basaria Panjaitan di Aula Martabe Kantor Gubernur Sumut, awal April lalu.

Basaria dalam kesampatan lainnya menghadiri HUT Ke-3 Saya, Perempuan Anti Korupsi (SPAK) di Jakarta mengajak para perempuan Indonesia untuk ikut memberantas korupsi. Dia mengatakan, RA Kartini telah berjuang dalam bidang pendidikan.Saat ini, Kartini modern harus ikut berjuang memberantas korupsi.

Lia anggia nasution/ vitrianda siregar