Edisi 24-04-2017
Siswa pun Memberi Inspirasi bagi Sukarelawan


Program mengajar sehari, Kelas Inspirasi, ternyata tidak hanya memberikan manfaat bagi para siswa agar lebih termotivasi untuk bercita-cita dan berani bermimpi.

Program di sekolah dasar (SD) itu juga ternyata turut memberikan motivasi bagi para sukarelawan pengajar. Seperti yang diungkapkan Julia Damanik, 23, penulis yang berkesempatan mengisi Kelas Inspirasi di SD Negeri 068009 Medan beberapa waktu lalu. Kelas Inspirasi itu justru memberikannya motivasi baru karena dia sangat terkesan dengan para siswa yang antusias belajar. Setiap hal yang dia sampaikan saat di kelas mendapat respons baik dari para siswa berseragam putih merah itu. Semangat para siswa itu pulalah yang membuat lulusan jurusan Pendidikan Fisika di UMN Al- Washliyah itu merasa lebih peduli pada anak-anak dan lebih termotivasi untuk membagikan ilmunya.

Dia juga semakin mencintai profesinya saat ini dan ingin menghasilkan lebih banyak cerpen dan puisi. “Melihat siswa aktif membuat kita juga terdorong harus lebih kreatif dalam menyampaikannya. Saya merasa mereka sangat pintar-pintar. Itu terlihat dari puisi-puisi yang mereka buat, banyak menarik perhatian saya,” kata Julia. Dengan berbagi inspirasi kepada siswa di SD, dia bisa langsung melihat kondisi para siswa yang tetap semangat bersekolah walaupun masih banyak kondisi ekonomi keluarganya lemah.

Mereka inilah yang dinilai lebih perlu terus dimotivasi agar memiliki cita-cita yang tinggi meskipun. Mereka perlu mengetahui, tidak semua sukarelawan pengajar yang mengisi Kelas Inspirasi itu sukses dengan cara instan. Justru banyak di antara mereka yang berhasil berkat kegigihannya dalam belajar. Kondisi perekonomian yang kurang beruntung tidak menjadi kendala untuk sukses meraih cita-cita. “Karena itu, kita ceritakan pengalaman kita, dari berbagai profesi dan latar belakang yang berbeda-beda. Tapi, semua butuh keseriusan dalam belajar. Itulah yang kita sampaikan kepada anakanak saat Kelas Inspirasi,” kata Julia.

Pengalamannya baru-baru ini pun membuat Julia berkeinginan untuk ikut lagi menjadi sukarelawan pengajar dalam Kelas Inspirasi berikutnya. Dia ingin terus berkontribusi memberikan motivasi bagi generasi bangsa, begitu juga sebaliknya, untuk mendapatkan pemahaman baru dan motivasi baru untuk terus belajar. Tidak jarang dari pengalaman yang dia peroleh bisa menjadi ide dalam penulisan puisi dan cerpen-cerpennya. Sementara Dyna Fransisca, pegawai PT PLN (Persero) yang mengisi materi Kelas Inspirasi di SDN 060972 Simalingkar, mengatakan, ada semangat baru dan kepuasan tersendiri kala memberikan inspirasi kepada siswa SD di daerah pinggiran.

Mereka kurang mampu berkomunikasi dibandingkan dengan siswa-siswa SD yang tinggal di kawasan perkotaan meskipun lokasi sekolah juga tidak jauh dari pusat Kota Medan. “Rata-rata siswa SD yang ada di sekolah itu cita-citanya jika tidak polisi, TNI, presiden, dan guru saja. Masih banyak yang belum mereka ketahui meskipun berada di pinggiran Kota Medan,” kata perempuan yang lahir di Palembang, 24 Desember 1992 ini. Para siswa di sekolah-sekolah pinggiran itu juga belajar dengan kondisi fasilitas yang masih jauh dari harapan. Siswa-siswa itu juga dari keluarga dengan kondisi perekonomian yang kurang mampu. Semua itu membuat hatinya tergerak untuk menyemangati para siswa belajar lebih baik dan berani memiliki cita-cita tinggi.

“Mereka memiliki semangat, tetapi tidak didukung oleh ekonomi orang tuanya. Mereka tidak mengetahui tentang profesi dokter, akuntan, dan lainnya. Semoga kehadiran kami di sana bisa memberikan semangat dan motivasi baru bagi anak-anak itu,” ungkap dia. Dyna ternyata sudah mulai melakukan kegiatan-kegiatan sosial sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Hanya, yang dapat dia berikan kala itu masih sebatas mengajar pada adik-adik kelasnya. Karena itu, berbagi cerita dan pengalaman kepada siswa-siswa SD menjadi pengalaman berharga buat dia.

Dia pun berkeinginan untuk melakukan lebih banyak aktivitas sosial untuk membantu orang-orang tidak mampu dan yang membutuhkan. Setidaknya, jika tidak memberikan bantuan atau pertolongan pada sesama dalam bentuk materi, dia bisa mencurahkan tenaga dan pikirannya. “Jika tenaga dan pikiran pun tidak bisa diberikan, setidaknya kita tidak membuat orang bertambah susah. Itulah pedomanku sejak masih di bangku SMA hingga kini. Memandang ke atas itu harus agar kita punya semangat, tetapi jika melihat ke bawah, tidak boleh sombong. Walaupun kini aku sudah bekerja sebagai pegawai PLN, kegiatan ini akan selalu aku lakukan supaya bisa berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” kata dia.

Camat Medan Amplas Zulfakhri Ahmadi juga pernah ikut menjadi sukarelawan pada Kelas Inspirasi di SD Negeri 067245, Kecamatan Medan Selayang pada 2014. Saat itu dia masih menjabat sebagai camat Medan Selayang. Lulusan dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Bandung pada 2000 itu mengakui tertarik berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi karena ingin berbagi pengalaman dengan para siswa SD. “Alhamdulillah, saat saya bercerita tentang perjalanan karier, mereka sangat tertarik. Banyak di antara mereka yang bertanya dan ingin menjadi camat. Di situlah kita memberikan masukan kalau mau sukses harus rajin untuk belajar,” ujar ayah tiga anak itu.

Dia juga menceritakan kondisi semasa masih menjadi siswa SD dulu, yang tidak jauh berbeda dengan kondisi siswa saat ini. Lakilaki kelahiran 12 Juli 1971 itu mengakui, dilihat dari kelengkapan fasilitas sekolah saat ini masih lebih lengkap dari sekolahnya dulu. Kekurangan itu tidak boleh membuat siswa menjadi tidak bersemangat untuk belajar. Dia mengajak para siswa memiliki kegigihan agar semakin dimudahkan meraih apa yang dicitacitakan.

“Saya saat itu berbagai cerita kepada para siswa bahwa kondisi mereka saat ini sudah lebih beruntung dibandingkan zaman kami dulu. Jadi, mereka juga harus didorong terus agar lebih bersemangat dan sukses lagi,” pungkas dia.

Irwan Siregar/ Frans Marbun
Medan